Catatan Bencana 2021: 3.092 Peristiwa, 665 Meninggal, 8 Juta Mengungsi

Aris Rinaldi Nasution
Kali Dibaca
Ket Foto : Ilustrasi bencana alam. (INT)

Mediaapakabar.com
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 3.092 bencana terjadi sepanjang 2021. Sebanyak 665 orang meninggal dunia dan 95 orang hilang.

BNPB turut mencatat belasan ribu orang mengalami luka-luka dan jutaan orang terpaksa harus mengungsi imbas bencana yang menerjang daerahnya.


"Total bencana tahun 2021 sebanyak 3.092. Dampak bencana alam periode 1 Januari- 31 Desember, 665 meninggal dunia, 95 hilang, 14.116 luka luka, 8.426.609 mengungsi," kata Sekretaris Utama BNPB, Lilik Kurniawan dalam Kaleidoskop Bencana Indonesia tahun 2021, dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (31/12/2021).


Bencana yang terjadi sepanjang 2021 juga menyebabkan kerugian materi. BNPB mencatat 142.179 rumah rusak diterjang bencana. Rinciannya, 19.163 rumah rusak berat, 25.369 rusak sedang dan 97.647 rusak berat.


Sebanyak 3.704 fasilitas umum juga ikut rusak. Fasum yang rusak meliputi 2.498 fasilitas pendidikan, 1.847 fasilitas peribadatan, dan 359 fasilitas kesehatan.


Lilik berkata, bencana adalah peristiwa yang berulang. Artinya, jika pernah terjadi di masa lalu, maka pasti akan kembali terjadi di masa depan.


"Literasi bencana sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat, khususnya kejadian bencana besar yang pernah terjadi di masa lalu," ucap dia.


Selain itu, ia juga mengatakan tata ruang berbasis mitigasi risiko bencana sangat penting dalam perencanaan pembangunan di daerah. Pihaknya berharap jangan lagi ada perubahan fungsi lahan di hulu untuk permukiman atau kegiatan lain yang mengubah bentang lahan secara masif.


Berdasarkan kesimpulan BNPB, degradasi lingkungan di hulu dan sepanjang aliran sungai secara gradual yang menurunkan daya dukung lingkungan secara keseluruhan.


"Mempertahankan kawasan lingkungan dan ekosistem sangat penting dalam mengurangi potensi banjir khususnya di DAS panjang yang perbedaan elevasi hulu-hilir nya rendah," jelas dia.


"Restorasi ekosistem menjadi jawaban untuk solusi jangka panjang bencana hidrometeorologi basah," imbuhnya. (CNNI/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini