Omicron Ancam Kesejahteraan Petani Sawit

Aris Rinaldi Nasution
Kamis, 02 Desember 2021 - 18:22
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Harga TBS atau sawit yang belakangan mengalami kenaikan menjadi kabar baik bagi para petani perkebunan di wilayah Sumatera Utara (Sumut). Nilai tukar petaninya jauh diatas basis perhitungan dasar (100), bahkan melebihi rata-rata NTP Sumut di level 123,21. 

NTP untuk petani rakyat sendiri sebelumnya saat dirilis BPS bulan kemarin berada di level 153,83 (naik sekitar 3.7 persen dari posisi sebelumnya).


Pengawat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, kinerja NTP yang sangat baik tersebut mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat Sumut juga membaik. Bahkan, tingkat kesejahteraan petani perkebunan Sumut berada di atas semua petani lainnya. 


Pemicunya adalah harga CPO yang meroket hingga mencapai 5.000-an ringgit per ton sebelumnya menjadi pemicu kenaikan NTP petani perkebunan di Sumut.


Namun, bagaimana kondisi kedepannya? "Sayangnya kabar baik tersebut ternyata tidak bertahan lama. Harga CPO sejak minggu terakhir di bulan November sampai saat ini terus mengalami penurunan. CPO yang sempat mencapai 5.000 ringgit Malaysia per tonnya, kini harga CPO berada dikisaran angka 4.680-an ringgit per tonnya," kata Gunawan di Medan, Kamis (2/12/21).


Dia menjelaskan, trennya anjlok terus, seiring dengan penurunan harga minyak dunia yang belakangan juga mengalami penurunan yang sangat tajam. Penurunan harga komoditas energi dunia tersebut lebih dikarenakan ekspektasi pemulihan yang tersendat sejak kehadiran varian Covid-19 baru,yakni  Omicron.


"Penurunan harga komoditas tersebut  menyeret harga komoditas lainnya termasuk CPO. Ini kabar yang kurang baik bagi petani Sumut kita. Sedari awal petani memang seharusnya bijak dalam mengalokasikan anggaran dari kenaikan harga CPO tersebut. Khususnya buat perawatan tanaman sawit," jelasnya.


Lebih lanjut, hal yang berbeda justru ditunjukan oleh pesaing CPO, yakni kacang kedelai. Harga kedelai justru mengalami tren naik. Dalam kurun waktu yang bersamaan, harga kedelai  global justru saat ini dijual dikisaran angka $1.475 per metric ton. Padahal diakhir November kemarin, harga CPO dan kedelai itu tidak jauh berbeda. Selisihnya sekitar $80-an.


Namun, sekarang selisih harga keduanya dalam US Dolar itu mencapai $150-an lebih. Sangat berbeda dari pergerakan sebelumnya, dimana saat harga kedelai dunia mengalami kenaikan. Maka harga CPO juga naik. 


Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Tren kenaikan harga komoditas pangan di sejumlah negara besar, yang dicerminkan dengan kinerja inflasi, ternyata tidak memberikan andil besar bagi kenaikan harga CPO.


"Saya berkesimpulan, CPO di pasar global lebih banyak diperuntukan sebagai bahan bio diesel ketimbang diolah menjadi bahan makanan. Itulah kenapa harga CPO belakangan ini justru lebih cenderung mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia ketimbang harga komoditas subtitusinya. Ini yang memicu terjadinya penurunan harga CPO," ujarnya.


Diakuinya, petani menjadi pihak yang juga akan dirugikan akibat penurunan tersebut. Tetapi dengan mengacu kepada harga CPO yang saat ini masih bertengger di kisaran 4.600-an, NTP Petani perkebunan tetap diatas. Bahkan, dengan NTP sebesar itu, petani kelapa sawit masih yang paling sejahtera. Namun petani sawit seharusnya tahu ancaman Omicron yang mulai memicu kekuatiran global. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini