Terdakwa Perkara Tewasnya Tahanan Polrestabes Medan Dituntut 9 Tahun Penjara

Aris Rinaldi Nasution
Kamis, 30 Juni 2022 - 17:20
kali dibaca
Ket Foto : Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pantun Marojahan Simbolon saat membacakan tuntutan di ruang Cakra 8 Pengadilan Negeri Medan. 

Mediaapakabar.com
Hisarma Pancamotan Manalu (44) terdakwa perkara penganiayaan yang tewasnya tahanan Polrestabes Medan bernama Hendra Syahputra dituntut hukuman 9 tahun penjara.

Tuntutan 9 tahun tersebut diberikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Medan Pantun Marojahan Simbolon SH di hadapan majelis hakim yang diketuai Eliwarti dalam sidang yang berlangsung di ruang Cakra VIII Pengadilan Negeri Medan, Kamis (30/6/2022).

 

"Meminta kepada majelis hakim yang menyidangkan agar menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Hisarma Pancamotan Manalu denganpidana 9 tahun penjara," tuntut JPU Pantun Marojahan SH.


JPU menilai bahwa terdakwa terbukti bersalah sebagaimana diatur dalam Pasal 170 ayat (2) Ke-3 KUHPidana Subs Pasal 368 ayat (1) Jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHPidana Subs Pasal 351 ayat (3) Jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHPidana.


Usai mendengar tuntutan dari jaksa, majelis hakim diketuai Immanuel Tarigan kemudian menunda persidangan untuk dilanjutkan kembali pada pekan depan.


Sebagaimana diketahui sebelumnya, peristiwa tewasnya seorang tahanan bernama Hendra Syahputra di RTP Polrestabes Medan diduga karena dianiaya, belakangan terungkap dikarenakan tak memberikan uang Rp5 juta untuk keamanan dan pembinaan di sel Tahanan Polrestabes Medan.


Hal tersebut terungkap berdasarkan keterangan terdakwa Hisarma Pancamotan Manalu dalam persidangan lanjutan yang beragendakan keterangan terdakwa di ruang Cakra 8 Pengadilan Negeri Medan, Kamis (9/6/2022).


Pada persidangan itu terdakwa Hisarma yang hadirkan secara virtual melalui video teleconference, mengaku bahwa dirinya menganiaya korban atas perintah Leo Sinaga yang merupakan oknum Polisi di Polrestabes Medan. "Kami disuruh Leo Sinaga memukuli korban, bu hakim," ujar terdakwa Hisarman di hadapan majelis hakim yang diketuai Eliwarti.


Selain itu, terdakwa juga mengaku dirinya diperintahkan Leo Sinaga agar meminta uang Rp5 juta kepada korban dengan alasan untuk biaya keamanan di dalam sel tahanan Polrestabes Medan.


"Leo memerintahkan kami minta uang sama korban. Kata Leo, minta uang Rp5 juta sama dia (korban), banyak uangnya tuh, kawan anaknya dicabulinya, kalian siksa aja," sebut terdakwa menirukan perkataan Leo Sinaga.


"Jadi, kalau seandainya korban memberikan uang itu, apakah kalian kebagian juga?," tanya pengacara kepada terdakwa. Terdakwa pun mengakui mendapat bagian dari uang yang diberikan korban. "Biasanya dikasihnya bu," ujar terdakwa mengakui.


Hal tersebut juga membuat Ketua majelis hakim, Eliwarti terperangah ketika mendengar pernyataan terdakwa. "Ooooo, Berarti sudah sering ya," sebut Ketua majelis hakim Eliwarti.


Di luar persidangan, Hermansyah selaku adik korban mengatakan bahwa ada beberapa oknum Polisi yang terlibat atas meninggalnya Hendra Syahputra di dalam sel tahanan Polrestabes Medan.


"Dibilang ada oknum aktif yang terlibat, seharusnya Kapolda bertanggung jawab sama semua ini, kenapa masih ada hal seperti ini terjadi. Kejanggalan di perkara ini, kenapa disembunyikan? bukti-bukti, kan sudah jelas anggotanya terlibat, kenapa disembunyikan?," katanya.


Dirinya mengatakan bahwa dalam persidangan jelas terungkap adanya beberapa oknum Polisi aktif yang terlibat diantara 12 tersangka yang sebelumnya terseret dalam kasus tersebut.


"Setahu saya ada 12 orang tersangka, tapi dalam perkara ini baru terdakwa Hisarma yang diadili. Dari keterangan Hisarma juga terungkap ada oknum petugas aktif yang terlibat. Selain itu, saya mendapat kabar bahwa dari beberapa tersangka sudah ada yang bebas," bebernya sembari mengancam akan melaporkan kembali para tersangka yang telah dibebaskan.


Sebagaimana diketahui sebelumnya, dalam perkara ini 8  tahanan ditetapkan sebagai tersangka yakni, Tolib Siregar alias Randi, Wily Sanjaya alias Aseng Kecil, Nino Pratama Aritonang, Hendra Syahputra alias Jubal, Juliusman Zebua, Andi Arpino dan Hisarma Pancamotan Manalu. Hal itu sebagaimana tercantum dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum.


Namun, dari kedelapan tersangka tersebut, baru terdakwa Hisarma Pancamotan Manalu yang diadili di Pengadilan Negeri (PN) Medan. Sementara berkas ketujuh tersangka lainnya masih berada di Polrestabes Medan.


"Baru, terdakwa Hisarma Pancamotan Manalu yang diadili, sementara berkas ketujuh terdakwa lagi, penyidik Polrestabes Medan belum kembali melimpahkannya, kemarin sempat di P19, namun hingga saat ini belum ada pelimpahan berkas kembali," ujar JPU Pantun ketika dikonfirmasi usai persidangan.


Mengutip dakwaan JPU Pantun Marojahan Simbolon SH mengatakan pada bulan November 2021, saksi Andi Arpino yang merupakan Kepala Blok (Kablock) dipanggil oleh Penjaga Piket Rumah Tahanan Polrestabes Medan, kemudian saksi Andi mengantarkan korban Hendra Syahputra (meninggal dunia) ke Blok G.


"Lalu, saksi Andi meminta uang kebersamaan kepada korban sebesar Rp2 juta, yang mana setiap tahanan harus membayar uang kebersamaan kepada saksi Andi, kemudian korban menghubungi saksi Hermansyah, namun korban tidak memberikan uang kebersamaan kepada saksi Andi," sebut JPU Pantun Marojahan Simbolon.


Lanjut dikatakan JPU, saksi Andi Arpino meminta uang tersebut karena di paksa oleh Leonardo Sinaga oknum Polisi Polrestabes Medan yang merupakan penjaga piket rumah tahanan, namun korban tidak memberikan, sehingga saksi Juliusman Zebua langsung memukul pundak korban sampai terjatuh.


"Kemudian saksi Andi meminta agar korban menghubungi keluarga korban, namun nomor handphone keluarga korban tidak aktif. Mengetahui hal tersebut saksi Willy Sanjaya alias Aseng Kecil dan saksi Nino Pratama Aritonang langsung memukul punggung korban dari arah belakang. Lalu, saksi Hendra Siregar alias Jubel memukul bagian pundak korban dan saksi Nino memukul bagian lutut sebelah kiri korban menggunakan bola karet yang dibungkus menggunakan baju," sebutnya.


Selanjutnya, kata JPU, saksi Andi menyuruh korban kembali menghubungi keluarganya bernama Hermansyah agar diberikan uang Rp2 juta untuk uang kebersamaan, namun Hermansyah tidak memiliki uang tersebut.


"Mendengar hal itu, saksi Tolib Siregar alias Randi merasa kesal dan kembali memukul lutut sebelah kiri korban masing-masing sebanyak 2 kali kepada dengan menggunakan bola karet. Lalu, terdakwa Hisarma Pancamotan Manalu menendang bahu sebelah kanan korban sebanyak 1 kali sampai korban terjatuh ke lantai. Kemudian korban berjalan ke arah belakang sel dan diikuti terdakwa serta tahanan lainnya ikut mengelilingi korban," katanya.


Kemudian, tahanan bernama Rizki membawa balsem dan menyuruh korban mastrubasi dengan menggunakan balsem tersebut. Setelah itu, saksi Andi mengatakan kepada korban jika tidak punya uang jangan janjikan ke piket nanti kalau gak ada payah urusannya. 


Selanjutnya, pada malam harinya, korban mendatangi saksi Andi, namun belum sempat ke tempat saksi Andi, saksi Hendra Siregar alias Jubal langsung menghadang korban dan memukul tangan korban menggunakan asbak dengan mengatakan “Mau ngapain kau menjumpai Kablock” dan saksi Hendra mengancam korban dengan menggunakan bola karet tersebut.


Keesokan harinya, korban kembali menemui saksi Andi hendak meminjam handphone untuk menghubungi Hermansyah (keluarga korban), namun tidak diangkat.


Selanjutnya, saksi Nino memukul korban menggunakan kaleng rokok, sehingga korban mengalami luka lebam di bagian lutut sebelah kanan dan kiri, luka lebam dibagian punggung belakang akibat pemukulan hingga susah berjalan.


Lalu, saksi Hendra Siregar alias Jubel melemparkan bola karet ke arah bagian tubuh korban, hingga mengalami sakit dan susah berjalan. Kemudian, saksi Andi memberikan handphonenya agar korban menghubungi keluarga dan memberitahukan bahwa korban sedang sakit, namun tidak direspon.


Selanjutnya, pada Sabtu, 21 November 2021 sekira pukul 08.30 WIB, korban mengalami demam tinggi dan melihat hal tersebut terdakwa Hisarma Pancamotan Manalu melaporkan kepada piket yang berjaga dan korban dibawa ke Klinik Polrestabes Medan untuk dilakukan pemeriksaan.


Kemudian, pada Selasa, 23 November 2021 sekira pukul 03.00 WIB, korban dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara dan pada sekira pukul 17.00 WIB, korban dinyatakan sudah meninggal dunia.


Dari hasil pemeriksaan luar dan dalam, penyebab kematian korban mati lemas karena perdarahan yang luas pada rongga kepala disertai retaknya dasar tulang tengkorak kepala akibat trauma tumpul.


"Atas perbuatannya, terdakwa melanggar Pasal 170 ayat (2) Ke-3 KUHPidana Subs Pasal 368 ayat (1) Jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHPidana Subs Pasal 351 ayat (3) Jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHPidana," pungkasnya. (MC/DAF)

Share:
Komentar

Berita Terkini