Platform Jual Beli Mobil Baru dan Bekas

Platform Jual Beli Mobil Baru dan Bekas

Cabai Merah Makin Pedas, Tembus Rp 100 Ribu Per Kilogram

Aris Rinaldi Nasution
Senin, 13 Juni 2022 - 17:24
kali dibaca
Ket Foto : Pedagang cabai di Pasar Halat Medan mengaku kewalahan dengan melonjaknya harga cabai merah di pasaran.

Mediaapakabar.com
Harga cabai merah di Kota Medan pada hari ini, Senin (13/6/2022) menembus angka 100 ribu per kilogram. Meskipun harga cabai merah diperdagangkan beragam mulai dari 85 hingga 100 ribu per kilogram, namun kenaikan harga cabai merah tersebut kian membenamkan daya beli masyarakat. Bahkan, yang paling parah masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang tinggal di wilayah perkotaan.

Faktor pemicu kenaikan harga cabai di wilayah Sumut tidak terlepas dari kenaikan harga cabai di wilayah Jawa yang sudah terlebih dahulu menembus angka 100 ribu per kilogram. Sehingga para agen atau pedagang besar berlomba lomba untuk membeli cabai merah dari banyak wilayah. Alhasil harga cabai di banyak wilayah terkerek naik mengikuti harga cabai di pulau jawa.


Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, dari hasil kajiannya, masyarakat menengah kebawah dengan 4 orang anggota keluarga membutuhkan 1 kilogram cabai untuk memenuhi kebutuhan selama dua pekan. Kalau sebulan sekitar 2 kilogram, dan rata rata harga cabai di bulan Mei adalah 31 ribuan per kilogram (sampel wilayah Sumut), maka ada potensi tambahan pengeluaran sekitar 140 ribu per bulan hanya untuk cabai saja.


"Dari hasil temuan saya, masyarakat ekonomi menengah ke bawah di perkotaan itu menghabiskan sekitar 30 ribu hingga 40 ribu per hari (tahun 2021) untuk memenuhi kebutuhan sayur mayur, sambal dan lauk. Diluar beras, listrik, pulsa, LPG, BBM, jajan anak-anak, rokok, sewa rumah, hingga cicilan. Dan yang menjadi persoalan adalah yang naik belakangan ini bukan hanya cabai merah saja," katanya di Medan.


Untuk cabai rawit, cabai hijau, daging dan telur ayam, produk turunan kedelai seperti tahu dan tempe, sayur sayuran, ikan segar, tepung, rokok hingga bawang. Dengan kenaikan harga tersebut, kebutuhan pengeluaran masyarakat menengah kebawah itu naik setidaknya 10 ribu per harinya. Artinya saat ini masyarakat menengah bawah butuh 40 ribu hingga 50 ribu per hari.


Atau ada pengeluaran tambahan sekitar 300 ribu per bulan. Di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit dihantam pandemi, bukan perkara gampang untuk mendapatkan 300 ribu itu. Jadi ditengah kenaikan harga kebutuhan hidup tersebut, pemerintah harus mengalokasikan dana yang lebih besar untuk bantuan sosial. Anggarannya harus naik dan lebih besar dari alokasi di tahun sebelumnya.


"Kita tahu bahwa kenaikan harga kebutuhan hidup ini lebih banyak dipengaruhi oleh masalah perang, ketegangan geopolitik di banyak Negara, ditutupnya ekspor bahan pangan oleh banyak Negara, kenaikan harga energi maupun harga pangan dunia. Tetapi yang perlu dicamkan baik baik adalah bahwa kita tidak bisa main-main dengan urusan dapur. Jika garis kemiskinan Indonesia ditetapkan Rp486.168 per kapita per bulan.


Menurut Gunawan, jika satu keluarga menengah ke bawah beranggotakan 4 orang memiliki penghasilan 2 juta per bulan. Maka sekitar 1.5 juta sudah habis untuk lauk pauk saja. Jadi garis kemiskinan yang ditetapkan BPS (September 2021) jelas sudah tidak relevan lagi. Banyak masyarakat yang masuk dalam garis kemiskinan dan terjebak dalam kemiskinan ekstrim.


Pemerintah harus memprioritaskan penyelamatan masyarakat yang masuk dalam kemiskinan ekstrim tersebut. Dan masyarakat harus punya skala prioritas pengeluaran. Pengeluaran untuk Pulsa, BBM, Listrik harus ditekan (dihemat) lagi. Dan kalau bisa pengeluaran untuk rokok ditiadakan.


Lebih lanjut, pedagang di Pasar Halat Medan, Mar mengaku cukup kewalahan terkait melonjak tajamnya harga cabai merah ini. Meski begitu, permintaan dari masyarakat masih tetap ada walau ada pembeli yang biasanya beli kebutuhan sampai 1 kilogram, berkurang jadi setengah kilogram bahkan hanya ada seperempat kilogram.


"Pasokan barang tetap ada. Tapi memang dari pengambilan barang saja sudah mahal sehingga mau tak mau menjual dengan harga tinggi," ujarnya. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini