![]() |
| Ist |
Seperti yang dikatakan Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy bahwa strateginya dilakukan dengan berbagai cara.
Pertama, jika sumber airnya cukup, maka dilakukan pemanfaatan sumber sumber air. Terdapat 11.654 unit Embung Pertanian dan 4.042 unit Irigasi Perpompaan yang dibangun pada periode 2015-2018.
"Identifikasi Sumber Air alternatifsssss yang masih tersedia dan dapat dimanfaatkan melalui Perpompaan dan Irigasi Air Tanah Dangkal," ujar Sarwo Edhy,saat dilansir dari Liputan6, Kamis (19/9/2019).
Kedua, jika sudah mengalami kekeringan dan puso, maka segera dilakukan pengajuan ganti rugi bagi petani yang lahan sawahnya terkena puso dan sudah terdaftar sebagi peserta Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
Ketiga, jika terjadi kekeringan tetapi belum puso, akan dicari sumber air, normalisasi saluran, mobilisasi pompa dan koordinasi dengan instansi terkait.
"Jika kekeringan dan tidak bisa tanam padi akan diberi bantuan benih jagung dan kedelai," sebutnya.
keempat, koordinasi dan pengawalan air dengan cara monitor ketersediaan air di waduk dan bendungan. Dengan mengutamakan jadwal irigasi pada wilayah yang standing cropnya terdampak kekeringan.
Terakhir, melakukan optimalisasi peranan Brigade Alsin/UPJA (Unit Pelayanan Jasa Alat Mesin Pertanian) dalam memobilisasi bantuan pompa air di wilayah yang terdampak kekeringan. Bagi lahan yang masih memiliki ketersediaan sumber air bila memungkinkan ditanamani dengan palawija atau aneka kacang.
Sekadar informasi, evaluasi perbandingan total luas tanam bulan April-Agustus 2018 seluas 5.924.792 Ha dan April-Agustus 2019 seluas 6.260.483 Ha menunjukan adanya pertumbuhan luas tanam sebesar 335.691 Ha atau sebesar 5,66 persen.(ni)
