Kebijakan BI Tahan Bunga Acuan Berbuah Manis

Aris Rinaldi Nasution
Jumat, 27 Mei 2022 - 18:40
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Kinerja indeks bursa saham di akhir pekan ditutup menguat 2.07 persen di level 7.026,25. Kinerja mata uang rupiah juga sama, menguat tajam di kisaran 14.527 per US Dollar. Penguatan pada kinerja mata uang rupiah dan IHSG belakangan ini terjadi setelah BI sebelumnya justru menahan besaran bunga acuannya di level 3.5 persen.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, penguatan kinerja pasar keuangan domestik tidak terlepas dari hasil rapat FOMC, dimana  Bank Sentral AS atau Federal Reserve yang tidak lagi bersikap hawkish dalam meredam inflasi. Artinya bisa saja Bank Sentral AS menaikkan bunga acuannya nanti, tetapi tidak melulu agresif dalam merespon tingginya laju tekanan inflasi.


"Hasil notulensi rapat tersebut diterjemahkan sebagai bentuk sikap yang lebih bersahabat bagi pasar. Alhasil pasar keuangan global termasuk pasar keuangan domestik, umumnya berada dalam zona hijau. Hal ini mengukuhkan apa yang diambil BI sebelumnya dengan mempertahankan besaran suku bunga acuan dinilai sangat tepat," katanya di Medan, Jumat (26/5/2022).


Gunawan menjelaskan, BI yang tidak tergesa-gesa dalam menaikkan bunga acuan tidak memicu tekanan. Karena AS justru memberikan sinyal yang lebih lunak dalam menghadapi inflasi. Sementara itu, harga emas terpantau tidak bergerak seiring dengan notulensi rapat The FED. Harga emas dunia terpantau sedikit menguat pada hari ini di level $1.858 per ons troy.


"Dengan mengacu mata uang Rupiah di kisaran 14.527 per US Dolar, maka harga logam mulia dalam Rupiah berada di kisaran 870 ribu per gram. Kinerja harga emas dalam mata uang Rupiah relative tidak beranjak jauh. Hal ini dikarenakan ada penguatan mata uang rupiah terhadap US Dollar, sehingga kenaikan harga emas global terdiskon dengan penguatan Rupiah tersebut," jelasnya. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini