Soroti Aksi Demo, Aktivis HAM Minta Agar Taat Hukum Jangan Anarkis

Media Apakabar.com
Selasa, 02 September 2025 - 17:18
kali dibaca
Aktivis HAM Robertus. (foto : dok)

Mediaapakabar.com
- Aktivis HAM senior, Robertus Robet menyoroti serangkaian aksi demo dan unjuk rasa di berbagai daerah yang berujung pada tindakan anarkis.

Terlebih tak sedikit aksi demo berujung pada aksi perusakan fasilitas umum dan penjarahan yang tentu merugikan masyarakat karena harus ada biaya lagi untuk melakukan perbaikan.

Robet menuturkan bahwa aksi demonstrasi yang belakangan ini dilatari oleh resultante pelbagai faktor sosial, ekonomi, dan politik. 

" Dipicu oleh kemarahan rakyat terhadap kultur elitisme politisi yang dianggap tidak peka dan memandang rendah kesusahan rakyat," tuturnya pada wartawan, Senin (01/09/2025).

Menurut dia, setiap aksi mencerminkan representasi dari berbagai tuntutan sosial di dalam masyarakat. Dalam kajian ilmiah, mesti dilihat dalam kerangka struktural. Selama ini dalam tradisi protes di Indonesia, gerakan mahasiswa selalu yang paling kuat mengambil tempat.

" Namun, dalam negara demokratis perlu dijaga agar aksi protes mengambil bentuk dan artikulasi yang juga etis secara demokratis yakni: mengedepankan otonomi, substansi yang deliberatif dan rasional serta mengandalkan retorika yang sehat," imbuhnya.

Dirinya yang juga sosiolog dari UNJ itu meminta agar massa bisa lebih cerdas dan menahan diri ketika ada provokator yang berusaha mengajak rusuh saat demo berlangsung.

Sebab, dia meyakini massa pada intinya hanya ingin menyuarakan keluh kesahnya kepada pemerintah dan dicarikan solusinya.

Dia menyebut tindakan-tindakan anarkis selalu dilakukan oleh para provokator yang ingin memperkeruh situasi di lapangan. 

" Oleh karena itu, gerakan mahasiswa dan civil society mesti juga memastikan agar aksi selalu mengambil jalan dan metode damai tanpa kekerasan, retorika yang substantif dan rasional," sebutnya. 

Dia menyebut hal itu memberikan ciri dan identitas gerakan civil society dengan perusuh. " Juga perlu ada kesadaran bahwa Indonesia tidak boleh jatuh ke dalam krisis. Karena apabila terjadi krisis, rakyat kecil akan menjadi pihak yang paling menderita," jelasnya.

Selain itu, dia meminta kepada para aparat juga bisa lebih humanis dalam menghadapi massa yang ada di lapangan. Hal tersebut supaya menghindari tindakan kekerasan yang berujung ricuh.

" Jalan humanis dan dialogis mesti selalu dikedepankan untuk mengindari kekerasan. Kanal komunikasi perlu dibuka juga untuk menghindari kebuntuan 

misalnya dengan melakukan dialog di kampus, debat di legislatif dan musyawarah antar aktor di pendopo pemerintahan," tandasnya. (MC/Red)


Share:
Komentar

Berita Terkini