Hati-hati, Orang RI Mulai Kurangi Konsumsi! Hawa Resesi...?

Aris Rinaldi Nasution
Kamis, 30 Juni 2022 - 11:15
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2022 tercatat Rp Rp7.854,8 triliun atau tumbuh 12,1% (year on year/yoy). Ini adalah pertumbuhan terendah sejak November 2021. Melambatnya pertumbuhan uang beredar sejalan dengan sikap konsumen yang mengurangi belanja usai liburan serta adanya lonjakan harga alias inflasi.

Menurut data Bank Indonesia (BI), pertumbuhan uang beredar jauh lebih rendah dibandingkan April yakni 13,6%. Secara nominal, uang beredar pada Mei turun Rp 56,7 triliun dibandingkan bulan sebelumnya.


Pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) sebesar 18,4% (yoy) dan uang kuasi sebesar 4,6% (yoy). Secara nominal, peredaran M1 tercatat Rp 4.472,2 triliun sementara uang kuasai sebesar Rp 3.356,2 triliun.


BI menjelaskan berkurangnya uang beredar disebabkan penurunan peredaran uang kartal dan tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu. Peredaran uang kartal pada Mei 2021 tercatat Rp 820,2 triliun, atau tumbuh 10,3% (yoy), anjlok dibandingkan bulan sebelumnya (22,3%, yoy).


"Ini sejalan dengan kembali normalnya kebutuhan kartal masyarakat pasca Idul Fitri," tulis BI dalam laporannya. Berkurangnya uang beredar juga disebabkan menurunnya ekspansi keuangan pemerintah serta penyaluran kredit.


Ekspansi keuangan pemerintah tercatat melambat, tercermin dari tagihan bersih kepada pemerintah pusat yang tumbuh 3,8% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada April 2022 sebesar 22,3% (yoy). Sementara itu, penyaluran kredit pada Mei 2022 tumbuh 8,7% (yoy), turun dibandingkan April yang tercatat 8,9% (yoy).


Perlambatan kredit terjadi pada sektor konsumsi dan kredit modal kerja (KMK) sementara kredit investasi meningkat. Kredit Modal Kerja (KMK) tumbuh 11,0% (yoy) pada Mei 2022, melambat dari bulan sebelumnya (11,5%, yoy). Perlambatan KMK terjadi pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan, serta sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan.


Kredit konsumsi melambat menjadi 6,2% pada Mei dari 6,4% pada April 2022. Perlambatan terjadi baik untuk Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) ataupun Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). KPR dan KPA (Kredit Pemilikan Apartemen) melandai menjadi 9,8% pada Mei dari 10,5% pada April.


Di sisi lain, Kredit Investasi meningkat dari 7,2% (yoy) pada April 2022 menjadi 7,6% (yoy) pada Mei 2022, terutama di sektor konstruksi serta sektor pengangkutan dan komunikasi.


BI juga mencatat dana pihak ketiga (DPK) pada Mei 2022 tercatat Rp 7.266,8 triliun, atau tumbuh 10,1% (yoy). Pertumbuhan ini melandai dibandingkan April yang tercatat 10,3%. Perkembangan DPK terutama disebabkan oleh perlambatan tabungan dan simpanan berjangka tetapi tabungan giro meningkat.


Bank Mandiri mencatat Mandiri Spending Index (MSI) pada Mei 2022 mencapai 159,9 atau tertinggi selama pandemi Covid-19. Namun, MSI melemah pada awal Juni menjadi 130,7. Bank Mandiri mengatakan penurunan konsumsi sudah terekam setelah Lebaran.


"Tingkat belanja semua kelompok penghasilan mengalami normalisasi, dan saat ini kembali berada di level pra-Ramadan," tutur Bank Mandiri dalam laporan Consumer Spending Update: Solid Spending Growth amid Rising Prices.


Kenaikan harga dan inflasi juga sudah mempengaruhi laju konsumsi. Pada sejumlah kelompok pengeluaran, kenaikan harga-harga diikuti oleh perlambatan pertumbuhan konsumsi seperti pada komoditas makanan, minuman, dan tembakau.


Sebagai catatan, inflasi melonjak 0,95% (month to month/mtm) pada April sebelum melambat pada Mei menjadi 0,4% (mtm). 


"Pertumbuhan belanja terkait dengan makanan, jasa penyediaan makanan/minuman (restoran) dan juga perlengkapan rumah tangga mengalami perlambatan seiring dengan akselerasi kenaikan harga," tulis Bank Mandiri.


Dilansir dari CNBC Indonesia menunjukkan harga kebutuhan pokok mulai dari susu, mie instan, hingga sabun mandi naik drastis.


Di gerai ritel, mie instan Indomie kini dijual dengan harga Rp 2.900 per bungkus, lebih mahal Rp 200 dibandingkan pada 20 Maret lalu. Indomilk susu cair UHT full cream kemasan 250 ml dibanderol Rp 6.100 per pak, padahal pada 20 Maret lalu masih Rp 5.000.


Sabun mandi cair Lux refill Magical Orchid 400 ml sekarang dijual dengan harga Rp 32.900, padahal pada 20 Maret lalu kemasan 450 ml dijual dengan harga Rp 27.050.


Dibandingkan Mei, pada Juni sudah terjadi penurunan belanja masyarakat untuk restoran, supermarket, travel, hiburan, perhiasan, dan fashion. Namun, belanja untuk perlengkapan rumah tangga dan kebutuhan medis mengalami kenaikan.


"Proporsi belanja medical kembali meningkat, tertinggi sejak kasus Omicron," tulis Bank Mandiri.


Bank Mandiri juga mencatat terdapat perbedaan pola konsumsi masyarakat terhadap kenaikan inflasi. Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan tinggi akan langsung mengerem belanja jika ada kenaikan inflasi. Sebaliknya, kelompok berpenghasilan menengah justru tidak mengurangi belanja.


"Ini membuktikan jika konsumsi Indonesia lebih banyak didorong oleh kelompok menengah," tutur  Head of Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono, pekan lalu.


Merujuk pada data Mandiri Spending Index, masyarakat berpenghasilan rendah langsung mengurangi belanja untuk sejumlah pos pengeluaran begitu ada kenaikan harga. 


Di antaranya adalah untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga, kelompok peralatan informasi dan komunikasi, serta pakaian dan alas kaki.


Pos pengeluaran yang tetap tinggi adalah untuk jasa angkutan penumpang dan pengoperasian peralatan transportasi pribadi.


Untuk masyarakat berpenghasilan menengah atas, mereka akan melakukan pengurangan konsumsi untuk sejumlah pos belanja saat inflasi naik. Di antaranya adalah kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin, kelompok kesehatan, dan kelompok rekreasi, olahraga dan budaya.


Sebaliknya, kalangan berpenghasilan menengah tidak mengerem konsumsi untuk semua kelompok pengeluaran. (CNBC/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini