Penjelasan Ilmiah Kasus Wanita Alami Kerusakan Otak Usai Mengkonsumsi 1 Liter Kecap

| Jumat, 28 Desember 2018 | 13.45 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Ilustrasi kecap
Mediaapakabar.com - Pada Senin (3/12/2018), sebuah channel medis dari YouTube, Chubbyemu, mengunggah sebuah video yang menjelaskan kasus seorang wanita Amerika berusia 39 tahun yang mengalami kerusakan otak permanen setelah mengonsumsi kecap.

Bukan sedikit kecap, ia mengonsumsi 1 liter kecap, seperti dilansir dari iflscience.com pada Selasa (11/12/2018).

Padahal seperti yang kita tahu kecap mengandung 5,493 mg natrium per 100 gram.

Sementara 1 liter kecap mengandung lebih dari 1.200 gram, yang artinya pasien telah mengonsumsi sekitar 66 gram natrium.

Melansir Intisari.Grid.id, menurut kasus kematian yang berhubungan dengan garam, orang dewasa dapat meninggal setelah menelan setidaknya 25 gram sodium.

Pasien wanita yang mengidentifikasi sebagai ‘CG’ mengaku lebih sering meminum kecap daripada minum air.

Tak lama, dia pun kehilangan kemampuannya untuk berbicara dengan jelas lalu kehilangan kesadaran.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, jantung CG sempat berhenti berdetak, tetapi dia sadar kembali.

Di rumah sakit, dokter memeriksa tubuhnya dan menemukan bahwa otak pasien mengeluarkan begitu banyak air sehingga mereka tidak lagi berfungsi.

Melihat kasus di atas, bahayakah kecap untuk kesehatan kita?

Jangan panik dulu. Kasus di atas termasuk kasus ekstrim di mana pasien memang mengonsumsi kecap dengan jumlah yang sangat banyak.

Jangan panik dulu. Kasus di atas termasuk kasus ekstrim di mana pasien memang mengonsumsi kecap dengan jumlah yang sangat banyak.

Sejatinya, beberapa orang di dunia hanya sedikit mengonsumsi kecap dan hanya sesekali menggunakannya.

Misal ketika makan sushi atau makanan berkuah.

Biar Anda tidak salah, begini beberapa fakta kecap.

Ilustrasi kecap.
kompas.com
Ilustrasi kecap.
Bagaimana kecap dibuat?
Dilansir dari health.com pada Rabu (12/12/2018), ada berbagai cara untuk membuat kecap, tetapi secara tradisional, kecap disiapkan dengan kedelai, gandum, garam, dan agen fermentasi (jamur atau ragi).

Kemudian dibiarkan berfermentasi selama delapan bulan atau lebih, dan dipasteurisasi sebelum dibotolkan.

Metode yang lebih cepat dan lebih murah untuk membuat kecap — yang mungkin diberi label sebagai protein kedelai terhidrolisis — umumnya lebih digerakkan oleh bahan kimia.

Mereka mungkin menggunakan aditif untuk meningkatkan warna dan rasa, dan beberapa produk kecap ditemukan mengandung senyawa yang tidak diinginkan, termasuk karsinogen yang dikenal.
Namun untuk bahan kimia, beberapa penelitian pada hewan telah mengkaitkannya dengan tumor, ketidaksuburan, dan kerusakan ginjal.

Kecap asin, seperti makanan fermentasi lainnya, juga mengandung sejumlah histamin yang signifikan, yang dapat memperburuk kondisi seperti rosacea.

Terlalu banyak histamin juga dapat memicu gejala seperti sakit kepala, pusing, gatal, ruam, dan masalah pencernaan.

Jika Anda sensitif atau alergi terhadap gluten, gandum, atau kedelai, maka kecap benar-benar terlarang untuk Anda.

Bagaimana rasanya?

Meskipun kecap tradisional rendah kalori dan karbohidrat (dengan kurang dari 10 kalori dan 1 gram karbohidrat per sendok makan), rasanya sangat tinggi pada natrium.

Satu sendok makan mengandung lebih dari 900 mg, yang lebih dari sepertiga dari batas harian maksimum yang disarankan untuk orang dewasa yang sehat (2300 mg).

Jika tubuh Anda sensitif terhadap natrium, lonjakan natrium dapat memicu retensi air, yang dapat menyebabkan kembung atau sedikit bengkak di sekitar tangan dan kaki.

Tapi kecap juga memiliki beberapa manfaat kesehatan

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa karena difermentasi, kecap dapat membantu mendukung pertumbuhan bakteri menguntungkan di saluran pencernaan, termasuk Lactobacillus bulgaricus, yang dapat meningkatkan kesehatan pencernaan dan kekebalan.

Menariknya, konsumsi kecap juga dikaitkan dengan membantu orang yang menderita alergi musiman.

Jadi, kecap tidak selalu membahayakan tubuh kita yah. Asal kita tidak berlebihan mengonsumsinya.


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI