Harga Pangan Diperkirakan Naik Meski Stok Melimpah

Aris Rinaldi Nasution
Kali Dibaca
Ket Foto : Pedagang cabai di salah satu pasar tradisional di Kota Medan.

Mediaapakabar.com
Beberapa waktu belakangan ini, muncul berbagai keluhan masyarakat terhadap harga daging ayam. Data menunjukan sebenarnya harga telur ayam tengah mencari titik keseimbangan baru. Dan sejauh ini di sejumlah pasar tradisional harga telur ayam bergerak dalam rentang Rp22 ribu hingga Rp24 ribu per kilogramnya.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, pada dasarnya harga telur ayam tersebut kembali ke posisi harga sebelumnya. Setelah harga telur ayam sempat terjun bebas beberapa pekan yang lalu. Di akhir Oktober dan di awal November harga memang sempat jatuh ke level Rp19.000-an per kilogram. Jadi  kenaikan harga belakangan ini tidak bisa lantas kita simpulkan bahwa harga telur ayam perlu mendapatkan perhatian khusus.


 "Saya menilai harga telur ayam ini masih normal. Peternak sempat mengalami kerugian sebelumnya. Dan memang ada lompatan kenaikan harga, sehingga lompatan ini menjadi kabar baik buat peternak kita. Selanjutnya ada kenaikan pada komoditas cabai rawit. Nah, untuk cabai rawit sendiri harganya memang naik belakangan ini," katanya di Medan, Selasa, 23 November 2021.


Gunawan menjelaskan, untuk harga cabai rawit sempat menyentuh Rp25 ribuan per kilogram akhir bulan Oktober dan kini mendekati harga Rp40 ribu per kilogram. Sejauh ini, harga komoditas tersebut naik dikarenakan stok cabai rawit dari pulau Jawa mulai hilang belakangan. Jadi masalahnya ada di sisi persediaan.


"Memang pembentukan harga komoditas pangan itu mengikuti demand and supply atau hukum permintaan dan penawaran. Baik permintaan dan penawaran itu dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang memicu kenaikan harga maupun penurunan harga itu adalah salah satunya kebiasaan petani," jelas Gunawan. 


Bahkan, ketika terjadi kenaikan harga, petani kerap menanam komoditas yang harganya mahal kala itu. Sehingga selanjutnya stok di pasar akan mengalami kenaikan dan bisa menekan harga komoditas yang naik sebelumnya. Jadi harga yang mahal bisa menjadi insentif bagi petani untuk bercocok tanam. Sebaliknya harga yang murah bisa memicu petani untuk tidak menanam tanaman yang harganya anjlok tersebut. Ini bisa membuat harga komoditas mengalami kenaikan nantinya.


Pada umumnya komoditas pangan bergerak dan membentuk pola-pola tertentu dan selalu yang namanya sejarah akan berulang. Tetapi ada komoditas yang justru tidak bisa dikaitkan dengan kebiasaan petani. Salah satunya adalah minyak goreng. 


"Saya menilai kenaikan harga minyak goreng belakangan ini lebih dikarenakan oleh kenaikan harga komoditas CPO di pasar global. Jadi stok bisa saja mencukupi atau bahkan melimpah, tapi harga tetap saja bisa naik," ungkapnya.


Untuk harga beras juga demikian. Meskipun tetap bersandar pada produktivitas di tingkat petani kita. Namun beras ini harganya sangat stabil. Kemampuan BULOG menjaga harga beras, membuat beras tidak berfluktuasi dengan tajam. Demand and supply nya sangat terkendali, sehingga harganya sulit untuk bergejolak.


Jadi tidak ada yang perlu diresahkan, harga komoditas pangan belakangan ini masih terbilang stabil dan aman dan memang belum ada gejolak. Harga bawang, cabai, daging ayam, daging sapi, telur, dan komoditas pangan lain selain minyak goreng masih terkendali. 


"Saya melihat harga tidak akan bergejolak hingga tutup tahun. Kecuali memang jika ada masalah cuaca atau bencana yang sulit diperkirakan," tuturnya. (IK)

Share:
Komentar

APAKABAR TV

Berita Terkini