Varian Baru Covid-19, Strategi Investasi Wajib Berubah

Aris Rinaldi Nasution
Kali Dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Indeks bursa saham pada akhir pekan kemarin mengalami penurunan kinerja yang buruk. Bukan hanya di Indonesia, tetapi setiap negara di belahan dunia yang lain juga mengalami nasib yang serupa. Kekuatiran munculnya Omicron (varian baru Covid-19) membuat pelaku pasar kuatir dengan potensi kemungkinan memburuknya kinerja pasar keuangan global.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, pasar saham menjadi salah satu yang paling menderita. Dimana kemunculan Omicron telah membuat kinerja pasar keuangan global terpuruk cukup dalam. Respon dari beberapa negara yang melakukan lockdown menjadi awal bahwa akan ada banyak kinerja perusahaan yang kembali mengalami penurunan.

 

"Saya menilai investor di pasar saham akan kembali selektif dalam memilih sahamnya. Sektor farmasi, rumah sakit, maupun saham yang memiliki hubungan kuat dengan dunia kesehatan berpeluang untuk kembali mengalami kenaikan. Jadi pelaku pasar akan kembali masuk ke sektor-sektor tersebut seiring dengan memburuknya kondisi ekonomi global akibat kemunculan Omicron," katanya di Medan, Senin, 29 November 2021.


Gunawan menjelaskan, bisa saja indeks bursa saham dunia tanpa terkecuali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang untuk mengalami koreksi. Akan tetapi disisi lain, sejumlah saham tertentu tetap akan berpeluang mencetak keuntungan. 


Jadi investor akan beralih fokusnya ke saham-saham yang berpotensi memberikan keuntungan tersebut. Salah satunya adalah sektor kesehatan dan sektor lain yang berhubungan baik langsung atau tidak langsung.

 

Selain saham, investor akan melihat juga kinerja mata uang sebagai acuan selanjutnya di pasar keuangan. Sejauh ini, kinerja mata uang Rupiah mengalami tekanan seiring kekuatiran investor saat kemunculan Omicron. 


Disisi lain, US Dollar juga berpeluang untuk mengalami penguatan seiring meningkatnya laju tekanan inflasi ditambah dengan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan, dan kebijakan pengurangan pembelian aset oleh pemerintah AS (tapering).

 

"Pasar keuangan global berpeluang untuk mengalami guncangan jika penyebaran Omicron terus memburuk dan mengakibatkan tindakan pengamanan wilayah di banyak negara. Hal ini berpeluang menjadi kabar buruk bagi siapapun. Jadi mata uang menjadi fokus kita selanjutnya untuk melihat perubahan yang mungkin memberikan dampak ataupun pukulan bagi kinerja aset yang lainnya," jelasnya.

 

Lebih lanjut, di pasar domestik, pelemahan Rupiah akan lebih dikaitkan dengan kenaikan resiko memburuknya sejumlah instrumen investasi. Walaupun sejak pandemi Covid-19 berlangsung, Rupiah sempat melemah di atas 16 ribu per US Dollar, tetapi Rupiah mampu berbalik menguat. Namun, Omicron telah menciptakan ketidakseimbangan baru. Apa saja mungkin terjadi nantinya. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini