Kades Ampung Padang Akui Terdakwa AAN Penambang Emas

Aris Rinaldi Nasution
Kamis, 30 Juni 2022 - 18:56
kali dibaca

Ket Foto : Kades Ampung Padang, Mahdi Batubara ketika menjadi saksi dalam kasus PETI dengan terdakwa Akhmad Arjun Nasution di PN Madina, Kamis, 30 Juni 2022.

Mediaapakabar.com
- Sidang lanjutan Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) dengan terdakwa Akhmad Arjun Nasution alias AAN menghadirkan saksi Kepala Desa (Kades) Ampung Padang, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Mahdi Batubara, Kamis (30/06/2022).

Dalam kesaksiannya, di hadapan majelis hakim yang diketuai Arief Yudiarto, saksi membenarkan bahwa terdakwa AAN merupakan penambang emas di desanya.

"Terdakwa AAN mengelola tambang di desanya tidak pernah meminta izin kepadanya untuk melakukan penambangan," katanya dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Mandailing Natal.

"Benar, seingat saya memang saudara Arjun mengelola tambang di desa Ampung Padang. Dan yang saya tahu, lahan yang dikelola saudara Arjun ini milik Syafrin Lubis".terangnya di dalam sidang.

Saksi menjelaskan bahwa sepengetahuannya, terdakwa juga menyewa alat berat untuk melakukan penambangan. Dan jarak lokasi tambang yang dikelola oleh terdakwa AAN hanya berjarak sekitar 20 meter dari Daerah Aliran Sungai (DAS).

"Secara jelasnya saya tidak tahu pasti berapa jaraknya. Hanya saja, diperkirakan jaraknya sekitar 20 meter dari pinggir sungai. Dan saudara Arjun menurut cerita warga saya bahwa dia memang menyewa alat berat untuk melakukan penambangan," ungkap Mahdi Batubara yang menjabat sebagai Kades Ampung Padang sejak tahun 2017 itu.

Pantauan wartawan, selain agenda mendengarkan kesaksian dari Kades Ampung Padang. Dalam sidang kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Putra Masduri, SH juga membacakan kesaksian dari Adam Muri seorang operator alat berat yang ikut diamankan oleh Polisi ketika melakukan penertiban aktivitas PETI di Kecamatan Batang Natal pada saat itu. 

Dalam kesaksian Adam Muri yang kesaksiannya dibacakan melalui Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Mapolda Sumut ini menjelaskan bahwa dirinya diajak dan dibayar secara persentase dengan terdakwa AAN. 

Namun, karena operator alat berat tersebut baru bekerja beberapa hari, sehingga dirinya belum menerima pembayaran, karena lokasi tambang yang dikerjakannya telah ditertibkan oleh Kepolisian. 

"Awalnya saya diajak teman saya untuk bekerja di tambang milik saudara Arjun. Saya diajak oleh teman saya bernama Jack. Sesuai kesepakatan saya diupah  sebesar lima persen per minggu dari hasil yang saya dapat," tegas JPU membacakan BAP saksi Adam Muri. 

Setelah mendengar keterangan para saksi, hakim pun menanyakan apakah terdakwa keberatan atau ada sanggahan atas pernyataan saksi. Namun tersangka merasa tidak ada keberatan, hanya saja terdakwa menjelaskan bahwa dirinya tidak memberikan sewa lahan. 

"Saya tidak sewa lahan dengan Safrin Yang Mulia. Sistem yang kami sepakati adalah sistem bagi hasil dari emas yang saya dapat di lahan miliknya. Setelah emas itu dijual, sesuai dengan harga emas di pasar, hasilnya 25% untuk pemilik lahan," jelas terdakwa. 

Usai mendengarkan pernyataan terdakwa, majelis hakim menunda persidangan hingga Kamis depan (07/07/2022). Adapun agenda sidang Kamis depan akan mendengarkan saksi Ahli yang akan dihadirkan oleh JPU dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam Wilayah VI Sumbagut dan dari Dinas Perizinan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. (MC/Red)
Share:
Komentar

Berita Terkini