|

Psikolog : Cegah Incest,Imbau Orang Tua Beri Perhatian Penuh dan Batasan Yang Tegas

Kali Dibaca
Psikolog Dra. Irna Minauli
Mediaapakabar.com-Incest atau hubungan seks sedarah khususnya di kalangan saudara kandung secara statistik jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan hubungan seks antara ayah dengan anak. Akan tetapi kasus ini seringkali tertutupi karena dianggap hubungan yang tabo.

Menurut pandangan Psikolog Dra. Irna Minauli, berdasarkan penelitian sebelumnya sering menggambarkan bahwa mereka yang melakukan hubungan seks antar saudara kandung memiliki beberapa karakteristik. Yaitu seperti berasal dari keluarga besar yang minimal pengawasan dari orangtua atau secara tidak sengaja anak-anak terpapar atau melihat dengan hubungan seks yang dilakukan orang tuanya sendiri.

“Akan tetapi, pada era internet seperti ini tampaknya mudahnya mengakses pornografi cukup memicu kejadian incest ini,” katanya pada wartawan di Medan, Sabtu (6/7/2019).

Ditambahkan Irna, kejadian incest juga banyak terjadi ketika kedekatan antara saudara kandung melampaui batas sehingga ungkapan kasih sayang berubah menjadi birahi. Orangtua atau anggota keluarga lain sering tidak menyadari adanya penyimpangan ini terlebih ketika mereka tidak memberi batasan yang tegas antara perilaku antara anak laki-laki dan anak perempuan.

“Misalnya pembatasan tempat tidur atau bagian tubuh mana saja yang boleh dipegang atau disentuh,” ungkapnya.

Pada perilaku incest yang tidak berdasarkan persetujuan, sambung Irna seringkali menimbulkan trauma yang mendalam.

“Beberapa kasus yang pernah saya tangani memperlihatkan bahwa bahkan sampai korban mencapai masa dewasa dan sudah menikah pun mereka masih dihantui oleh perbuatan saudara kandungnya itu. Korban juga sering memendam kemarahan pada orangtuanya yang dianggap tidak cukup peka untuk mencegah perbuatan incest tersebut. Padahal, kejadian tersebut sering berulang dan bahkan dimulai ketika mereka masih kanak-kanak,” jelasnya.

Akan tetapi, lanjutnya pada kasus dimana hubungan incest terjadi tanpa adanya paksaan dan bahkan seolah mereka saling jatuh cinta menunjukkan adanya distorsi atau penyimpangan dalam perilaku mereka. Hal ini disebabkan karena sebenarnya secara alami, Allah telah mendesain hubungan antar saudara kandung dan itu dapat terhindar dari incest. Hal ini terbukti dalam suatu eksperimen dimana kelompok remaja dengan saudara kandungnya.

“Remaja putra kemudian melepaskan pakaian yang sudah dipakainya dan kemudian secara acak remaja putri disuruh mencium bau tubuh yang ada di kaus-kaus tersebut. Mereka disuruh menilai mana bau tubuh yang mereka sukai dan yang tidak disukai. Hasilnya menunjukkan bahwa para remaja putri tersebut menilai bahwa bau badan saudara laki-lakinya jauh lebih bau tidak menyenangkan dibandingkan dengan bau tubuh remaja putra lain yang bukan saudara kandungnya. Hal ini membuktikan bahwa alam menciptakan kita untuk tidak memiliki keterangsangan pada saudara kandung,” ujar wanita berhijab ini.

Nah, lanjut Irna, untuk perilaku incest, ditambahkannya pada umumnya memiliki pola yang sama dengan perilaku pedophilia dimana mereka mendekati korban secara halus, secara bermain-main yang kemudian meningkat dengan meyakinkan korban bahwa sentuhan tersebut adalah normal dan merupakan bentuk kasih sayang.

“Ketika kedekatan dan kepercayaan telah terbentuk maka korban pun mulai merasa nyaman dan menganggap hal itu sebagai hal yang normal. Kasus incest banyak terjadi pada mereka yang kesepian dan korban menjalankan peran dan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan istrinya, seperti melayani makanan hingga memijat,” tukasnya. 

(abi)
Komentar

Berita Terkini