![]() |
| foto: Pilu! Tiga Hari di Pengungsian, 21 Korban Kebakaran Menjerit Kelaparan Minta Bantuan |
Mediaapakabar.com- Pilu! Sebanyak 21 jiwa dari 9 kepala keluarga (KK) korban kebakaran di Jalan Raimin, Lingkungan VI, Kelurahan Timbang Langkat, Kecamatan Binjai Timur, masih bertahan hidup di tenda pengungsian.
Sudah tiga hari pascakebakaran, rumah mereka belum bisa ditempati. Terpaksa, tenda pengungsian menjadi tempat berlindung sekaligus menjalani aktivitas sehari-hari.
Kondisi para korban pun memprihatinkan. Mereka masih berharap uluran tangan pemerintah maupun para dermawan untuk bisa kembali memiliki tempat tinggal yang layak.
Kondisi tersebut terlihat saat Ketua DPC Partai Demokrat Binjai, Juli Sawitma Nasution, mendatangi lokasi pengungsian, Sabtu (15/8/2026) sore.
Juli datang membawa bantuan paket sembako untuk meringankan beban para korban yang kehilangan tempat tinggal akibat musibah kebakaran.
“Kami berharap secepatnya para korban yang masih tinggal di pengungsian ini bisa dibantu memperbaiki rumahnya supaya bisa ditempati sebagaimana mestinya,” kata Juli.
Menurutnya, pemerintah harus bergerak cepat memberikan bantuan moril maupun materiel kepada para korban.
“Kedatangan kami ke sini sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan melihat kondisi para korban yang masih hidup di tenda pengungsian. Mereka adalah warga kami yang terdampak musibah kebakaran,” ujarnya.
“Kami ada sedikit memberikan bantuan paket sembako untuk meringankan beban hidup mereka,” sambungnya.
Sementara itu, Lurah Timbang Langkat, Hendra, mengungkapkan para pengungsi masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, terutama untuk mandi, mencuci hingga buang air besar.
“Untuk kebutuhan seperti cuci, mandi dan buang air besar, mereka masih menumpang di rumah jiran tetangga,” ungkap Hendra.
Sedangkan selama tiga hari pertama pascakebakaran, kebutuhan makan para korban ditangani Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Untuk jatah hidup selama tiga hari pascakejadian ditangani BPBD, berupa makan tiga kali sehari,” katanya.
Namun setelah masa tersebut berakhir, kebutuhan makanan para pengungsi mulai bergantung kepada para donatur dan dermawan.
“Setelah tiga hari ini, untuk jatah hidup mereka yang masih tinggal di tenda pengungsian ditangani para donatur serta dermawan yang memberikan bantuan makan tiga kali sehari,” jelasnya.
Kondisi psikologis korban juga menjadi perhatian. Hendra menyebut, sejauh ini belum ada pengungsi yang harus menjalani perawatan di rumah sakit. Meski begitu, tim Dinas Kesehatan rutin turun memeriksa kondisi kesehatan mereka.
“Belum ada yang terdata masuk rumah sakit. Namun setiap hari tim Dinkes turun rutin mengecek kesehatan,” ujarnya.
Dari pemeriksaan tersebut, sejumlah korban mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi yang diduga dipicu syok berat akibat kehilangan tempat tinggal.
“Umumnya mereka mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi karena mengalami syok berat,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, para korban berharap pemerintah segera menyediakan rumah sewa sementara. Hunian itu diharapkan menjadi tempat berlindung hingga rumah mereka kembali dibangun.
“Para korban berharap supaya mereka bisa dipindahkan ke rumah sewa sementara, menunggu rumah mereka yang katanya akan dibangun kembali melalui bantuan pemerintah,” ungkap Hendra.
Berdasarkan data, total terdapat tujuh rumah yang terdampak kebakaran. Empat rumah mengalami rusak berat dan ludes terbakar hingga tak bersisa. Sementara tiga rumah lainnya mengalami rusak sedang.
“Kalau untuk anak sekolah, sebagian anak-anak mereka masih sekolah seperti biasanya karena mereka juga mendapat bantuan seragam sekolah dan alat tulis seperti buku dari para donatur,” pungkasnya.(MC/RED)
