Dolar AS Nyaris Rp 15 Ribu, Harga Rumah Bakal Naik-Perusahaan PHK Karyawan

Aris Rinaldi Nasution
Senin, 11 Juli 2022 - 09:20
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi nilai tukar rupiah-dolar AS.

Mediaapakabar.com
Nilai dolar Amerika Serikat (AS) makin mendekati level Rp 15 ribu. Kondisi ini tanpa disadari akan memberikan dampak terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat. Begini penjelasannya.

Director Political Economy & Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan mengatakan dolar AS menguat akan berdampak ke semua harga barang impor baik itu barang jadi, barang setengah jadi, maupun bahan baku. Pasalnya, produsen harus mengeluarkan rupiah lebih banyak, meskipun harga dalam satuan dolarnya tetap sama.


"Barang-barang impor pasti akan lebih mahal seperti bahan pokok dan pangan impor yaitu gula, gandum, bawang putih, kedelai, dan lainnya," kata Anthony saat dihubungi detikFinance, Minggu (10/7/2022).


Senada, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan dolar AS yang terus menguat terhadap rupiah akan berdampak pada biaya bahan baku impor untuk makanan hingga energi. Hal ini tentu cepat atau lambat akan berimbas ke konsumen juga.


"Sejauh ini imported inflation belum dirasakan karena produsen masih menahan harga di tingkat konsumen. Ketika beban biaya impor sudah naik signifikan akibat selisih kurs, maka imbasnya ke konsumen juga. Mulai dari produk turunan gandum seperti mie instan, bawang putih, kedelai, jagung biaya impornya naik tajam," ujarnya.


Selain itu, beban utang luar negeri sektor swasta akan meningkat. Sebab, pendapatan sebagian besar diperoleh dalam bentuk rupiah, sementara bunga dan cicilan pokok berbentuk valas. Hal ini tentu mempengaruhi kinerja perusahaan yang bisa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).


"Situasi currency mismatch akan mendorong swasta lakukan berbagai cara salah satunya efisiensi operasional alias PHK atau memangkas gaji karyawan. Bayangkan inflasi naik, biaya hidup makin berat tapi kesempatan kerja terbatas," ujarnya.


Pelemahan kurs rupiah juga mendorong percepatan kenaikan suku bunga acuan yang bisa berimbas kepada pelaku usaha korporasi, UMKM maupun konsumen. Hal ini membuat cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) rumah hingga kendaraan bisa lebih mahal.


"Banyak milenial yang menunda pembelian rumah kalau suku bunga naiknya terlalu tinggi. Sudah bahan material bangunan seperti keramik, besi baja, kaca naik karena pelemahan rupiah ditambah suku bunga floating rate makin tak terjangkau," bebernya. (DTC/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini