Selama Larangan Ekspor CPO, Petani Sawit di Jambi Rugi Rp 900 Miliar

Aris Rinaldi Nasution
Sabtu, 21 Mei 2022 - 13:22
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi. (Antara) 

Mediaapakabar.com
Presiden Joko Widodo memutuskan untuk mencabut larangan ekspor Crude Palm Oil (CPO) cs mulai Senin mendatang. Dibukanya keran ekspor CPO ini diumumkan secara langsung oleh Jokowi.

Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Jambi, Kasriwandi, mengucapkan rasa terimakasih kepada Presiden atas upaya mencabut larangan ekspor CPO itu. Kasriwandi mengaku selama larangan ekspor CPO tersebut dilakukan, 30 persen petani yang enggan panen sudah merugi hingga Rp 900 miliar.


"Kita pertama kali mengucapkan rasa terimakasih banyak kepada bapak Presiden, tentu dengan dibuka kembali ekspor CPO ini bisa menambah daya semangat para petani sawit lagi, namun yang penting ini tentu harus dikawal kebijakan ini. Akan tetapi yang perlu harus diketahui pula, selama larangan ekspor CPO itu diberlakukan, 30 persen petani sawit yang enggan panen sudah merasa rugi hingga Rp 900 miliar ya," kata Kasriwandi dikutip dari detikcom, Sabtu (21/5/2022).


Diterangkan Kasriwandi, bahwa kerugian petani sawit Jambi itu terjadi bentuk kekecewaan mereka selama larangan ekspor CPO diberlakukan. Apalagi keinginan para petani yang enggan panen dan membiarkan buah sawit mereka membusuk di pohon juga lantaran harga TBS yang terjun bebas.


"Seperti yang saya sebutkan kemarin, selama larangan CPO itu berlaku, harga TBS ini kan juga anjlok. Maka dari itu ada 30 persen petani sawit Jambi yang enggan mau panen dan biarkan buah sawit mereka membusuk di pohonnya. Ini kan karena harga TBS yang anjlok. Ketimbang panen juga tidak ada untung, lebih baik biarkan saja membusuk," ujar Kasriwandi.


Dari 30 persen petani sawit di Jambi yang enggan panen itu diterangkan Kasriwandi tercatat hampir 300 ribu ton sawit mereka yang dibiarkan di pohonnya. Dari 300 ribu ton buah sawit itu jika di jumlahkan dengan harga TBS rata-rata Rp 2.000 per kilonya maka hampir Rp 900 miliar kerugian itu dirasakan.


"Itu yang tidak panen rugi nya sampai segitu ya. Kalau yang panen kan ada 70 persen petani sawit Jambi walaupun harga TBS turun drastis. Tetapi walaupun mereka panen sama saja mereka juga rasakan rugi, bagaimana tidak harga TBS itu saja ada yang Rp 1.500 ada juga yang Rp 1.200 per kilo, harga itu tidak menentu bagi petani yang tidak bermitra. Kalau yang bermitra harga TBS masih ikut harga Disbun yakni Rp 2.808,97, tetapi kan yang bermitra ini hanya 6 persen, 94 persennya tidak ada yang bermitra, ya rugi lah jika ekspor CPO dilarang," ucap Kasriwandi.


Dengan dibuka kembali keran ekspor CPO itu diharapkan Kasriwandi dapat menumbuhkan kembali rasa semangat para petani sawit yang ada di Jambi. Dia pun berharap jika nanti ekspor CPO ini sudah diberlakukan tentu dinilai dapat kembali meningkatkan harga TBS.


"Semoga ini tetap akan terus berlanjut, dan sejak satu hari pengumuman dibuka kembali ekspor CPO ini oleh pak Presiden, juga sudah terlihat bahwa kenaikan harga sudah terjadi mencapai Rp 150 rupiah. Ini baru diumumkan belum di sah kan, jika sudah di sah kan atau diberlakukan mungkin bisa meningkat lagi harga TBS ini dan itu tentu menjadi penyemangat bagi petani sawit," sebut Kasriwandi.


Kasriwandi yang juga merupakan petani sawit itu juga menyebutkan, sejak Presiden mengumumkan membuka kembali keran ekspor CPO beberapa perusahaan sudah menaikan harga TBS nya ke para petani. Kenaikan itu mulai dirasakan meski belum ada surat resmi cabutan larangan ekspor CPO itu.


"Walau belum ada surat resmi baru pengumuman saja oleh bapak Presiden, sudah nampak dampaknya ya. Dampak itu mulai terasa karena beberapa perusahaan ada yang sudah menaikan harga TBS ke para petani yang non mitra, mulai Rp 150 rupiah sampai Rp 200 rupiah per kilonya. Hal itu juga hampir sama dengan sebelumnya ketika pak Presiden umumkan larangan ekspor CPO harga TBS langsung amblas," ucap Kasriwandi.


Sebagai petani sawit tentu Kasriwandi juga berharap agar kebijakan Jokowi membuka kembali ekspor CPO ini bisa membuat TBS nantinya naik kembali. Dia juga meminta kebijakan baik buat petani sawit ini tidak hanya sementara.


"Harga minyak CPO dunia kan juga lagi naik, jadi jangan sampai lagi ada larangan ekspor CPO lagi. Apalagi kondisi minyak goreng juga tidak ada kelangkaan lagi dipasaran. Dengan dibukanya kembali larangan ekspor CPO ini pastinya tidak menyengsarakan petani tetapi malah sebaliknya dapat membantu para petani sawit seluruh Indonesia," sebut Kasriwandi.


Sebelumnya diketahui, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Jambi mencatat ada sebanyak 30 persen petani sawit yang memilih tidak melakukan panen setelah harga tandan buah segar (TBS) terjun bebas. Anjloknya harga TBS itu membuat petani sawit di Jambi lebih memilih membiarkan buah sawit mereka membusuk ketimbang merugi.


"Sejauh ini, belum 1 bulan kebijakan larangan ekspor CPO diberlakukan ada sekitar 30 persen petani sawit di Jambi yang memilih tidak panen, itu ya karena harga nya anjlok, jadi bukannya untung malah rugi, jadi lebih memilih buah sawit mereka busuk di batang ketimbang panen," kata Ketua DPW Apkasindo Jambi, Kasriwandi.


Kebijakan pemerintah melarang ekspor minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) membuat harga tandan buah segar (TBS) terjun bebas. Menurut Kaswandi, berdasarkan data Dinas Perkebunan Jambi, harga TBS saat ini sebesar Rp 2.808,97 ribu rupiah, harga tersebut anjlok terlalu tinggi. (DTC/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini