Brigadir J yang Tewas Baku Tembak di Rumah Kadiv Propam Ternyata Mahir Menembak

Aris Rinaldi Nasution
Rabu, 13 Juli 2022 - 00:12
kali dibaca
Ket Foto : Brigpol Nofriansyah Yosua Hutabarat anggota Bareskrim Polri yang tewas ditembak di Rumah Dinas Kadiv Propam Polri, Irjen Pol Ferdy Sambo. Brigadir Yosua ternyata mahir menembak dan jadi sniper saat bertugas di Polda Jambi. (tribun-timur.com)

Mediaapakabar.com
Terungkap sosok Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J yang merupakan anggota Bareskrim Polri yang tewas ditembak di Rumah Dinas Kadiv Propam Polri, Irjen Pol Ferdy Sambo pada Jumat (8/7/2022) lalu ternyata bukan orang sembarangan.

Informasi dihimpun, Brigadir J merupakan sniper saat bertugas di satuan Brimob Polda Jambi. Selain itu, polisi yang terlibat baku tembak tersebut adalah pengawal dengan sopir istri Ferdy.


Almarhum sendiri masuk pendidikan Brimob pada Tahun 2012. Kemudian kembali ke Jambi dan berdinas di Pamenang, Sarolangun. Brigadir Yosua bertugas selama tiga tahun di Pamenang.


Kata Samuel, anaknya merupakan sniper, dan kerap ditempatkan di titik rawan, baik dalam perayaan hari besar agama dan Pemilu.


"Ya dia bilang dan kawan-kawannya juga bilang kalau dia sniper yang khusus ditempatkan di titik rawan," kata Samuel, dikutip dari tribun-timur.com, Selasa (12/7/2022).


Hal tersebut menjadi tandanya bagi Samuel dan keluarga dalam insiden baku tembak tersebut.


Pasalnya, dalam kronologis yang disampaikan pihak Mabes Polri kepada keluarga, yang melakukan penembakan lebih awal adalah korban.


Di mana saat itu, sesuai rilis polisi, Nofriansyah disebut masuk ke kamar istri dari Irjen Pol Ferdy Sambo, kemudian terdengar suara perempuan.


Nofriansyah kemudian keluar kamar, dan bertemu dengan Bharada E. Saat itu, Nofriansyah langsung menembak secara membabi buta ke arah Bharada E.


Namun, saat itu, Bharada E menghindari tembakan Nofriansyah, sambil mengeluarkan senjata dan langsung menembak ke arah Nofriansyah.


Hal tersebut menjadi kejanggalan baginya. Di mana, lawan Nofriansyah disebut tidak terkena tembakan pada insiden tersebut.


"Katanya anak saya lebih dahulu nembak dari jarak 7 meter secara membabi buta, tapi tidak kena. Malah anak saya yang ditembak, katanya pelaku itu menghindar sambil menembak, kayak sinetron aja," bilangnya.


"Logikanya, jarak 7 meter kok bisa tidak kena, kok malah tembakan anak saya yang tidak kena" bilangnya.


Melihat lebih jauh, setelah dinas 3 tahun di Pamenang, Sarolangun, Brigpol kemudian ditarik sebagai Provos di Mako Brimob Polda Jambi.


Setelah 3 tahun menjadi Provos, Nofriansyah kemudian ditarik ke Mabes untuk seleksi menjadi ajudan di Mabes Polri.


Samuel mengatakan, dengan proses tersebut, putranya lulus dengan proses penyaringan yang sangat ketat.


Diketahui, peristiwa baku tembak yang menewaskan Brigpol Nofriansyah Yosua Hutabarat masih menimbulkan sejumlah tanda tanya bagi keluarga.


Pasalnya, sejumlah barang bukti di lokasi kejadian, dan barang-barang milik pribadi korban tidak kunjung diberikan kepada pihak keluarga.


"HP anak saya ada 3, sampai sekarang tidak dikembalikan dan mereka bilang tidak menemukan HP," kata Samuel.


Tidak hanya itu, bahkan mereka juga mempertanyakan barang lainya, termasuk pakaian korban yang tidak kunjung diserahkan.


Kemudian, Samuel juga menjelaskan, sejak Senin 11 Juli 2022 malam, usai prosesi pemakaman, sejumlah HP keluarga inti diduga diretas.


Handphone Ibu, dan kakak kandung sulung korban tidak dapat digunakan untuk mengakses media sosial, dan whatsapp.


"Ya terakhir tadi malam masih bisa dipakai, pas pagi sudah tidak bisa lagi," katanya.


Kejanggalan tersebut terlihat setelah tim dari Mabes Polri menyampaikan bahwa, dalam insiden tersebut, korban terlebih dahulu mengeluarkan senjata api, dan menembak secara membabi buta ke arah ajudan yang berada di rumah tersebut.


Mereka merasa janggal dan bertanya terkait kondisi orang yang terlibat baku tembak dengan putranya tersebut.


"Kalau anak saya yang menembak secara membabi buta, terus kondisi yang ditembak gimana, katanya lagi diperiksa di sana. Nah, logikanya kalau jarak 3 meter tidak mungkin tidak kena kalau terjadi baku tembak," kata Samuel.


