Tarif Gas Meroket, Eropa Hadapi Krisis Energi

Aris Rinaldi Nasution
Kali Dibaca
Ket Foto : Negara-negara di Eropa menghadapi krisis energi jelang musim dingin, mengingat kenaikan harga gas alam cair terjadi sejak musim panas. Ilustrasi. (AFP PHOTO/Kena Betancur).

Mediaapakabar.comMenjelang musim dingin, Eropa mulai kekhawatiran akan ketersediaan energi. Pasalnya, tarif energi seperti gas alam, di benua biru itu saat ini sudah semakin mahal.

Harga grosir gas alam mencatatkan kenaikan tertinggi di Inggris, Prancis, Spanyol, Jerman, dan Italia. Tagihan listrik untuk rumah tangga dan bisnis bahkan sudah membumbung tinggi.


Tarif listrik yang mahal masih berpotensi naik sepanjang musim dingin karena memerlukan banyak bahan bakar untuk mengaktifkan listrik dan sistem pemanas.


"Kami telah melihat harga yang semakin meningkat. Ini semakin mengkhawatirkan karena kebutuhan energi akan semakin tinggi di musim dingin," ungkap Dimitri Vergne, kepala Tim Energi di The European Consumer Organization, dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (24/9/2021).


Membangun kembali persediaan energi sangatlah sulit. Apalagi, ekonomi telah bangkit dari pandemi covid-19 dan tumbuh tinggi untuk liquified natural gas (LNG) di China.


Meskipun, Russia turut memasok sebagian kecil gas alam ke pasar sebelum pandemi. Namun, sumber energi lainnya kurang memadai. Dengan cuaca musim panas yang sedikit angin untuk membangkitkan tenaga surya, negara-negara lain juga membuang persediaan batu bara untuk menangkal krisis iklim.


Spanyol telah mengumumkan tindakan darurat untuk memangkas tagihan energi, sementara Prancis merencanakan membuat pembayaran satu kali sebesar EU€100 atau Rp1,6 juta (kurs Rp16.730 per euro) untuk 6 juta masyarakat dengan pendapatan rendah.


Tim Perdana Menteri Inggris Boris Johnson justru memperdebatkan kelanjutan bantuan yang akan diberikan kepada masyarakatnya. Walaupun harga konsumsi di Inggris masih terkendali, namun itu justru dapat membuat perusahaan kecil energi gulung tikar.


Menurut UK Steel, pengrajin besi di Inggris bahkan harus menunda operasionalnya. Perusahaan pupuk di Norwegia juga harus memotong produksi amonia di Eropa sekitar 40 persen karena mahalnya harga gas.


"Saat ini, sangat tidak menguntungkan memproduksi amonia di Eropa," terang CEO Yara Svein Tore Holsether.


Diperkirakan, dibutuhkan US$900 untuk memproduksi satu ton metrik amonia yang hanya bisa dijual seharga US$600. Sementara, perusahaan akan bergantung pada energi yang datang dari pemasok lainnya. (CNNI/MC)

Share:
Komentar

APAKABAR TV

Berita Terkini