Thailand Larang Remaja Pakai Ganja usai Siswa Diduga Overdosis

Aris Rinaldi Nasution
Jumat, 17 Juni 2022 - 11:45
kali dibaca
Ket Foto : Thailand melarang warga di bawah 20 tahun mengonsumsi ganja usai siswa berusia 16 dan 17 tahun dilarikan ke rumah sakit, diduga akibat overdosis mariyuana. (Thailand Public Health Ministry via Reuters)

Mediaapakabar.com
Thailand melarang warga di bawah 20 tahun mengonsumsi ganja usai siswa berusia 16 dan 17 tahun dilarikan ke rumah sakit, diduga akibat overdosis mariyuana.

Bangkok Post melaporkan, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Kesehatan Masyarakat Thailand, Anutin Charnvirakul, meneken aturan itu pada Kamis (16/6/2022).


Berdasarkan aturan itu, warga berusia di bawah 20 tahun tak diizinkan memiliki dan menggunakan tanaman yang berhubungan dengan ganja, kecuali mengantongi izin dokter.


Lebih lanjut, Anutin memastikan pemerintah juga akan mengeluarkan aturan untuk membatasi atau melarang konsumsi ganja di tempat umum dan mengontrol ganja dalam makanan.


Menurut aturan Departemen Pengobatan Tradisional dan Alternatif Thailand, warga dilarang menggunakan ganja di tempat-tempat umum, di antaranya lembaga pendidikan, toko serba ada, dan lembaga negara.


Selain itu, mereka juga melarang perempuan yang tengah hamil dan setelah melahirkan mengonsumsi ganja.


"Kami belum menyebutkan penggunaan kuncupnya, terutama penggunaannya dalam makanan. Sejauh ini, kami memiliki undang-undang soal kandungan THC," demikian pernyataan departemen itu.


THC adalah senyawa psikoaktif utama dalam ganja, yang membuat orang merasa melayang. Berdasarkan aturan Thailand, kadar THC dalam ganja tak boleh melebihi 0,2 persen.


Kementerian Kesehatan juga sudah mengeluarkan pedoman soal penggunaan ganja dalam memasak. Menurut pedoman tersebut, warga tidak boleh mengonsumsi lebih dari dua kali makan yang mengandung ganja setiap hari.


Konsumsi ganja yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan otak. Mereka juga mengingatkan bahwa penggunaan ganja di kalangan anak-anak dapat mempengaruhi perkembangan otak.


Aturan-aturan itu, kata Anutin, akan menjadi alat bagi pejabat dalam mengendalikan penggunaan dan mencegah penyalahgunaan ganja.


Anutin menegaskan kembali aturan-aturan ini setelah empat warga, termasuk siswa berusia 16 dan 17 tahun, dilaporkan dirawat di rumah sakit karena diduga overdosis ganja. Satu di antaranya akhirnya meninggal.


Meski demikian, Anutin menekankan bahwa warga itu meninggal bukan karena overdosis ganja, melainkan gagal jantung.


Thailand meresmikan penggunaan dan penanaman ganja untuk keperluan medis dan bisnis pada 9 Juni lalu. Pemerintah ingin meningkatkan taraf kesehatan warga dan perekonomian negara. (CNNI/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini