Pertalite Bakal Dibatasi, Bagaimana Nasib Mobil Tua?

Aris Rinaldi Nasution
Kamis, 16 Juni 2022 - 20:03
kali dibaca
Ket Foto : Mobil tua. (detikcom)

Mediaapakabar.com
Bahan Bakar Minyak (BBM) Research Octane Number (RON) 90 alias Pertalite akan dibatasi penggunaannya. Mobil tua dengan kompresi rendah, biasanya menggunakan BBM dengan oktan rendah. Bagaimana nasibnya jika harus terpaksa naik ke Pertamax?

Masing-masing jenis BBM disesuaikan dengan kompresi mesin. Lebih lanjut, Pengamat Otomotif sekaligus Akademisi ITB, Yannes Pasaribu mengatakan kompresi ruang bakar mesin berteknologi lama (karburator) dan kompresi rendah seperti yang ada pada banyak kendaraan roda empat yang ada di Indonesia sampai dengan tahun 1981-an kurang lebih berjumlah 4.629.783 buah dan roda dua berjumlah sekitar lima kalinya, memiliki tingkat kompresi mesin dibawah 9:1.


"Jenis kendaraan ini yang akan jadi korban BBM oktan tinggi," kata dia.


Dikhawatirkan jika mobil tua menggunakan angka oktannya terlalu tinggi dan timing pengapiannya tidak bergeser otomatis seperti kendaraan zaman sekarang, maka bahan bakar tidak terbakar sempurna. Lalu apa ada solusinya?


Salah satunya ialah dengan memapas head cylinder. Dengan papas kepala silinder bisa menaikkan tekanan kompresi.


"Kalau nggak cocok timing-nya nanti lemot, di gas spontan nggak langsung kencang. Itu saja, kalau seperti itu adanya, berarti dia harus menyesuaikan timing-nya," kata Ahli Konversi Energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung Prof Tri Yuswidjajanto Zaenuri.


"Tapi kalau misalnya timing gak terkejar, ya sudah cylinder head dipapas saja, supaya kompresinya naik. Pasang lagi. Jadi sebenarnya tidak perlu banyak biaya untuk menyesuaikan," jelasnya.


Kekhawatiran lain, ialah masalah fuel dilution. Yannes menjelaskan hal ini disebabkan lantaran sisa BBM yang tidak terbakar dari ruang bakar masuk ke dalam crankcase dan bercampur dengan oli mesin, sehingga akan mengurangi performa oli mesin. Salah satu penyebabnya dapat terjadi akibat oktan BBM terlalu rendah atau terlalu tinggi.


"Penyebab lainnya adalah dinding silinder aus dan ring piston lemah, dan kebocoran injektor," ujar dia.


Namun Tri menjelaskan fuel dilution bisa terjadi jika perpindahan RON yang terlalu jauh dari yang direkomendasikan pabrikan.


"Itu (fuel dilution) kan kalau loncatnya terlalu jauh, jadi misalnya seharusnya RON 91, terus naik ke RON 98, karena berpikir RON lebih tinggi jadi lebih bagus. Baik mobil maupun motor sekarang ECU, itu dia bisa menggeser timing ignition-nya. Cuma tentu ada batasnya," jelas Tri.


Salah satu pecinta mobil kuno, Marius Pratiknjo, anggota PPMKI Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI), mengatakan mobil-mobil tua masih bisa menenggak BBM dengan RON tinggi, tapi ada syaratnya.


"Sebenarnya itu tidak terlalu masalah. Ya balik lagi masalahnya ke uang. Kayak kita misalnya speknya si jaman dulu mobil-mobil kita yang tua, itu spek mobil dengan timbal, leaded. Yang sekarang tanpa timbal, karena tidak boleh mengandung itu oleh Kementerian Lingkungan Hidup, nah misalnya kayak gitu kita nggak papa, kita bisa pakai yang unleaded, banyak kok yang jual. Lead substitute namanya." ujar Marius saat ditemui di Darmawangsa, Jakarta Selatan beberapa waktu yang lalu.


"Jadi (lead substitute) itu membuat karakteristiknya seperti timbal. Kayak begitu-begitu ada. Itu juga menurunkan supaya RON rendah juga ada. Bisa, itu tidak akan masalah. Cuma akan lebih konyol, kita beli Pertamax lebih mahal, lalu kita mesti tambah barang itu lagi kan," ungkap dia.


Yang jelas, Kepala BPH Migas Erika Retnowati menegaskan pemilik mobil cc besar tidak termasuk dalam kategori pembeli Pertalite.


Menurut Erika, mobil dengan kapasitas kubikasi mesin lebih besar akan mengonsumsi BBM lebih banyak. Meski begitu, Erika belum merinci dengan detail mobil cc besar dengan kapasitas mesin berapa yang bakal dilarang membeli Pertalite. "Untuk CC nya masih dalam pembahasan ya. Nanti akan disosialisasikan," ujar Erika. (DTC/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini