Alasan Eks PM Malaysia Puji Jokowi ke China Temui Xi Jinping

Aris Rinaldi Nasution
Sabtu, 30 Juli 2022 - 10:19
kali dibaca
Ket Foto : Eks PM Malaysia Najib Razak menilai tur Jokowi ke 3 negara Asia Timur pekan ini bentuk diplomasi teladan yang patut dicontoh Negeri Jiran guna memajukan negara. (Dok. Sekretariat Presiden RI)

Mediaapakabar.com
Mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak memuji langkah Presiden Joko Widodo yang melangsungkan tur ke tiga negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan China.

Najib menganggap tur Jokowi ke Asia Timur terutama ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping merupakan bentuk dari diplomasi teladan.


Melalui unggahannya di Facebook, Najib menganggap Indonesia tengah maju secara ekonomi mengingat Jokowi terus melakukan "langkah proaktif" mendekati negara-negara strategis terkait kerja sama perdagangan dan investasi.


"China merupakan mitra perdagangan terbesar dan utama kita, dan kita juga menerima keuntungan besar dalam bisnis minyak sawit, infrastruktur, ekonomi digital, dan berbagai investasi dari China. Seperti Indonesia saat ini," ujar Najib dikutip dari CNNIndonesia.com.


"Itu merupakan satu dari beberapa alasan utama kenapa saya menjaga dan memperkuat hubungan kita dengan pemimpin negara lain kala saya menjabat sebagai perdana menteri," tuturnya lagi.


Najib juga bercerita bahwa di saat ia masih memimpin Malaysia, kala kepemimpinannya, Malaysia dapat menyelesaikan krisis bersama beberapa pemimpin dunia. Ia juga mengklaim perusahaan lokal bahkan meminta bantuannya untuk memfasilitasi investasi asing.


Meski begitu, Najib menyayangkan tuduhan koalisi Pakatan Harapan yang menilainya 'menjual' Malaysia.


"Pakatan Harapan mengatakan saya menjual negara. Saya juga dikritik karena membawa investor dari luar negeri. Seharusnya saya memperkuat ekonomi asing ketimbang membawa investasi untuk masyarakat kita," kata Najib lagi seperti dikutip South China Morning Post.


Selain itu, Najib menuduh pemerintahan Pakatan Harapan menghancurkan hubungan baik yang telah dibuatnya dengan pemerintahan asing.


Menurut analis politik Oh Ei Sun, pernyataan tajam Najib ditujukan untuk memperkuat posisi kubunya dalam pemerintahan. Najib tak hanya menyasar aliansi Pakatan Harapan, tetapi juga pemerintahan saat ini.


Sebagaimana diberitakan Britannica, Najib menjabat sebagai perdana menteri Malaysia sejak 2009 hingga 2018.


Najib sendiri terlibat kasus penyalahgunaan kekuasaan, pencucian uang, dan pelanggaran atas kepercayaan. Akibat kasus itu, Najib didakwa 12 tahun penjara dan harus membayar denda senilai US$50 juta (Rp742 miliar) pada Juli 2021.


The Diplomat melaporkan Najib menerima kekayaan senilai 42 juta ringgit (Rp140 miliar) dari SRC International, yang dahulu merupakan unit dari 1MDB.


Dana tersebut diterima bukan untuk kepentingan nasional.


1MDB sendiri merupakan program investasi negara Malaysia yang dipantau langsung oleh Najib. Pada 2015, laporan menemukan bahwa sekitar US$700 juta (Rp10 triliun) dana masuk ke akun bank Najib. 


Pihak 1MDB dan Najib membantah melakukan kesalahan, tetapi kasus itu kemudian diselidiki sebagai kasus korupsi.


Dalam pertemuan Jokowi dengan Presiden Xi Jinping pada Selasa (26/7), keduanya sepakat memperkuat kerja sama ekonomi antar kedua negara.


Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, yang turut mendampingi Jokowi dalam pertemuan itu menyampaikan China berkomitmen meningkatkan kerja sama ekonomi hijau.


Bentuk kerja samanya antara lain lewat pembangunan Green Industrial Park di Kalimantan Utara, pun peningkatan impor produk pertanian Indonesia.


