Doc: apakabar
Mediaapakabar.com-Untuk mewujudkan Sumut yang bermartabat dan sejahtera, harus dibutuhkan SDM yang berkualitas. Tidak hanya dalam bidangnya, tapi juga peka dan mampu melihat situasi masyarakat secara luas.
" Marilah kita bergandeng tangan (bersatu-red) dan menguatkan ikatan untuk memberikan yang terbaik pada Sumatera Utara ini.
Karena tanpa kita semua, termasuk wartawan, bila saling melihat keburukan maka apa yang menjadi cita-cita visi dan misi saya sebagai gubernur untuk menjadikan Sumut bermartabat dan sejahtera, mustahil akan tercapai," kata Edy Rahamayadi dalam pertemuan dengan insan pers di Pemprovsu Lantai II Jalan Diponegoro Medan Jumat (1/3/2019).
Ia mengatakan begitu banyak permasalahan yang dihadapi dirinya sejak menjabat Gubernur Sumatera Utara (Sumut). Mulai dari kondisi warga yang miskin sampai persoalan populasi tingkat jumlah penduduk yang tinggi pada satu keluarga terutama di desa.
" Ini problema yang kita hadapi sekarang. Makanya mana mungkin saya bisa mengatasi hal itu sendiri walau saya gubernur," tegas Edy.
Meski demikian, ia optimis dan percaya pada masyarakat yang telah memilih dia sebagai gubernur bahwa semua persoalan bisa diselesaikan dan teratasi bila didukung segenap elemen masyarakat termasuk wartawan memberikan kesempatan bagi dia menjalankan tugas.
" Ini tidak, saya dibilang sombonglah, tidak suka dikritik dan macam-macam lagi. Jadi kalau saya tidak peduli semuanya, tentu saya tidak akan mau lagi mengadakan pertemuan seperti ini," ujar Edy.
Dia yang mengaku sudah berjalan selama 6 bulan menjadi Gubernur Sumut itu, melihat kondisi Sumatera Utara sungguh miris. " Makanya kalau saya terkadang tidak ingin menjawab pertanyaan wartawan, bukan berarti tidak suka.
Tapi memang kepala saya pusing dan berputar memikirkan berbagai persoalan. Apalagi terkadang pertanyaan yang dilontarkan itu seakan tidak harus saya yang menjawabnya," tutur Edy.
Dalam pertemuan itu, dia juga memaparkan target yang akan dicapai agar roda perekonomian stabil pendapatan yang dihasilkan maksimal dalam setahun harus mencapai Rp 600 Miliar. Dengan demikian pada masa akhir jabatannya di 2023 mendatang angka tersebut bisa Rp 3 Trilliun.
" Ini pun sebenarnya belum dikatakan standar. Sebab standarnya itu berkisar Rp 6-7 Trilliun," jelas Edi.
Pada kesempatan itu, Edy juga menepis anggapan yang selama ini sering ditudingkan pada dirinya yakni selalu sulit untuk ditemui wartawan terutama berkaitan dengan jabatannya sebagai gubernur, tidak benar.
" Mungkin kalian lebih sulit bertemu dengan Kadis-Kadis saya, apalagi dalam pertemuan ini, tidak seluruh Kadis datang. Tapi saya bilang sama kalian semua (para wartawan-red), bila memang sudah ditugaskan di Pemprovsu ini, mulai dari lantai bawah sampai atas, bisa datang menjumpai siapa saja," tukas Edi seraya mengatakan ada selintingan yang didengarnya tentang hal tersebut. (joel)
