Pekerja Manusia Mau Digantikan Robot, Ancaman Atau Peluang Industri?

Aris Rinaldi Nasution
Jumat, 15 Juli 2022 - 09:18
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi robot pekerja. (Reuters)

Mediaapakabar.com
Gencarnya digitalisasi dan kemajuan teknologi menimbulkan kekhawatiran bahwa peran manusia akan tergantikan oleh mesin atau robot. Ke depan, akankah hal itu terjadi?

Business Vice President Industrial Automation Schneider Electric Indonesia & Timor Leste Martin Setiawan mengatakan, digitalisasi dan adaptasi terhadap kemajuan teknologi memang mutlak dilakukan, Otomatisasi pada sebuah bisnis bisa menekan biaya operasional hingga efisiensi.


"Akan semakin banyak mesin yang fokus pada software centric untuk operasional dan layanan jarak jauh dan untuk meningkatkan kinerja," kata dia dalam siaran pers, Kamis (14/7/2022).


Dia menambahkan, kemajuan teknologi jangan menjadi penghalang dalam mengembangkan suatu industri. Pelaku industri justru harus lebih adaptif dalam menggenjot bisnisnya apalagi ada potensi besar dari Revolusi Industri Keempat.


"Terlepas dari ketakutan yang besar bahwa teknologi suatu hari nanti akan menggantikan pekerjaan sebagian orang, digitalisasi sebenarnya akan menciptakan lebih banyak pekerjaan dan peluang bagi talenta industri yang kurang dimanfaatkan," ujar dia.


Menurut Martin tidak ada yang bisa mengelola dunia digital sendirian. Dibutuhkan ekosistem kemitraan yang terbuka dan kolaboratif yang mencakup perusahaan rintisan, mitra teknologi, distributor, dan integrator sistem dan mesin - untuk mendorong inovasi bersama.


"Di Schneider Electric, kami membangun ekosistem kemitraan dikenal dengan Schneider Electric Exchange, yang menyediakan marketplace digital di mana para mitra kami dapat memanfaatkan inovasi IoT yang kompatibel dengan EcoStruxure untuk otomatisasi dan manajemen energi," ujarnya.


Tantangan masa depan tidak dapat sekedar diatasi dengan perangkat keras (hardware) baru tetapi membutuhkan aplikasi cerdas dari teknologi berbasis perangkat lunak. 


Paradigma digital ini berpotensi memberikan kemampuan operasional yang belum pernah ada sebelumnya dan mendukung peluang bisnis baru bagi seluruh pemangku kepentingan industri.


Dalam hal ini dia juga menekankan soal keberlanjutan industri alias sustainability di tengah persoalan soal energi bersih. Apalagi, Indonesia punya target mencapai net zero emission pada 2060.


Untuk mencapai sustainability dibutuhkan interaksi perangkat lunak, teknologi otomasi, dan pengelolaan energi.


Dia menyebut di Schneider Electric, memiliki rekam jejak yang panjang dalam hal sustainability sejak 2005 dan telah mendapatkan pengakuan sebagai the world's most sustainable corporation 2021 menurut Corporate Knights.

"Kami memiliki ambisi untuk dapat mencapai emisi nol bersih pada 2030. Selama 15 tahun terakhir, solusi kami telah membantu customer kami mengurangi 120 juta ton emisi karbon. Tidak hanya itu, solusi EcoStruxure kami telah terbukti mampu mengurangi 20% CapEX dan mengurangi downtime sebesar 15%. Pada akhirnya, akan meningkatkan daya saing bisnisnya di industri," jelas dia. (DTC/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini