Rusia Bakal Ditinggalkan Iran dan Tiongkok Jika Gunakan Senjata Nuklir

Aris Rinaldi Nasution
Selasa, 27 September 2022 - 13:33
kali dibaca

Ket Foto : Sistem rudal balistik antarbenua Yars RS-24 berhulu ledak nuklir milik Rusia melaju saat parade militer Hari Kemenangan di Moskow pada 9 Mei 2015.  (AFP/Getty Images)


Mediaapakabar.com
Rusia akan ditinggalkan Iran dan Tiongkok jika Presiden Vladimir Putin menggunakan senjata nuklir. Seperti dilaporkan Newsweek, Minggu (25/9/2022), prediksi itu disampaikan mantan Panglima Tertinggi Sekutu NATO Laksamana Angkatan Laut AS James Stavridis.

Komentar Stavridis muncul setelah pemimpin Rusia mengeluarkan ancaman nuklir atas Ukraina dalam pidato yang disiarkan televisi ke negaranya pekan lalu.


"Jika Rusia merasa integritas teritorialnya terancam, kami akan menggunakan semua metode pertahanan yang kami miliki, dan ini bukan gertakan. Mereka yang mencoba memeras kita dengan senjata nuklir harus tahu bahwa angin juga bisa berputar ke arah mereka," kata Putin.


Segera setelah dimulainya invasi Rusia di Ukraina pada akhir Februari, Putin menempatkan pasukan nuklirnya dalam siaga tinggi. Selama berbulan-bulan, televisi negara Rusia telah membingkai perang sebagai pertempuran antara Barat dan Rusia, yang tujuannya dapat dipercepat jika Kremlin menggunakan sekitar 6.000 hulu ledak.


Dalam satu wawancara di Cats Roundtable WABC 770, Stavridis mengatakan bahwa Putin "tidak serius mempertimbangkan untuk menggunakan senjata nuklir."


“Dia tahu jika dia melakukannya, itu akan menyebabkan dunia sepenuhnya berbalik melawannya. Dia bahkan akan kehilangan dukungan dari Tiongkok, Iran. Tidak ada yang akan mendukung Rusia yang menggunakan senjata nuklir. Jadi, saya tidak menganggapnya serius," tambahnya.


Newsweek telah menghubungi Kementerian Luar Negeri Rusia untuk memberikan komentar.


Pekan lalu, mantan Perdana Menteri Rusia Mikhail Kasyanov mengatakan kepada Newsweek bahwa dia juga percaya bahwa ancaman nuklir pemimpin Rusia itu kosong.


"Dia telah mencoba membuat orang takut karena penggunaan senjata nuklir, tetapi saya pikir ini dalam kategori gertakan. Saya tidak berpikir dia akan beralih ke senjata nuklir karena alasan sederhana bahwa dia menyadari bahwa dia sendiri akan segera dimusnahkan," kata Kasyanov. (BC/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini