|

Prabowo Minta Pendukungnya Doakan Petugas KPPS dengan Melakukan Salat Gaib

Kali Dibaca
Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) membatu warga memasukkan surat suara kedalam kotak suara saat pemungutan suara ulang di TPS 8, Winong, Karangjati, Wonosegoro, Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu, 27 April 2019.Foto: ANTARA
Mediaapakabar.com - Calon presiden Prabowo Subianto mengajak para pendukungnya mendirikan salat gaib pada salat Jumat besok, 17 Mei 2019. Tujuannya, kata dia, yakni mendoakan para petugas yang meninggal dalam Pemilihan Umum 2019.

"Saya menganjurkan kepada saudara-saudaraku yang beragama Islam marilah kita pada kesempatan salat Jumat yang akan datang melakukan salat gaib untuk arwah mereka-mereka yang meninggal," kata Prabowo melalui video berdurasi tujuh menit 50 detik yang dibagikan tim medianya pada Kamis dini hari, 16 Mei 2019.

Melansir Tempo.co, Prabowo juga mempersilakan pendukungnya yang beragama lain untuk mendoakan para petugas yang meninggal itu dengan cara masing-masing. Dia berkeyakinan, para petugas meninggal yang beragama Islam mati syahid lantaran melaksanakan tugas demi bangsa dan negara.

Lebih lanjut, Prabowo juga mengajak agar masyarakat mendoakan para petugas Pemilu 2019 yang masih terbaring sakit. Dia berharap mereka segera pulih, dapat menjalani Ramadan serta merayakan Idul Fitri nantinya bersama keluarga.

"Kita harus memandang mereka sebagai saudara-saudara kita sekalian yang tidak akan kita lupakan, tidak akan kita tinggalkan dalam kesedihan dan penderitaan sendiri," ucap Ketua Umum Partai Gerindra ini.

Prabowo lagi-lagi juga menyoroti banyaknya petugas Pemilu 2019 yang menjadi korban meninggal. Dia menyebut para petugas itu meninggal dalam kondisi yang penuh tanda tanya. "Para dokter, para ahli kesehatan, para pakar mengatakan bahwa sangat kecil kemungkinan orang itu bisa meninggal karena kecapekan dan kelelahan," ujar Prabowo.

Per Sabtu pekan lalu, 5 Mei 2019, total korban meninggal sebanyak 554 orang yang berasal dari unsur Komisi Pemilihan Umum atau petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara, Panitia Pengawas Pemilu, dan Kepolisian.

Prabowo melanjutkan, di antara para korban itu ada yang berusia 19 tahun, 21 tahun, dan 30 tahun. Dia berujar tak mungkin orang-orang dalam usia tersebut meninggal karena kelelahan. Prabowo lantas kembali menyerukan agar pemerintah mengotopsi para korban.

Perihal petugas pemilu yang meninggal ini, sejumlah elemen belakangan menyerukan agar kematian mereka tak dipolitisasi. Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi, Titi Anggraini, mengimbau peristiwa meninggalnya para petugas tak dilihat dalam kaca mata bias politik.

"Jangan mempolitisasi isu ini karena kepentingan atau bias politik. Lihatlah peristiwa atau kejadian ini dari multidimensi, multidisiplin dari sisi beban pemilunya, dari sisi latar belakang kesehatan petugas," kata Titi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 11 Mei 2019. (AS)
Komentar

Berita Terkini