JPPR Sumut Menilai Bila Jelang Pemilu Harus Diberdayakan Akal Sehat

| Senin, 14 Januari 2019 | 13.48 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Manejer Pemantau JPPR Sumut, Samsul Halim Ritonga 
Mediaapakabar.com-Manager Pemantauan JPPR Sumut menyikapi dan menelisik proses pemilu Bullying yang menjadi santapan lezat bagi seseorang untuk kepentingan diri dan mainan dalam menghakimi seseorang atau lembaga. 

Demikian Samsul Halim Ritonga, selaku Menejer Pemantauan JPPR Sumut dalam tulisan yang disampaikan pada redaksi mediaapakabar.com di Medan, Senin (14/1/2019).


Dalam tulisannya itu, ia menuangkan, mau dibilang apa bila fikiran dan akal yang mahal ini tidak diberdayakan sama sekali. " Lihatlah berapa banyak konten negatif yang bergentayangan di media sosial," katanya. 

Ada yang membuat mimik gambar,tulisan atau bahkan video. Mungkin tidak banyak yang membuat video sebab untuk satu ini butuh kreatifitas lebih. " Mari kita lihat isu kepemiluan yang dibuat oleh orang-orang "nakal" ini," imbuhnya. 



Pertama, "Orang gila diajak Nyoblos"

Orang yang membuat konten ini yang gila atau sedang ingin menjadi orang gila,bisa saja. Tidak bisakah sedikit saja bertanya pada penyelenggara, peserta pemilu atau bertanya pada lembaga pemantau pemilu yang meluangkan lebih waktunya untuk memantau tahapan penyelenggaraan.

" Saya bisa memastikan mereka akan memberi pencerahan tentang pertanyaan "gila" itu.," ucapnya.  

Jika memang orang gila yang berkeliaran di jalanan itu yang didata, mungkin KPPS akan minta upah lebih pada negara untuk menyuap pemilih gila itu dengan permen atau mainan anak-anak agar mereka tidak buat onar. 

" Kan mana mungkin petugas TPS bermain petak umpet di kotak pencoblosan," tanyanya. 

Kedua,"(K)otak Kardus"

Dalam tulisan tersebut ia juga menjelaskan tentang kotak kardus. Apakah Penyelenggara Pemilu dalam hal ini KPU akan menyambangi toko sembako untuk mengumpulkannya dan disimpan untuk digunakan pada saat tiba pemungutan suara. 

Seperti (kontraktor) rumah mengemas pakaiannya untuk pindah ke kontrakan baru. " Mudah-mudahan asumsi ini tidak pernah ada difikiran mereka yang jadi korban si pembully itu," pintanya. 

Kalau tentang ini mungkin sangat teknis,pemantau bisa saja kurang mengerti banyak tentang kardus. 
Yang pasti mereka tidak akan sibuk mengumpulkan kardus dan menghibahkannya pada KPU.

Ketiga,"7 (tujuh) kontainer surat suara tercoblos" 

Dalam poin ketiga tulisannya, adalah terlucu dan terdungu diantara semua. Daftar Pemilih Tetapnya (DPT) saja belum selesai, tiba saja surat suaranya sudah ada plus tercoblos pula. 

" Ini lelucon yang sangat menjengkelkan. Mengapa tidak sekalian buat Hoax yang membuat masyarakat tersenyum lebar," jelasnya. 

Menurutnya, dengan membuat berita bohong bahwa telah ditemukan Surat suara didatangkan dari luar negeri oleh Kampret melalui udara pada malam hari atau ditemukan jutaan surat suara tercecer bergambar Cebong yang sedang berdansa. " Pasti akan lebih lucu kali bukan?," tukasnya. (zih)



Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI