Bank Dunia Peringatkan Bencana Manusia dari Krisis Pangan Imbas Perang Rusia-Ukraina

Aris Rinaldi Nasution
Jumat, 22 April 2022 - 12:31
kali dibaca
Ket Foto : Presiden Bank Dunia David Malpass mengatakan, dunia menghadapi bencana manusia dari krisis pangan akibat perang Rusia-Ukraina. (Reuters)

Mediaapakabar.com
Presiden Bank Dunia David Malpass mengatakan, dunia menghadapi bencana manusia dari krisis pangan yang diakibatkan oleh invasi Rusia ke Ukraina. Dia menuturkan, jika krisis berlanjut maka rekor kenaikan harga pangan akan mendorong ratusan juta orang ke dalam kemiskinan dan gizi yang buruk. 

"Ini bencana manusia, artinya nutrisi turun. Tapi kemudian juga menjadi tantangan politik bagi pemerintah yang tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tidak menyebabkannya dan mereka melihat harganya naik," kata dia di sela-sela pertemuan IMF-Bank Dunia di Washington, dikutip dari BBC, Jumat (22/4/2022).


Bank Dunia menghitung, potensi adanya lonjakan harga pangan mencapai 37 persen. Ini akan sangat membebani orang miskin, di mana mereka akan makan lebih sedikit dan memiliki lebih sedikit uang untuk hal lain, seperti pendidikan. Menurutnya, krisis ini juga disebabkan oleh pandemi Covid-19. 


"(Kenaikan harga) Ini mempengaruhi makanan dari semua jenis minyak, biji-bijian, dan tanaman lain, tanaman jagung, karena mereka naik ketika gandum naik," ujarnya.


Dia menuturkan, ada cukup makanan di dunia untuk memberi makan semua orang. Bahkan, ada stok global yang besar, tetapi harus ada proses berbagi atau penjualan untuk membawa makanan ke tempat yang dibutuhkan.


Sementara itu, Malpass juga melarang negara-negara untuk mensubsidi produksi atau membatasi harga. Sebaliknya, kata dia, fokusnya harus pada peningkatan pasokan pupuk dan makanan di seluruh dunia, di samping bantuan yang ditargetkan untuk orang-orang yang paling miskin.


Dia juga memperingatkan tentang krisis dalam krisis, yang timbul dari ketidakmampuan negara-negara berkembang untuk membayar utang pandemi yang besar, di tengah kenaikan harga pangan dan energi.


"Ini adalah prospek yang sangat nyata. Ini terjadi di beberapa negara, kita tidak tahu sejauh mana. Sebanyak 60 persen negara termiskin saat ini berada dalam kesulitan utang atau berisiko tinggi terjerat utang," tuturnya.


"Kita harus khawatir dengan krisis utang, hal terbaik yang harus dilakukan adalah mulai lebih awal untuk bertindak lebih awal menemukan cara untuk mengurangi beban utang bagi negara-negara yang memiliki utang yang tidak berkelanjutan, semakin lama Anda menunda, semakin buruk," imbuhnya.


Pengakuan Malpass soal harus mengkhawatirkan krisis utang negara berkembang sangat signifikan. Pasalnya, kombinasi utang pandemi besar-besaran dengan kenaikan suku bunga, dan kenaikan harga benar-benar sangat berbahaya.


Sementara itu, PBB sebelumnya menyatakan perang Rusia-Ukraina telah menyebabkan melonjaknya harga pangan, di mana mereka mencapai rekor tertinggi baru pada Maret lalu. Itu karena perang memutus pasokan dari pengekspor minyak bunga matahari terbesar di dunia dan biaya alternatif naik.


Adapun Indeks Harga Pangan PBB melacak komoditas makanan yang paling banyak diperdagangkan di dunia - mengukur harga rata-rata sereal, minyak sayur, susu, daging, dan gula.


Menurut indeks, harga makanan berada pada level tertinggi sejak rekor dimulai 60 tahun lalu setelah melonjak hampir 13 persen pada Maret, menyusul rekor tertinggi Februari. Sementara harga komoditas pangan sudah berada di level tertinggi 10 tahun sebelum perang di Ukraina karena masalah panen global. (II/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini