Platform Jual Beli Mobil Baru dan Bekas

Platform Jual Beli Mobil Baru dan Bekas

Demi Bangkitkan Yen dari Keterpurukan, Jepang Guyur Rp 671,48 Triliun

Aris Rinaldi Nasution
Selasa, 01 November 2022 - 08:44
kali dibaca
Ket Foto : Demi Bangkitkan Yen dari Keterpurukan, Jepang Guyur Rp 671,48 Triliun. 

Mediaapakabar.com
Kementerian Keuangan Jepang menghabiskan US$43 miliar atau setara Rp671,48 triliun (asumsi kurs Rp15.616 per dolar AS) untuk meningkatkan nilai tukar yen terhadap dolar AS sepanjang 29 September hingga 27 Oktober 2022.

Dilansir dari AFP pada Senin (31/10/2022), pemerintah menggunakan dana tersebut untuk operasi valas.


Yen Jepang turun ke posisi 151 per dolar AS pada Oktober 2022. Angka ini merupakan yang terendah sejak 1990.


Penurunan yen ini seiring dengan tindakan bank sentral Jepang (BoJ) yang tak kunjung menaikkan suku bunga acuan. Padahal, bank sentral AS (The Fed) secara progresif telah melakukan hal tersebut.


Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda pun menyebut sampai saat ini, pihaknya belum berniat untuk menaikkan suku bunga.


Di sisi lain, Kuroda dan Menteri Keuangan Shunichi Suzuki telah berulang kali bersumpah akan mengambil tindakan tegas terhadap pelemahan nilai tukar yen.


Upaya intervensi pun diklaim cukup berhasil. Ia mengklaim yen sedikit menguat dalam beberapa hari terakhir.


Selain karena intervensi pemerintah, penguatan yen juga terjadi karena investor memperkirakan The Fed akan segera meredam kenaikan suku bunga.


Kepala strategi Rakuten Securities Masayuki Kubota mengatakan selama BoJ masih tidak mau mengerek suku bunga, penguatan yen hanya terjadi untuk sementera saja.


"Intervensi tidak dapat menghentikan depresiasi yen, tetapi jika fundamentalnya, yakni kesenjangan antara suku bunga Jepang dan AS, berubah, penurunan yen akan berhenti," katanya.


Sementara itu, ekonom dan ahli strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia Carol Kong mengatakan pemerintah Jepang memang memiliki dana yang besar untuk melakukan intervensi nilai tukar yen. Menurutnya, Jepang memiliki lebih dari US$1 triliun di pundi-pundi forex. (AFP/CNNI)

Share:
Komentar

Berita Terkini