|
Follow Us :

Berpuasa Tanpa Hoax

Kali Dibaca





Mediaapakabar.com-Alhamdulillah, kita telah berada di Bulan Ramadhan 1441 H. Tanpa terasa cepatnya waktu berlalu. Ramadhan telah tiba kembali.


Rasa syukur umat menyambut kedatangannya semoga Allah SWT mendatangkan rahmat dan ampunan-Nya kepada kita semua.
Setiap tahun ummat Islam menyambut dengan gembira datangnya bulan Ramadhan. Tapi tahun ini lebih 200 negara dunia yang ada umat Islamnya mengalami goncangan sosiogis dan ekonomis.
Beribadah ke masjid antara mengikuti sunnah, menjalankan anjuran ulama dan umaro. Semua itu harus kita jalani dengan arif dan bijaksana.
Bagi yang tidak mampu ke Masjid karena usia dan riwayat kesehatan jadikan rumah sebagai Pusat Ibadah kita bersama keluarga.
Satu hal yang kita sama-sama sepakat, meski virus corona menghantui kita, beribadah kepada Allah jangan kita tinggalkan. Berempati kepada sesama untuk bergotong-royong, tolong menolong harus kita tingkatkan.
Dalam hal berkomunikasi dan menyikapi informasi juga hendaklah arif. Mari kita jadikan bulan Ramadhan ini untuk senantiasa berkomunikasi baik, mengelola informasi cerdas, tidak terlibat apalagi terperangkap hoax.
Sesungguhnya Islam sudah mengajarkan bahwa setiap orang tidak diperbolehkan berbuat sesuatu yang dapat merugikan orang lain. Apalagi saat ini bulan Ramadhan.
KH Yasin Asymuni dalam kitab Risalatus Shiyam menjelaskan tentang beberapa perbuatan di bulan Ramadhan yang Allah SWT benci, di antaranya berdusta (al-kidzb), bertutur kata buruk (al-fakhsy).
Pada konteks ini tentu termasuk menyebarkan hoax di media sosial.
Karenanya hindarilah bertutur kata buruk di bulan Ramadhan. Tidak ada manfaatnya membuat atau menyebarkan hoax di bulan Ramadhan.
Sebab untuk apa melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sambil melakukan perbuatan yang Allah benci ?Artinya di bulan Ramadhan ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki perilaku kita dan membuang perilaku buruk kita.
Para Ulama berulang mengingatkan, bahwa Allah membenci perilaku hoax, baik memproduksi maupun menyebarkannya.
Segeralah memohon ampun berulang kali kepada Allah SWT sebagai langkah sikap yang mengiringi setiap perbuatan hoax yang terlanjur telah dilakukan.
Karena jika tidak diikuti dengan permohonan ampun (istighfar) maka secara otomatis sang pelaku sulit menjauh dari sifat bohong, menggunjing, konflik dan perdebatan yang tidak ada manfaatnya.
Semoga Allah SWT menghentikan musibah ini dengan kuasa-NYA sambil umat manusia berikhtiar untuk mencegahnya. Selamat berpuasa tanpa terlibat hoax. (Penulis adalah ketua SMSI Sumut)
Komentar

Berita Terkini