Profil Brigadir J, Polisi yang Setia sama Pacar dan Irjen Ferdy Sambo

Aris Rinaldi Nasution
Minggu, 17 Juli 2022 - 17:08
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Brigadir Yosua Hutabarat atau sering disebut Brigadir J merupakan anak mama. Dia dekat sekali dengan ibunya Rosti Simanjuntak.

Brigadir J anak kedua dari empat bersaudara. Kakaknya, perempuan, kini bekerja di sebuah karantina pertanian di Jambi.


Adik wanitanya baru lulus dari Universitas Jambi, jurusan kesehatan masyarakat. Si bungsu, laki-laki, polisi: Bripda Mahareza Hutabarat.


Brigadir Yosua setidaknya sudah dua kali bahagia dalam hidupnya: saat diterima sebagai anggota Polri dan saat diterima seleksi menjadi ajudan perwira.


Yosua, setamat SMAN di Muaro Bungo langsung melamar jadi polisi.


Penempatan pertamanya di kompi Brimob di pedalaman Merangin, Jambi.


Lebih tiga tahun Yosua bertugas di Merangin. Dia pun berkenalan dengan gadis di situ: Vera. Mereka pacaran. Sudah delapan tahun masih setia.


Mereka bertekad segera kawin. Ayah-ibu Yosua pun merestui.


Kali terakhir Yosua pulang kampung adalah akhir 2021. Liburan Natal.



"Dia dekat sekali dengan ibunya. Tidur di ketiak ibunya," kata ayah Brigadir J, Samuel Hutabarat, dalam tulisan Dahlan Iskan berjudul "Autopsi Ulang".


Dahlan Iskan si kolumnis kondang itu sengaja meminta jaringannya di Jambi mengirim wartawan ke rumah Brigadir J.


Pak Dahlan sepertinya cukup penasaran dengan sisi lain dari insiden tembak-menembak yang konon terjadi di rumah Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo di Komplek Polri Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (8/7).


Baku tembak yang katanya melibatkan Brigadir J dengan Bharada E. Darderdor yang membuat Brigadir J tutup usia.


Jaringan atau rekan Pak Dahlan di Jambi (pimpinan harian Jambi Ekspres Syarkawi) mengirim wartawan ke rumah keluarga Brigadir Yosua, Sabtu kemarin.


Tiga wartawan pun meninggalkan Jambi sebelum pukul 06.00. Mereka naik mobil menyusuri jalan utama ke arah Palembang.


Sebelum perbatasan Jambi-Sumsel, mereka belok kanan. Memasuki kawasan kebun sawit yang luas.


Setelah membelah kebun sawit mereka tiba di desa Suka Makmur. Berarti 68 Km perjalanan yang mereka tempuh. Banyaknya truk sawit membuat jarak itu begitu jauh: dua jam.


Rumah keluarga Brigadir J terletak di belakang SDN Suka Makmur. Itu memang rumah dinas. Ibunda Brigadir Yosua guru di SD tersebut.


Di sana pula Brigadir Yosua sekolah. Sempat diajar sendiri oleh sang ibu, Bu Rosti Simanjuntak.


Ke rumah itu pula peti jenazah Brigadir Yosua diantar pulang. Empat hari setelah tewas dalam tembak-menembak di rumah Irjen Ferdy Sambo.


Di rumah itu peti dibuka. Ada luka-luka dan memar di perut penghuni peti. Jarinya nyaris putus.


"Keluarga memotret semua itu," kata Andri, salah satu wartawan yang datang ke rumah Brigadir J, mengutip keterangan keluarga.


Saat Andri dan dua temannya datang, suasana rumah masih penuh duka.


Harapan terakhir keluarga Brigadir J tidak kesampaian. "Keluarga berharap bisa dimakamkan secara militer," ujar Andri.


"Alasan petugas, administrasinya belum lengkap," ujar Samuel Hutabarat.


Sang ayah heran. Sudah diberangkatkan dari Jakarta, semestinya sudah lengkap.


Ya sudah. Dimakamkanlah Brigadir J dengan upacara agama. Pemakamannya sekitar 2 Km dari rumahnya.


Buah Tangan Untuk Irjen Sambo


Samuel mengatakan saat menuntaskan liburan Natal, anaknya itu kembali ke Jakarta dengan membawa banyak buah tangan untuk Irjen Sambo dan Nyonya.


Tanggal 5 Januari 2022 Yosua kembali ke Jakarta. "Dia membeli banyak sekali oleh-oleh khas Jambi untuk bapak dan ibu," ujar Samuel yang kini berumur 57 tahun.


Bapak dan ibu yang dimaksud adalah Irjen Ferdy Sambo dan istri.


"Ongkos bagasinya saja Rp 2 juta," kata Samuel.


Sebagai petani sawit kecil-kecilan, Samuel kaget dengan angka itu.


Dia pun menyarankan anaknya mengirim dengan paket saja. Lebih murah. Yang terpenting saja yang dibawa sendiri. Dan yang terpenting itu adalah pempek "Selamat" yang memang terkenal di Jambi.


Samuel menceritakan, anaknya bahagia menjadi ajudan jenderal.


Dia pun mengenang saat-saat Yosua diterima menjadi ajudan.


Waktu itu, Yosua sedang bertugas di Brimob Jambi dipindah dari Merangin. Dia melihat ada seleksi untuk menjadi ajudan.


Dia pun melamar. Mengikuti tes. Lulus, langsung bertugas.


"Dia tidak sempat pulang lagi ke Jambi. Dia minta adiknya mengepak barang-barangnya untuk dikirim ke Jakarta," ujar Samuel.


Yosua pun menjadi ajudan Ferdy Sambo. Sejak Pak Sambo masih berpangkat Kombes, naik menjadi bintang satu, dan jenderal bintang dua.


Brigadir J sosok yang tak lupa keluarga. Dia sering mengirim uang untuk sang ibu meski sudah diingatkan agar lebih dahulu mencukupi kebutuhannya sendiri. "Semua sudah ada jatahnya," kata Yosua seperti dituturkan ibunya. (JPNN/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini