![]() |
| Doc.apkabar |
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumut, Wiwiek Sisto Widayat mengatakan bahwa ekonomi tidak hanya berfokus pada industri besar saja. Pihaknya mendapat laporan kalau lahan pertanian di Binjai cukup besar dan menghasilkan produk organik.
"Mengubah pola pikir atau kebiasaan dari pupuk kimia ke organik, butuh proses untuk kita berharap dengan ahlinya, bapak Nugroho yang kita minta berikan edukasi kepada kelompok tani bisa berbuah hasil," ujarnya, Jumat (20/9/2019).
Sementara itu, untuk kandang komunal sendiri diberikan dengan harapan para petani bisa menggarap padi organik juga punya ternak sapi.
"Petani yang memiliki sapi, selama ini sapinya masih terpisah, terpencar di rumah penduduk. Kami berpikir kalau seperti itu pasti sulit dalam meningkatkan produksi kompos dari kotoran dan urin sapi. Kalau disatukan dalam satu kandang, maka lebih mudah dan jumlahnya meningkat," katanya.
Kawasan ini, lanjutnya dilengkapi dengan rumah pengolahan pupuk sehingga pengetahuan petani akan lebih baik dan tentunya hasil dari pengelolaan ini bernilai ekonomis yang tinggi.
Menanggapi hal ini, Walikota Binjai Muhammad Idaham mengapresiasi BI, pihaknya mengaku siap menjadikan Kelurahan Tanah Merah ini sebagai kawasan wisata terintegrasi, agrowisata organik.
"Infrastruktur atau akses kemari mulai kami perbaiki untuk mendukung target ini. Saat ini sudah kita mulai pengerjaannya," katanya.
Pada kesempatan itu ditandatangani nota kesepahaman antara Bank Indonesia dengan Kelompok Harapan Tani dan penandatanganan prasasti peresmian program Sosial BI.
Selanjutnya Walikota Binjai dan Kepala BI Sumut melakukan pengguntingan pita menandai berfungsinya kandang komunal. (abi)
