Sidang Oknum Eks Satgas Cakra Buana PDIP Aniaya Anak di Bawah Umur, Hakim Minta Terdakwa Akui Kesalahan

Aris Rinaldi Nasution
Rabu, 13 April 2022 - 19:06
kali dibaca
Ket Foto : Terdakwa penganiaya remaja dibawah umur, Halpian Sembiring saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Medan, Rabu (13/4/2022).

Mediaapakabar.com
- Sidang perkara penganiayaan anak dibawah umur, AFL (17) atas nama terdakwa Halpian Sembiring Meliala, Eks Satgas Cakra Buana PDIP kembali berlanjut di ruang Cakra IV Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (13/4/2022).

Dalam sidang beragendakan keterangan terdakwa itu, Halpian Sembiring yang sempat berdalih hanya menepis peci korban diminta majelis hakim mengakui kesalahannya. Pasalnya meski video aksi pemukulan itu sempat viral, terdakwa mengaku hanya menepis peci korban.


Keterangan yang disampaikan terdakwa dalam persidangan dinilai majelis hakim sangat bertolak belakang dengan fakta yang ada dari hasil rekaman kamera CCTV dan hasil visum korban. "Saya tepis pecinya sekali, karena bicaranya kurang sopan waktu itu," kata Halpian saat menjawab pertanyaan Jaksa Penuntut Umum.


Mendengar jawaban tersebut, anggota majelis hakim, Syafril Batubara kemudian menyela keterangan yang disampaikan terdakwa dengan fakta yang diketahui majelis. "Pipi (korban) nya bengkak, apanya yang saudara pukul? saudara bilang pecinya yang saudara pukul, tapi pipinya bengkak?," ketus hakim Syafril Batubara. 


Anggota majelis hakim, Syafril kemudian kembali mencecar terdakwa dengan pertanyaan serupa. "Ada kamu pukul?," tanya hakim Syafril. Terdakwa Halfian pun menjawab pertanyaan itu dengan isyarat tubuhnya. "Ada," jawab terdakwa sembari menganggukkan kepala.


Majelis hakim yang mendengar jawaban terdakwa saat menjawab pertanyaan jaksa penuntut umum kemudian memberi penegasan agar terdakwa mengakui kesalahannya atas perbuatan yang dilakukan terhadap korban.


"Lebih bagus saudara akui saja kesalahan saudara. Saya sudah melihat kok video itu apalagi sempat viral, semua orang sudah tau. Lebih lima kali saudara pukul korban, setau saya enam kali. Malah saudara sampai mengejar korban masuk ke dalam," cecar Syafril Batubara.


Hakim lantas mempertanyakan apakah setelah penganiayaan itu terdakwa ada melakukan itikad perdamaian dengan korban, namun hal itu diakui terdakwa hanya dilakukan sebatas upaya menemui keluarga korban meski tak berhasil bertemu. "Secara tertulis belum ada yang mulia," aku Halpian. 


Setelah mendengarkan keterangan terdakwa, majelis hakim yang diketuai Ahmad Sumardi kemudian menunda persidangan untuk dilanjutkan hingga pekan depan. 


Majelis hakim memberi kesempatan  kepada jaksa untuk membacakan tuntutannya. Jaksa lalu meminta waktu dua minggu untuk menyiapkan tuntutan terhadap terdakwa. (MC/DAF)

Share:
Komentar

Berita Terkini