PM Boris Johnson Pecat Menteri, Total 44 Mundur dari Pemerintahan

Aris Rinaldi Nasution
Kamis, 07 Juli 2022 - 10:41
kali dibaca
Ket Foto : Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, memecat menteri senior, Michael Gove, pada Rabu (6/7/2022) malam waktu setempat. Gove yang merupakan orang kepercayaan Johnson pada kampanye Brexit 2016 dianggap ikut mendesaknya agar mundur dari posisi perdana menteri.

Mediaapakabar.com
Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, memecat menteri senior, Michael Gove, pada Rabu (6/7/2022) malam waktu setempat. Gove yang merupakan orang kepercayaan Johnson pada kampanye Brexit 2016 dianggap ikut mendesaknya agar mundur dari posisi perdana menteri.

Sejauh ini sudah 44 orang yang memilih keluar dari pemerintahan menyusul pengunduran diri lima menteri dan pemecatan Gove sebagai menteri sekretaris pemerintah, seperti dikutip dari The Guardian.


Johnson sempat dihujani pertanyaan di hadapan komite parlemen anggota legislatif senior di Parlemen sebelum perwakilan kabinet tiba di Downing Street untuk memintanya mengundurkan diri.


Namun, Johnson bersikeras tidak mau lengser. Ia justru memecat Gove karena dianggap telah ambil bagian untuk mendesaknya lengser.


Sumber dari CNN menyebut bahwa Johsnon memecat Gove karena 'tangan kanan' di fraksi Konservatif parlemen dianggap tidak lagi loyal.


Satu lagi orang dekat Johnson, Menteri Dalam Negeri Pritin Patel disebut-sebut mengatakan kepada Johnson bahwa secara umum partai Konservatif memintanya untuk mundur, seperti dilansir dari CNN.


Menteri Sekolah, Robin Walker, menjadi menteri kelima kabinet Johnson yang mengundurkan diri.


Walker menyusul empat menteri lainnya yang sudah lebih dulu menyerahkan surat pengunduran diri sejak Selasa (5/7/2022).


Menteri Keuangan Rishi Sunak dan Menteri Kesehatan Sajid Javid lebih dulu mengundurkan diri dari jabatan mereka.


Beberapa jam kemudian, Menteri Menteri Urusan Anak dan Keluarga, Will Quince, dan Menteri Muda Transportasi, Laura Trott, juga mengundurkan diri dari kabinet.


Sunak dan Javid mengaku tak lagi bisa menoleransi skandal yang menimpa Johnson selama beberapa bulan terakhir, termasuk melanggar aturan penguncian (lockdown) di Downing Street. (CNNI/MC)


Share:
Komentar

Berita Terkini