Uang Kuliah Dinilai Mahal, Calon Mahasiswa Ramai-ramai Tinggalkan Unimed

Aris Rinaldi Nasution
Sabtu, 13 Agustus 2022 - 23:59
kali dibaca
Ket Foto : Universitas Negeri Medan (Unimed).

Mediaapakabar.com
Sejumlah calon mahasiswa ramai-ramai tinggalkan Unimed (Universitas Negeri Medan) karena menganggap uang kuliah terlalu mahal.

Bahkan, sebelum calon mahasiswa ramai-ramai tinggalkan Unimed karena uang kuliah mahal, sejumlah orang tua sempat protes.


Para orangtua calon mahasiswa mendatangi Gedung Biro Rektor Unimed, Senin, 8 Agustus 2022. Mereka merasa UKT yang ditetapkan pihak kampus tidak sesuai dengan pendapatan orang tua calon mahasiswa baru.


Mereka menyebut, UKT terlampau mahal dan tidak sesuai ekonomi calon mahasiswa baru.


Orangtua calon mahasiswa baru Fakultas Ilmu Keolahragaan, Mariati, merasa berat membayar uang kuliah anaknya Rp 7,5 juta per semester.


"Anak saya lulus jalur SBMPTN, tapi kenapa uang kuliahnya bisa sebesar itu. Kalau begini ceritanya sama saja seperti kuliah di kampus swasta. Malah mungkin lebih murah biayanya," ujarnya.


Calon mahasiswa baru jurusan Pendidikan Fisika, Lily Ervina, mengatakan, UKT yang harus ia bayar Rp 7,5 juta per semester.


"Sudah ada niat mengundurkan diri, mama saya usia 40 tahun, ayah saya sudah tidak ada. Pekerjaan ibu saya hanya pegawai biasa di perusahaan swasta. Kalau sampai tanggal 14 tidak ada kepastian, saya tidak lanjut kuliah," ujar Lily dilansir dari Tribun Medan, Sabtu, 13 Agustus 2022.


Tak hanya Lily, Miftahul calon mahasiswa baru Sastra Inggris juga harus membayar UKT yang menurutnya, tidak sesuai dengan kemampuan orangtuanya.


"Saya lolos jalur SBMPTN, UKT saya Rp 6,5 juta per semester. Gaji bersih orangtua saya hanya Rp 2,8 juta per bulan. Tanggungan orang tua saya ada lima orang. Per Desember nanti orangtua saya pensiun. Ia guru di salah satu yayasan," ujar Miftah.


Lily dan Miftah yang masih berencana mundur, Ruth Kristiani yang lulus masuk jurusan Antropologi sudah memutuskan mundur.


Ruth mengatakan, resmi mengundurkan diri dari Unimed dan sudah mendaftar kembali di salah satu kampus swasta.


"Aku salah satu yang sudah sah tidak lanjut kuliah di Unimed. Uang kuliahku ditetapkan Rp 7,5 juta per semester. Saya sudah banding dan hasilnya nihil. Daripada putus kuliah di tengah jalan aku dan orangtua sepakat, saya mundur dan kuliah di swasta saja," ujar Ruth.


Humas Unimed Muhammad Surip mengatakan, sudah memberi waktu kepada calon mahasiswa baru untuk mengajukan penurunan uang kuliah tersebut.


"Bagi yang keberatan terkait UKT, Unimed sudah membuka permohonan peninjauan ulang dan semua permohonan sedang diproses dan dianalisis. Segera diputuskan sesuai dengan kemampuan orangtua mahasiswa baru," ujar Surip.


Orangtua mahasiswa juga membenarkan pernyataan tersebut. Mereka sudah memasukkan berkas untuk peninjauan ulang UKT.


Namun, mereka menuntut kapan tepatnya hasil peninjauan tersebut keluar, mengingat batas pembayaran UKT akan berakhir pada 14 Agustus 2022.


Tapi, seperti penjelasan Mariati, mereka hanya disuruh menunggu. "Kami sudah menunggu selama dua minggu. Kami datangi Rabu lalu, katanya Jumat. Jumat kami datangin tidak ada juga kepastian. Sekarang sudah Senin malah disuruh nunggu lagi sampai besok,” ujar Mariati.


“Kami bingung sebentar lagi sudah mau masuk perkuliahan, apa status anak kami ini yang belum menyelesaikan pembayaran UKT, karena jumlahnya belum jelas berapa."


Sedangkan Ratih menduga pihak Unimed terkesan sengaja menunda-nunda hasil analisis ulang tersebut.


"Tiap kami tanya, jawabannya sama. Kami hanya butuh kepastian. Saya dari luar kota, masak mau tiap hari ke sini cuman menanyakan itu. Asal ditanya jawabannya sama, masih diproses. Pertanyaannya kan kapan, sudah dua minggu loh ini," ujar Ratih.


Namun, saat dikonfirmasi kapan tanggal pasti hasil analisis ulang tersebut keluar, Humas Unimed tidak memberi tanggal pastinya.


"Dokumen sudah dianalisis dan akan segera diputuskan," ujar Surip.


Tak kunjung mendapat jawaban soal pengurangan UKT, orangtua calon mahasiswa baru beserta beberapa calon mahasiswa baru kembali menuntut kepastian dari pihak universitas, Rabu, 9 Agustus 2022.


Terlihat puluhan orang tua kembali mendatangi Gedung Biro Rektor sejak pukul 08.00 WIB.


Namun, kedatangan para orangtua kali ini tidak hanya disambut satpam dan kepala humas.


Saat mereka menanti Rektor Unimed yang muncul malah Ketua Senat Unimed, Profesor Syawal Gultom.


Menanggapi kedatangan para orang tua itu, Syawal mengatakan, seharusnya tidak perlu sampai berbondong-bondong ke biro rektor, cukup lihat saja di sistem.


"Kalau ada permohonan, lihat saja di sistem nanti, karena datanya sedang diproses. Jangan seperti ini malu kita," ujar Syawal, Rabu.


Ia juga mengatakan, tidak ada pemaksaan masuk Unimed, dan berharap para orangtua calon mahasiswa baru berpikir rasional.


"Tidak dipaksa masuk Unimed kan. Kalau sanggup ya sanggup, kalau tidak ya sudah," ujarnya.


Ia juga menjelaskan kepada para orangtua tersebut bahwa dalam menentukan UKT, universitas tidak sembarangan.


"Ada surat ketetapan menteri yang ditetapkan berdasar operasional universitas. Biaya Kuliah Total (BKT) Unimed itu adalah Rp 20 juta per semester, kalau itu ditetapkan maka tidak akan ada yang kuliah,"


"Namun, Unimed punya pemasukan lain baik itu sumbernya dari bantuan operasional maupun kegiatan seperti kolam renang dan lain sebagainya. Karena itu, Unimed bisa menetapkan uang kuliah tertinggi Rp 7,5 juta per semester,"


“Unimed adalah kampus pendekarnya orang miskin. Sejauh ini Unimed diprotes  universitas lain, karena terlalu banyak menetapkan UKT di kelas rendah. Maka jangan mau dipermainkan isu. Bagi yang sudah mengajukan permohonan harap tunggu saja. Jangan mau berpanas-panasan ke sini," ujarnya.


Menanggapi kapan kepastian turun atau tidaknya permohonan yang diajukan, Syawal menjawab, jika hasilnya belum keluar sampai akhir jadwal pembayaran UKT, maka akan  diperpanjang jadwalnya.


"Membuka kembali jadwal pembayaran itu kan tidak susah. Kita buka saja kembali. Jangan khawatir tidak bisa mengikuti perkuliahan, ikuti saja dulu masa pengenalan mahasiswa baru," tambahnya.


Ramayana, orangtua calon mahasiswa baru, masih belum puas dengan penjelasan para petinggi Unimed.


"Saya maunya tegas, tanggal berapa keluarnya hasil permohonan kami tersebut. Kalau turun, ya turun. Kalau tidak biar kami tahu mau mengambil langkah apa selanjutnya," kata ibu tiga anak tersebut.


Ramayana hanya seorang buruh gosok di salah satu laundry. Sedangkan suaminya pedagang jajanan keliling.


Mereka menanggung biaya hidup tiga. Unimed menetapkan UKT untuk anak mereka, Sabrina, Rp 5 juta per semester.


Saat dikonfirmasi Humas Unimed mengapa yang menanggapi keluhan orangtua calon mahasiswa baru bukan Rektor Unimed, ia mengatakan rektor sedang ada kegiatan.


"Benar yang menanggapi keluhan orangtua mahasiswa tadi adalah Ketua Senat Unimed, karena Rektor Samsul Gultom sedang ada kegiatan lain," ujarnya. 



Sumber: Tribun Medan

Share:
Komentar

Berita Terkini