Pertemuan Jokowi dan Xi Jinping juga memastikan sejumlah kesepakatan lain yaitu:


1. Pembaruan Nota Kesepahaman (MoU) Sinergi Poros Maritim Dunia dan Belt Road Initiative


2. MoU Kerja sama Pengembangan dan Penelitian Vaksin dan Genomika


3. MoU mengenai Pembangunan Hijau


4. Pengaturan Kerja sama Kelautan


5. Protokol mengenai ekspor nanas Indonesia


6. Pengaturan Kerja Sama Pertukaran Informasi dan Penegakan Pelanggaran Kepabeanan


7. Rencana Aksi Kerjasama Pengembangan Kapasitas Keamanan Siber dan Teknologi


Selain bertemu Xi, Jokowi berkesempatan bertemu Perdana Menteri China Li Keqiang. Dalam pertemuan keduanya, China menyatakan niat untuk mengimpor 1 juta ton minyak sawit CPO dari Indonesia, pun melanjutkan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang sempat tertunda.


Jepang

Setelah berkunjung ke China, Jokowi bertolak ke Jepang pada Rabu (27/7). Dalam lawatannya ke Jepang, Jokowi bertemu dengan Perdana Menteri Fumio Kishida.


Usai pertemuan itu, Jokowi dan Kishida sepakat memperkuat hubungan kedua negara. Jokowi juga secara langsung mengundang Kishida untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang berlangsung di Bali pada November.


Tak hanya itu, Jepang menegaskan bahwa negaranya akan bergabung dalam latihan militer gabungan Garuda Shield yang dijadwalkan pada Agustus.


Sebagaimana diberitakan Reuters, latihan Garuda Shield ini juga akan melibatkan pasukan Amerika Serikat dan Australia.


NHK melaporkan Jepang juga menyatakan kesiapan mereka menyediakan sejumlah kapal patroli untuk memperkuat pasukan pertahan Indonesia. Kishida mengatakan Jepang bakal membantu meningkatkan patroli maritim RI.


Meski begitu, mereka tak menyebutkan rincian lebih lanjut terkait jumlah persis kapal yang disediakan.


Dari segi ekonomi, Jepang menyatakan kesiapan mereka untuk meminjamkan dana senilai 43,6 miliar yen atau Rp4,7 triliun kepada Indonesia untuk membangun proyek infrastruktur.


Selain itu, Jokowi sempat meminta Jepang untuk mendukung penurunan tarif beberapa produk ekspor RI, seperti tuna, pisang, nanas. Jokowi juga meminta akses pasar untuk produk mangga dari Indonesia.


Jokowi dan Kishida juga sepakat mempercepat penyelesaian proyek pembangunan kerjasama kedua negara di Indonesia. Beberapa proyek itu antara lain MRT Jakarta North-South Fase II dan East-West Fase I, Kawasan Industri Papua Barat, pun perluasan Pelabuhan Patimban dan Jalan Tol Akses Patimban.


Korea Selatan

Setelah mengunjungi Jepang, Jokowi melanjutkan perjalanan ke Korea Selatan pada Kamis (28/7). Di Korsel, Jokowi bertemu dengan Presiden Yoon Suk Yeol.


Usai pertemuan tersebut, Yoon menegaskan kedua negara bertekad melanjutkan kerjasama pembuatan jet tempur KF-21 Boramae. 


Namun, Jokowi tak menyinggung sama sekali soal KF-21, jet buatan Korsel yang dalam produksinya bekerja sama dengan Indonesia.


Selain itu, Jokowi dan Yoon menandatangani amandemen nota kesepahaman (MoU) terkait pemindahan dan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.


"Hal ini akan menjadi fondasi bagi perusahaan Korea Selatan untuk berkontribusi besar pada pembangunan infrastruktur, sistem pemerintah berbasis elektronik atau smart city di ibu kota baru di Indonesia," kata Yoon.


Tak hanya itu, Jokowi menyatakan Indonesia dan Korsel telah memulai kerja sama dalam pengembangan IKN Nusantara. Beberapa kerja sama tersebut yakni sistem penyediaan air minum dan pembangunan capacity building.


Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, menjelaskan bahwa Korsel memberikan hibah pembangunan instalasi pemurnian air dengan kapasitas 300 liter per detik.


Korsel juga sepakat membantu pembangunan instalasi pengolahan limbah cair di IKN Nusantara.


Dari segi investasi, Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia, yang turut mendampingi Jokowi dalam kunjungan itu, mengatakan Hyundai Motor Group tertarik untuk berinvestasi di calon ibu kota baru RI tersebut. Hyundai juga berencana melakukan ekspansi mobil listrik dan RND di Indonesia.


Kementerian Investasi RI juga menandatangani MoU dengan perusahaan pembuat besi Korsel, POSCO. Bahlil mengklaim POSCO berminat untuk berinvestasi di IKN. (CNNI/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini