Ekspor Sumut Alami Tren Kenaikan

Aris Rinaldi Nasution
Kali Dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Kinerja pertumbuhan ekonomi Sumut yang sempat terjebak dalam resesi ternyata tidak dibarengi dengan ekspor Sumut ke negara lain yang justru trennya mengalami kenaikan. Secara nominal (nilai FOB dalam US Dolar) kinerja ekspor Sumut dalam 5 tahun belakangan ini cenderung naik. Meskipun secara kuantitas (dalam satuan ton) berfluktuasi ringan.

Berbeda halnya dengan impor Sumut, yang justru baik dalam satuan nominal (CIF dalam US Dolar), maupun dalam satuan ton justru mengalami penurunan. 


Penurunan kinerja impor terjadi sejak tahun 2019 hingga hari ini. Meskipun belakangan di tahun 2021 trennya kembali mengalami peningkatan. Hal ini membuat Sumut mampu mencatatkan surplus neraca perdagangan.


Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin menjelaskan, sawit, karet dan sejumlah komoditas Sumut berikut merupakan produk olahannya masih menjadi salah satu penggerak industri di Sumut yang menyumbang lebih dari 95 persen ekspor wilayah Sumut. 


Apalagi, Sumut belakangan ini juga sangat diuntungkan dengan membaiknya kinerja harga CPO yang memicu kenaikan penjualan atau ekspor ke negara lain.


"Ekspor jelas menunjukan perbaikan dan menjadi kabar baik bagi Sumut. Namun jika ekspor Sumut dalam 3 tahun tetap berkinerja baik, namun mengapa kinerja ekonomi Sumut justru sempat terpapar resesi selama pandemic covid 19 kemarin?. Dari hasil pengamatan saya, impor yang turun justru lebih menggambarkan bagaimana ekonomi Sumut berputar," jelasnya, Senin (15/11/2021). 


Pada paparan BPS Sumut, kontribusi impor bahan baku/penolong memberikan peran diatas 80 persen. Hal itu berarti Sumut membutuhkan sejumlah bahan baku untuk memutar roda perekonomiannya. 


Dan penurunan impor Sumut ini juga tercermin dari kinerja pertumbuhan ekonomi Sumut yang walaupun tetap tumbuh namun sempat melambat, bahkan sempat resesi sebelumnya.


"Jadi kita bisa berkesimpulan bahwa, impor Sumut memiliki peran besar dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Sumut. Saya melihat bahwa bahan baku/penolong menjadi indikator bagaimana aktifitas bisnis maupun manufaktur di wilayah ini. Jadi impor yang turun ternyata tidak lantas menjadi kabar baik bagi Sumut," ungkap Gunawan.


Menurutnya, semakin besar impor bahan baku/penolong Sumut, maka sejatinya kita bisa berharap bahwa geliat ekonomi di Sumut semakin baik. Walau demikian kita tidak lantas seharusnya bergantung dengan impor.


Perlu upaya untuk memangkas ketergantungan impor tersebut. Dan yang menjadi catatan penting adalah, jika Sumut ingin memacu kesejahteraan serta neraca dagang tetap di surplus di wilayah ini.


"Maka itu ekspor harus terus digenjot, impor bahan baku harus dikurangi, namun persiapkan bahan baku dari wilayah ini secara mandiri, sehingga ekonomi yang berputar menghasilkan output yang maksimal. Output ini bisa berupa penyerapan tenaga kerja, pemulihan pendapatan masyarakat dan daya beli yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat di wilayah Sumut," ujarnya.


Lebih lanjut dikatakannya, ekspor yang dihasilkan dari output industri di wilayah ini seharusnya bisa di diversifikasi. Jangan itu-itu saja, seperti yang paling dominan adalah minyak nabati atau karet dan olahan karet. 


"Ada produk turunan yang lainnya yang terus dikembangkan. Tidak mudah, tetapi secara konseptual begitulah cara mempertahankan neraca perdagangan Sumut yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat nantinya," pungkasnya. (IK

Share:
Komentar

APAKABAR TV

Berita Terkini