Platform Jual Beli Mobil Baru dan Bekas

Platform Jual Beli Mobil Baru dan Bekas

Ada Angin Segar Buat RI Kala Dunia Diramal Resesi

Aris Rinaldi Nasution
Kamis, 07 Juli 2022 - 23:25
kali dibaca
Ket Foto : Infografis/ Efek Corona hancurkan 22 negara Hingga alami Resesi. (CNBCIndonesia.com)

Mediaapakabar.com
Josua Pardede, Ekonom PT Bank Permata, mengatakan resesi global yang diperkirakan terjadi dalam waktu dekat mempunyai perbedaan dengan krisis-krisis sebelumnya, terutama dengan krisis pandemi.

Krisis pandemi berawal dari penurunan aktivitas ekonomi akibat menyebarnya pandemi Covid-19. Sementara itu, krisis 2008 berasal dari burst yang terjadi pada aset derivatif di AS yang kemudian melebar ke berbagai aset finansial global.


"Potensi resesi pada kali ini cenderung berasal dari potensi stagflasi di berbagai negara," jelas Josua kepada CNBC Indonesia, Rabu (6/7/2022).


Stagflasi berasal dari kenaikan inflasi di sebagian sektor, akibat bahan baku yang meningkat utamanya komoditas energi dan pangan. Namun, inflasi ini juga tidak diimbangi oleh peningkatan permintaan.


Sehingga daya beli masyarakat umum mengalami penurunan, yang kemudian mendorong perlambatan pengeluaran konsumen secara global.


"Kondisi inflasi yang tinggi diperkirakan mempengaruhi Indonesia, terutama bila stagflasi tersebut terjadi di mitra dagang dan investasi Indonesia, seperti Tiongkok dan AS," jelas Josua.


Diperkirakan bila stagflasi terjadi, maka aliran ekspor dan investasi Indonesia akan cenderung terhambat di tengah proses pemulihan pasca pandemi.


Selain dari sisi investasi dan perdagangan, stagflasi yang terjadi di berbagai negara juga berpotensi melemahkan nilai tukar Rupiah akibat investor yang mencari aset-aset safe haven di kala krisis.


Potensi stagflasi di Indonesia sendiri, kata Josua relatif masih rendah di tengah inflasi yang meningkat, sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menjaga harga, sehingga hingga saat ini indikator konsumen Indonesia masih relatif solid.


"Dampak kepada perekonomian Indonesia pada resesi global diperkirakan tidak separah 2020 ataupun 1998 seiring dengan kondisi ekonomi riil yang masih relatif stabil sejauh ini," ujarnya.


"Namun, potensi perlambatan ekonomi masih tetap ada, seiring dengan dampaknya pada beberapa sektor dan nilai tukar rupiah," kata Josua lagi. (CNBC/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini