Harga Mie Instan Diproyeksi Naik 3 Kali Lipat, Bos Indofood: Berlebihan!

Aris Rinaldi Nasution
Kamis, 11 Agustus 2022 - 12:56
kali dibaca
Ket Foto : Indomie goreng rasa original dinobatkan menjadi mie goreng instan terenak versi New York Magazine. Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Fransiscus Welirang menanggapi kabar mengenai potensi kenaikan harga mie instan hingga tiga kali lipat akibat lonjakan harga gandum. Fransiscus menilai proyeksi itu sangat berlebihan. 

Mediaapakabar.com
Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Fransiscus Welirang menanggapi kabar mengenai potensi kenaikan harga mie instan hingga tiga kali lipat akibat lonjakan harga gandum. Fransiscus menilai proyeksi itu sangat berlebihan. 

"Saya rasa harga mie instan naik sampai tiga kali lipat itu berlebihan," kata Fransiscus dikutip dari Republika, Rabu (10/8/2022).


Menurut Fransiscus, harga mie instan tidak hanya ditentukan oleh komponen tepung terigu yang berasal dari gandum. Pasalnya, terdapat beberapa komponen lain yang juga mempengaruhi harga produk mi instan seperti cabai, minyak hingga kemasan. 


Di sisi lain, Fransiscus melihat, harga gandum internasional saat ini sudah mencapai level tertingginya. Sehingga, potensi harga gandum untuk mengalami kenaikan yang lebih tinggi terbilang cukup kecil.


Fransiscus yang juga merupakan Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) memastikan pasokan tepung terigu di dalam negeri aman. Menurutnya, pelaku industri telah mengantisipasi keterbatasan pasokan dunia akibat terdampak konflik Rusia-Ukraina.


"Indonesia tidak hanya impor dari Ukraina, tapi ada 30 negara lain," kata Fransiscus.


Sebelumnya Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengingatkan masyarakat yang gemar mengkonsumsi mie harus merogoh kocek lebih dalam. Pasalnya, harga mie diyakini akan semakin mahal imbas kenaikan harga gandum dunia yang menjadi bahan baku pembuatan mie.


Syahrul menuturkan, perang Rusia-Ukraina menyebabkan adanya pasokan gandum Ukraina yang tertahan hingga 180 juta ton. Pasokan itu tak bisa keluar akibat blokade Rusia.


"Jadi, hati-hati yang makan mie banyak dari gandum, besok harga (naik) tiga kali lipat itu. Mohon maaf saya bicara ekstrem saja ini," kata Syahrul dalam webinar, Senin (8/8/2022).


Syahrul mengatakan, akibat gangguan rantai pasok global, harga gandum melonjak tinggi. Sementara, Indonesia terus melakukan impor gandum karena besarnya kebutuhan masyarakat.


Tercatat, rata-rata impor gandum per tahun telah tembus hingga 11 juta ton. Di mana, 9 juta ton di antaranya digunakan oleh industri makanan, sedangkan sisanya digunakan industri produsen pakan ternak unggas. (RC/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini