Platform Jual Beli Mobil Baru dan Bekas

Platform Jual Beli Mobil Baru dan Bekas

Ibu Cecar Minta Perlindungan Hukum ke Kapolri Terkait Tuduhan yang Disangkakan Polsek Sunggal

Aris Rinaldi Nasution
Rabu, 05 Oktober 2022 - 23:45
kali dibaca
Ket Foto : Ibu Cecar, Sawinah Nasution didampingi Jefry selaku abang sepupu dan adik kandung Cecar, M Rizki ketika menujukan SPDP yang diterbitkan Polsek Medan Sunggal.

Mediaapakabar.com
Keluarga meminta perlindungan hukum ke Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait kasus yang menimpa Cecar Junio alias Can yang disangkakan Polsek Medan Sunggal dengan pasal penggelapan atau penipuan dinilai terkesan dipaksakan dan mengada-ngada.

"Saya meminta kepada bapak Kapolri, bapak Kapolda Sumut dan jajarannya serta pak Jokowi agar memberikan perlindungan hukum terhadap kami, khususnya Cecar anak saya yang dituduh melakukan penggelapan dan penipuan berupa handphone (hp) milik pacarnya sendiri," kata ibu Cecar, Sawinah Nasution didampingi Jefry selaku abang sepupu dan adik kandung Cecar, M Rizki kepada wartawan, Rabu, 05 Oktober 2022 malam.


Sebab menurut Sawinah Nasution, anaknya tidak pernah melakukan penggelapan handphone seperti apa yang dilaporkan oleh Fathia Qadreza ke Polsek Medan Sunggal dan mengakibatkan anaknya ditangkap 'bak teroris' dan ditahan.


Diceritakan Sawinah, peristiwa itu bermula pada pertengahan bulan September 2022, anaknya yakni Cecar, ketika itu terlibat cekcok dengan pacarnya Fathia Qadreza (pelapor).


Setau bagaimana, saat cekcok tersebut, handphone milik Fathia terlempar. Lalu Cecar langsung meninggalkan Fathia di lokasi tersebut untuk menghindari cekcok yang berkepanjangan.


"Namun, pas sampai di rumah anak saya masih kepikiran karena meninggalkan pacarnya, lalu anak saya mengajak adiknya untuk menemani ke lokasi kejadian cekcok tersebut. Pada saat tiba di lokasi, si Fathia tidak berada di lokasi, sementara, anak saya melihat handphone milik pacarnya yang sebelumnya terlempar di rumput, lalu anak saya mengambil handphone tersebut untuk di simpan," sebut wanita berusia 59 tahun itu.


Keesokan harinya, belum sempat untuk memulangkan, anak saya mendapat job pekerjaan di Tebing Tinggi selama 2 minggu.


"Nah, ketika anak saya pulang ke Medan, dia (Cecar-red) langsung menghubungi pacarnya untuk memulangkan handphone tersebut. Kemudian si pacarnya meminta agar bertemu di depan Hotel Saka," ujarnya.


Kemudian, sambung Sawinah, anaknya langsung menuju lokasi mengendarai sepeda motor milik adiknya dengan membawa handphone tersebut yang diletakkan di dashboard sepeda motor.


"Setelah sampai di lokasi, anak saya ketemu dengan pacarnya, namun belum sempat memberi handphone, anak saya langsung disergap beberapa orang yang mengaku polisi dari Polsek Sunggal, dan membawa anak saya beserta sepeda motor yang dikendarainya," katanya.


Anehnya, kata wanita paruh baya itu, handphone yang sebelumnya diletakkan anaknya di dashboard sepeda motor tersebut sudah tidak ada lagi.


"Anak saya tidak ada niat untuk mengambil handphone seharga Rp1,3 juta itu, apalagi itu milik pacarnya yang sudah berpacaran selama 2 tahun. Kenapa anak saya dituduhkan melakukan penggelapan atau penipuan," katanya.


Sementara itu, Jefry yang merupakan abang sepupu Cecar juga mempertanyakan prosedur terkait penangkapan yang dilakukan oleh Polsek Medan Sunggal terhadap adiknya. 


Sebab, Ia menilai penangkapan yang dilakukan terhadap adiknya dinilai melanggar Standar Operasi Prosedur (SOP) kepolisian dikarenakan tidak ada pemanggilan terlebih dahulu terhadap adiknya.


"Adik saya langsung disergap dan ditangkap ketika adik ketemu dengan pacarnya. Adik saya bukan teroris dan bukan bandar Narkoba yang diperlakukan seperti itu," tegasnya.


Selain itu, ia juga mempertanyakan terkait pasal penggelapan dan penipuan yang disangkakan pihak Polsek Medan Sunggal terhadap adiknya.


"Dari mana dasarnya adik saya diterapkan pasal penggelapan dan penipuan. Apa rupanya yang digelapkan adik saya dan ditipu adik saya. Masa hanya gara-gara dia menyimpan hp pacarnya langsung ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polsek Sunggal," sebutnya.


Tak hanya itu, terkait dua Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) yang diterbitkan  oleh Polsek Medan Sunggal, dirinya merasa aneh. Sebab Polsek Sunggal menerbitkan 2 SPDP.


"Gimana bisa penyidik Polsek Medan Sunggal bisa menerbitkan 2 SPDP. Pertama ditujukan kepada Kepala Cabang Kejari Deli Serdang di Labuhan Deli dan kepada Kepala Kejari Medan tertanggal 30 September 2022 dan ditandatangani oleh Kapolsek Medan Sunggal Kompol Chandra Yudha," ujarnya.


Terkait hal itu, dirinya meminta perlindungan hukum dan atensi dari Kapolri, Kapolda Sumut merespon kasus yang dialami adiknya.


"Saya meminta kepada bapak Kapolri, bapak Kapolda agar kiranya kasus ini bisa menjadi atensi, dan dapat memeriksa oknum-oknum yang diduga mempermainkan hukum terhadap masyarakat kecil," pungkasnya.


Terpisah, Kapolsek Medan Sunggal Kompol Chandra Yudha Pranata ketika dikonfirmasi melalui WhatsApp memilih bungkam dan tidak menjawab hingga berita ini diterbitkan.


Sementara Kanit Reskrim Polsek Medan Sunggal Iptu Suyanto Usman Nasution ketika dikonfirmasi mengaku lagi sibuk.


"Bentar ada kejadian ini," tulisnya singkat melalui pesan WhatsApp, Rabu, 05 Oktober 2022 malam. (MC/DAF)

Share:
Komentar

Berita Terkini