Tidak hanya itu, ia juga meminta pihak kepolisian untuk lebih terbuka, dan memperlihatkan CCTV di lokasi kejadian, jika memang anaknya terlebih dahulu melakukan penembakan.


Menurutnya, rumah perwira tinggi seharusnya memiliki CCTV dan pengawasan ketat. "Itu kan rumah perwira tinggi, ya tolong diperlihatkan CCTVnya," sebutnya.


Ia juga menyebut kejanggalan lainnya, di mana, beberapa jam sebelum kejadian, korban dan keluarganya masih intens berkomunikasi.


Saat itu, kedua orang tua korban bersama dengan adiknya sedang pulang ke kampung halaman, Balige, Sumatera Utara untuk ziarah.


Korban selalu aktif memberi komentar setiap foto yang dia lihat di post oleh adiknya. Korban seyogyanya ingin ikut pulang ke kampung halaman, namun ia dalam kondisi tugas.


Saat itu, korban sedang mendampingi keluarga perwira Polri tersebut ke Magelang. Kemudian berkomunikasi dengan sang ibu ia akan kembali ke Jakarta.


"Waktu itu masih aktif chatingan, setiap foto-foto selalu di komentari. Dia bilang enak ya, katanya sama adiknya," jelas Samuel.


Mereka memperkirakan, perjalanan Magelang menuju ke Jakarta sekitar 7 jam. Kemudian, mereka menghubungi kontak korban untuk memastikan apakah sudah tiba di Jakarta.


Namun, saat itu korban tidak bisa dihubungi, semua kontak di keluarganya telah diblokir.


"Semua diblokir, kakaknya dan yang lainnya diblokir," sebutnya.


Tidak berselang lama, mereka mendapat kabar, bahwa anaknya telah meninggal dunia.


Namun mirisnya, informasi tersebut tidak mereka terima langsung dari kepolisian, melainkan dari adik kandung korban yang juga bertugas di Mabes Polri.


Tidak hanya itu, ia juga mengaku tidak dimintai persetujuan terkait proses autopsi yang dilakukan terhadap anaknya.


Ia mendapati anaknya sudah dalam kondisi lebam di sekujur tubuh, dan luka tembak di dada, tangan, leher dan bekas jahitan hasil autopsi.


"Tidak ada meminta persetujuan keluarga atas autopsi yang dilakukan," katanya.


Kejanggalan masih berlanjut, saat jenazah korban tiba, pihak keluarga sempat tidak diizinkan untuk melihat atau membuka pakaian korban.


Kemudian, mereka juga melarang pihak keluarga untuk mendokumentasikan kondisi korban saat pertama kali tiba di rumah duka.


"Awalnya kita dilarang, tapi mamaknya maksa mau lihat dan pas dilihat saya langsung teriak lihat kondisi anak saya badannya lebam, mata kayak ditusuk dan ada luka tembak," sebutnya.


Samuel merasa terpukul dengan kondisi anaknya tersebut, ia mengatakan, jika memang ditemukan kesalahan terhadap anaknya, tidak seharusnya diperlakukan dengan hal tersebut.


"Misalnya pun anak saya salah, ya jangan di siksa begitu," bilangnya.


Dua Cerita Versi Polisi


Karopenmas Divhumas Polri, Brigjen Ahmad Ramadhan, dua kali menyampaikan keterangan terkait kematian Yosua di rumah dinas Kadis Propam Polri, Irjen Pol Ferdy Sambo.


Pada siang hari, dia menyebut saat itu Samuel mau masuk ke rumah Irjen Pol Ferdy Sambo, ditegur penjaga rumah.


Kemudian teguran dijawab Yosua dengan tembakan ke arah yang menegurnya, Bharada E.


Terjadi baku tembak antara Brigadir J atau Yosua dengan E, hingga akhirnya Yosua tewas.


Pada pernyataan beberapa jam setelahnya, Brigjen Ahmad Ramadhan mengatakan penembakan terjadi setelah istri Irjan Pol Ferdy Sambo berteriak dari kamar.


Disebutkannya, Yosua Hutabarat saat itu masuk ke kamar tersebut, lalu melakukan pelecehan dan mengancam pakai pistol.


Istri perwira tinggi itu berteriak, lalu Yosua keluar dari kamar.


Di sisi lain, Bharada E awalnya di lantai dua, turun dan menanyakan maksud Yosua.


Pertanyaan dijawab dengan tembakan oleh Yosua. Hingga terjadi baku tembak.


Yosua Hutabarat, yang memiliki latar belakang anggota Brimob, disebutnya menembak 7 kali dan tidak sekalipun kena.


Sementara Bharada E menembak sebanyak 5 kali, dan 4 kali kena sasaran.


Peristiwa baku tembak itu terjadi Jumat lalu, jenazah dibawa ke Jambi Sabtu, dimakamkan pada Senin.


Peristiwa tragis ini baru terungkap ke publik pada hari Senin kemarin, setelah pihak keluarga buka suara karena merasakan banyak keanehan. (TRB/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini