Ekonom Ingatkan Tiga Risiko Inflasi AS Terhadap Perekonomian Indonesia

Aris Rinaldi Nasution
Kamis, 21 Juli 2022 - 11:15
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menyebutkan ada tiga risiko inflasi Amerika Serikat terhadap perekonomian Indonesia. Salah satunya adalah pelemahan daya beli hingga mengganggu ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. 

"Akan ada tiga jalur risiko inflasi AS ke Indonesia. Pertama, inflasi yang meningkat di AS secara ekstrem akan sebabkan pelemahan permintaan daya beli, akibatnya ekspor Indonesia ke AS bisa terganggu," ujar Bhima dikutip dari Tempo, Kamis, 21 Juli 2022.


Bhima mengatakan kondisi tersebut dapat berakibat pada melemahnya kualitas neraca dagang Indonesia sepanjang semester kedua. Harga komoditas ekspor seperti CPO dan Nikel, kata Bhima, terpantau mulai turun di pasar internasional. Musababnya adalah kekhawatiran atas inflasi yang bisa memicu resesi di AS. "Porsi ekspor Indonesia ke AS per Juni 2022 mencapai 11 persen," tuturnya.


Menurut Bhima, risiko kedua adalah biaya bahan baku impor dari AS yang akan mengalami lonjakan. Sehingga, menambah beban pelaku usaha baik makanan minuman, elektronik maupun mesin.


Lebih jauh, menurutnya, resiko ketiga inflasi adalah memicu kenaikan tingkat suku bunga yang pada akhirnya menjadi tambahan cost of fund bagi pelaku usaha dan konsumen. Dampak spiralnya, kaya Bhima, akan melemahkan pemulihan manufaktur dan konsumsi rumah tangga termasuk pembelian kendaraan bermotor dan KPR perumahan.


Adapun inflasi tahunan di Amerika Serikat pada Juni naik menjadi 9,1 persen. Angka tersebut adalah kenaikan tertinggi dalam lebih dari empat dekade. Tingginya inflasi ini membuat harga bahan bakar, makanan, dan perawatan kesehatan di Amerika Serikat melonjak. Biaya sewa di Amerika saat ini pun meningkat ke level tertinggi dalam 36 tahun.


Sementara itu, pada bulan lalu indek harga konsumen (CPI) di Amerika Serikat naik 1,3 persen. Angka tersebut terbesar secara bulanan sejak September 2005, setelah naik 1,0 persen pada Mei 2022. Kenaikan harga energi mencapai 7,5 persen. Tingginya kenaikan harga energi merupakan penyumbang hampir separuh dari kenaikan CPI.


Sedangkan harga bensin di Amerika naik sampai 11,2 persen setelah rebonding 4,1 persen pada Mei 2022. Tetapi di SPBU semenjak itu mengalami penurunan dari rekor tertinggi pada Juni 2022. (TC/MC)


Share:
Komentar

Berita Terkini