Platform Jual Beli Mobil Baru dan Bekas

Platform Jual Beli Mobil Baru dan Bekas

Alasan Harga CPO Dunia 'Adem Ayem' Usai Larangan Ekspor Jokowi

Aris Rinaldi Nasution
Rabu, 04 Mei 2022 - 18:16
kali dibaca
Ket Foto: Presiden Jokowi melarang ekspor CPO dan bahan baku minyak goreng sejak Kamis (28/4). Namun, hingga kini belum ada lompatan harga yang berarti. (REUTERS/Willy Kurniawan).

Mediaapakabar.com
Sudah hampir sepekan Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi melarang ekspor CPO sejak Kamis (28/4/2022) lalu.

Namun, harga CPO internasional belum loncat 'selangit' seperti yang diperkirakan. Padahal, RI merupakan produsen CPO nomor wahid di dunia.

Mengutip Trading Economics, pada perdagangan Jumat (29/4/2022), harga CPO naik 2,75 persen dari 6.920 ringgit menjadi 7.105 ringgit.


Menurut Pengamat Komoditas sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, harga CPO internasional masih 'adem ayem' karena pasar CPO internasional yang mengacu pada bursa Malaysia tutup. 


Penutupan perdagangan karena libur Idul Fitri sejak Senin (2/5/2022) hingga Senin selanjutnya (9/5/2022) mendatang.


"Pas kebetulan tanggal 28 April larangan ekspor efektif tapi cuma 29 April pasar buka, setelah itu tutup. Mungkin, seandainya buka pasar, meloncat harganya," ujarnya dikutip dari CNNIndonesia.com, Rabu (4/5/2022).


Oleh karena itu, ia menilai efektivitas kebijakan larangan ekspor dalam mendongkrak pasar internasional belum terlihat. Melihat 'kebetulan' itu, Ibrahim tidak heran harga CPO internasional belum melompat.


"Artinya apa? Tertolong libur hari raya Idul Fitri sehingga pasar sedikit lebih stagnan," imbuhnya.


Ketika pasar kembali buka, Ibrahim memproyeksikan harga CPO akan naik (gap up) pada pembukaan perdagangan Senin nanti di kisaran 100 poin atau menjadi 7.205 ringgit dari posisi penutupan 7.105 ringgit.


Namun, ia memprediksi kenaikan tak akan berlangsung lama dan akan terjadi penurunan. Ibrahim proyeksi harga CPO akan ditutup di kisaran 7.155 ringgit atau naik 50 ringgit dari harga penutupan.


"Kemungkinan besar akan terjadi gap up, tapi kembali turun. Misal kita lihat Bursa Malaysia pada saat harga CPO kontrak Juli 7.105 ringgit bisa saja melompat ke 7.205 ringgit, tapi akan balik lagi ke 7.155 ringgit," tandasnya.


Sebelumnya, Jokowi melarang ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng mulai Kamis (28/4). Pemerintah sempat merevisi bahwa larangan cuma berlaku untuk RBD palm olein alias CPO yang sudah setengah olah dan bisa dijadikan minyak goreng.


Tapi sehari kemudian, pemerintah memutuskan larangan ekspor berlaku mulai dari CPO hingga produk hilir lainnya, seperti minyak goreng. (CNNI/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini