Sumut Cetak Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi Bakal Sia-sia

Aris Rinaldi Nasution
Senin, 09 Mei 2022 - 23:48
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Realisasi inflasi Sumatera Utara (Sumut) pada April 2022 yang sebesae 0,44 persen terbilang masih cukup tinggi. Meskipun besaran inflasi tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan nasional.

Namun, besaran inflasi sebanyak itu membuat inflasi tahun berjalan Sumut mendekati 2 persen (1,99 persen). Padahal, inflasi sebesae itu baru dilalui selama 4 bulan dan menyisahkan 8 bulan lagi hingga tutup akhir tahun.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, jadi besaran inflasi Sumut ini nantinya bisa ditutup dikisaran 3 hingga 4 persen atau berada diambang batas target inflasi Bank Indonesia (BI). Sementara yang akan kita hadapi ke depan adalah kenaikan bunga acuan global, harga energi yang mahal, harga pangan global yang juga bertahan mahal. Hal itu nantinya akan membuat sejumlah harga yang diatur pemerintah maupun harga-harga kebutuhan lain berpeluang menyesuaikan (naik harganya).


"Jadi 8 bulan tersisa nanti akan benar-benar membuat ekonomi Sumut dalam tekanan, khususnya jika dikaitkan dengan pengendalian inflasi dan masalah lain muncul karena pertumbuhan ekonomi Sumut secara kuartalan (kuartal 1 2022 terhadap kuartal 4 2021) justru minus 0,13 persen. Jika membandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Sumut secara year on year memang naik sebesar 3,9 persen, tetapi membandingkan periode yang sama (kuartal 1 2022) saat ini, dengan tahun lalu (Kuartal 1 2021) saya nilai tidak relevan," katanya di Medan, Senin (9/5/22).


Gunawan menjelaskan, mengingat tahun lalu masih ada pandemi yang membuat aktifitas ekonomi masyarakat terkekang, jadi lebih relevan kalau membandingkan kuartal 4 2021 dengan kuartal 1 2022. Terlihat sekali bahwa motor penggerak ekonomi yang membaik lebih didominasi oleh konsumsi selama hari besar. Kuartal kedua tahun ini bisa saja ekonomi tumbuh 7 persen karena ada ramadan dan lebaran, tetapi pertumbuhan tersebut tidak akan mampu dipertahankan di kuartal selanjutnya.


 "Jika nantinya pertumbuhan ekonomi 2022 di akhir tahun hanya berkisar 3 persen hingga 4 persen sementara inflasi juga berada di kisaran 3 persen hingga 4 persen. Sumut jelas tidak mendapatkan apa-apa. Buat apa ekonomi tumbuh tapi inflasi juga tinggi angkanya. Pertumbuhan ekonomi Sumut bakal sia-sia. Sumut mengalami laju pertumbuhan yang stagnan alias tidak bergerak. Dampak resesi ekonomi yang diakibatkan pandemi masih saja dirasakan oleh masyarakat SUMUT sampai detik ini," jelasnya.


Untuk itu kita berharap pada pemerintah pusat maupun daerah agar sesegera mungkin membelanjakan anggaran pembangunannya. Kita juga mendesak agar Presiden Jokowi segera membuka kran ekspor CPO yang menjadi komoditas unggulan Sumut. Selain itu, masyarakat saat ini juga masih berharap agar ada cara lain supaya kenaikan harga pangan dan enerji dunia tidak lantas membuat harga BBM maupun harga kebutuhan di tanah air naik tajam.


"Saya yakin, pemerintah masih akan mengandalkan bansos atau bantuan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat. Sayangnya motor penggerak ekonomi lainnya setelah Idul fitri ini diperkirakan akan terbebani dengan kemungkinan kenaikan biaya hidup hingga tutup akhir tahun," ujarnya. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini