Platform Jual Beli Mobil Baru dan Bekas

Platform Jual Beli Mobil Baru dan Bekas

Passion, 40 Hari Penghayatan Penderitaan Yesus untuk Sukacita

Aris Rinaldi Nasution
Kamis, 14 April 2022 - 20:58
kali dibaca
Ket Foto : Sekretaris Eksekutif Akademi Lutheran Indonesia, Pdt (Emeritus) Bonar H Lumban Tobing dalam salah satu pelayanan acara ibadah.


Mediaapakabar.com
Perayaan Paskah merupakan salah satu perayaan penting bagi umat Kristiani. Sebelum memasuki perayaan ini, ada hari - hari perenungan yang merupakan tradisi gereja sejak berabad - abad. 

Hari - hari persiapan yang disebut dengan Minggu - minggu Passion. Ada juga yang menyebutnya Minggu - minggu Sengsara.


Masa ini berlangsung 40 hari sebelum Hari Kebangkitan. Ingin tau bagaimana penjelasan 40 hari tersebut, berikut wawancara detikcom dengan Sekretaris Eksekutif Akademi Lutheran Indonesia, Pdt (Emeritus) Bonar H Lumban Tobing.


Bonar mengatakan bahwa 40 hari Masa Passion pada intinya adalah perenungan yang lebih intensif akan penderitaan Yesus, untuk membawa umat untuk sukacita dalam perayaan kebangkitan.


Jumlah 40 hari Masa Passion itu merujuk pada masa puasa dalam Alkitab. Pada awalnya, Masa Passion dijalani juga sebagai masa puasa oleh umat kristiani. Puasa itu dilaksanakan selama 40 hari, namun tidak termasuk pada hari Minggu, karena hari minggu merupakan hari suka cita.


"Ini sudah tradisi gereja sejak lama. Dulu satu gereja. Ketika masih satu gereja itu sudah dilakukan," jelasnya dikutip detikcom, Kamis, 14 April 2022.


Memang dalam Kekristenan Puasa tidak diperintahkan, tetapi bisa dilakukan asal tidak terlihat. Cara menjalankan puasa pun bebas. Puasa yang demikianlah yang dilaksanakan dalam merenungkan penderitaan Yesus selama 40 hari.


Lelaki yang saat ini sebagai dosen Agama dan Etika Kristen di Institut DEL, Laguboti ini menuturkan bahwa pada masa lalu di Eropa ada anjuran untuk berpantang daging selama 40 hari sebagai tanda sedang puasa. Hanya makan ikan atau makanan jenis vegetarian.


Karena daging dulunya simbol sukacita, enak dan mahal. Tradisi ini menyatu dengan budaya menyongsong musim bunga. Contohnya di Eropa hari Minggu sebelum hari pertama puasa, masyarakat akan memuaskan diri memakan daging. Membuat arak - arakan, menabur bunga, membagikan permen. Itu disebut karnaval atau ucapan selama tinggal pada daging.


Cara menentukan Masa Passion ini adalah, menghitung 40 hari sebelum hari kebangkitan tanpa memasukkan hari Minggu. Akan ada 6 hari Minggu di sekitar 40 hari itu. Maka akan ditemukan hari pertama Masa Passion itu pada sebuah hari Rabu.


Kebaktian pada hari pertama Minggu Passion di Indonesia pada mulanya tidak lazim untuk sebagian gereja. Namun dikenal oleh gereja Katolik, Lutheran dan beberapa gereja lain.


"Kebaktian hari pertama Passion itu berupa kebaktian pengakuan dosa. Dalam Perjanjian Lama tanda pengakuan dosa itu adalah menaruh abu di kepala. Gereja Kristen kemudian memakainya sebagai tradisi di mana abu dioleskan di dahi pada kebaktian hari pertama" jelasnya.


Itulah Rabu Abu. Di Indonesia kebaktian seperti ini kembali digunakan oleh gereja - gereja Kalvinis. Awalnya dimulai oleh di sejumlah Sekolah Tinggi Teologia (STT) di Jawa. Kemudian beberapa gereja menggunakannya seperti Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Protestan di Indonesia Barat (GPIB) dan beberapa gereja lain, khususnya Kalvinis.


Tradisi itu berkembang dibeberapa gereja lain seperti Metodis dan termasuk sebagian dari gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Untuk HKBP sendiri kegiatan ini tidak dilarang, namun tidak dianjurkan.


"Banyak orang keberatan karena dinilai mirip Katolik atau keberatan karena tidak pernah terjadi. Puasa dalam Masa Passion tidak dikenal HKBP tetapi Bakti Paskah, sumbangan warga jemaat untuk diakonia gereja, dikenal" jelasnya.


Sekretaris Eksekutif Akademi Lutheran Indonesia, Pdt (Emeritus) Bonar H Lumban Tobing dalam salah satu pelayanan acara ibadah. Foto: Istimewa

Sumbangan itu sendiri sebenarnya adalah bagian dari Masa Puasa, di mana jemaat selama 40 hari mengekang diri. Pengertian pengekangan diri ini adalah meninggalkan kebiasaan - kebiasan lazim seperti pesta dan hiburan.


Maka uang yang semestinya digunakan untuk kebiasaan itu, ditabung lalu dikumpulkan. Kemudian diberikan sebagai Bakti Paskah. Maka Bakti Paskah adalah ujung dari Masa Puasa. Tetapi di Gereja-gereja bekas asuhan Zending Barmen Jerman


"Dilingkungan HKBP sendiri tidak diperkenalkan puasa. Namun ujung dari puasa diperkenalkan. Mungkin para missionari tidak mau menyebut puasa, walau sesungguhnya di aliran Lutheran puasa itu tidak dipersoalkan," katanya.


Minggu terakhir dari Masa Passion yang 40 hari itu, sangat penting dirayakan. Minggu itu disebut minggu palmarum atau minggu palem. Masa ini mengenang Yesus masuk ke Yerusalem disambut dengan daun palma. Di gereja - gereja Lutheran, Katolik dan sejumlah gereja Kalvinis minggu ini diterjemahkan sebagai awal Minggu Kudus.


Mantan dosen STT HKBP Pematang Siantar ini menambahkan bahwa Minggu Kudus itu sejak minggu palmarum hingga Sabtu berikutnya sebelum Paskah. Minggu ini memuat tiga perayaan penting yaitu Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu.


"Pada awalnya di pada tiga hari ini ada ibadah yang intensif terus menerus. Itu disebut sebagai triduum dan di Indonesia diterjemahkan sebagai Tiga Hari Suci. Perayaan pertama adalah hari Kamis. Di HKBP disebut dalam buku ibadahnya sebagai hari penetapan perjamuan kudus. Pada hari Kamis itulah Yesus menetapkan perjamuan kudus pada murid - muridNya," ujarnya.


Dalam Alkitab diberitakan, pada hari Kamis itu Yesus pergi berdoa ke Getsemane dan berdoa disana. Namun murid - murid Yesus tertidur. Sekarang Gereja mengatakan bahwa umat Kristiani mengenang Yesus di Getsemane tetapi bangun untuk berdoa.


Maka Kamis penetapan perjamuan ini merupakan waktu doa untuk gereja, yaitu doa syafaat. Hal ini tidak diperintahkan dan tidak dilarang. Namun itu ada. Itulah hari pertama dari tiga hari suci.


Hari kedua disebut Jumat Agung. Jumat Agung pada awalnya dalam kebiasaan gereja memuat kebaktian 5 kali, mengikuti jam-jam doa harian. Pelaksanaan ibadah ini mengikuti waktu-waktu yang dilalui Yesus pada hari Jumat itu.


Pukul 6 Yesus di depan Kayafas, pukul 9 di depan Pontius Pilatus, pukul 12 tergantung di Salib, pukul 3 Yesus mati, pukul 6 sore Yesus diturunkan dari salib. Sejumlah Gereja protestan masih melakukan lima kali kebaktian ini di Eropa.


"Untuk mengenang semua itu dibuat kebaktian. Namun sejumlah gereja sudah melakukan perubahan. Contohnya di HKBP sudah dilakukan kebaktian jam 2 yakni Ibadah Hening (Ulaon na Hohom) hingga pas di pukul 3 itulah mengenang Yesus menghembuskan nafasnya," paparnya.


Hari ketiga disebut Sabtu Sunyi atau Sabbat Termulia atau Hari Sabtu Kudus. Sejumlah gereja melakukan kebaktian khusus untuk hari itu. Jika melihat perkembangan saat ini, Gereja protestan itu berubah.


Banyak dari gereja tidak lagi melaksanakan tradisi ini secara resmi. Namun beberapa gereja di Indonesia sejak 20 tahun belakangan ini mulai menjalankannya. Sabtu sunyi ini merupakan hari mengingat Yesus di dalam kubur. Seperti Yunus di dalam perut ikan.


Karena itu dalam kebaktian di masa ini akan dibacakan berita tentang Yunus. Doa Mazmur yang diucapkan Yunus di dalam perut ikan adalah doa yang indah. Dan dalam ibadah ini Mazmur itu didoakan, diibaratkan doa Yesus dalam kubur.


Sabtu Sunyi ini merupakan hari ke 40 Masa Passion. Ibadah pada Sabtu Sunyi ini sejajar dengan ibadah hari pertama Passion, yaitu ibadah pengakuan dosa.


Selanjutnya adalah perayaan Paskah pada hari Minggu Subuh. Paskah itu dimulai dengan perayaan mengingat detik - detik kebangkitan Yesus. Detik - detik itu sebagaimana dibaca dalam kitab Injil, yakni perempuan - perempuan datang dan murid murid datang kekuburan.


Pada waktu hari kebangkitan ini, bagi Protestan di Indonesia selalu ada kebaktian subuh. Di Sumut, khususnya bagi gereja-gereja merupakan bekas dari penginjilan Jerman, awalnya itu dirayakan di kuburan. Tetapi sesudah kurang lebih 100 tahun di jalankan, banyak pihak keberatan.


"Ibadah di kuburan inikan dilakukan bersama - sama. Sekalipun perkuburan itu bukan milik keluarganya warga lain ikut beribadah di sana. Tujuannya untuk merenungkan kebangkitan Yesus dan simbol pengikut kristus yang mati di dalam Yesus ikut bangkit," jelasnya.


Tetapi dinilai ada penyimpangan ketika jemaat datang dan mengelilingi kuburan keluarganya, bukan lagi kebaktian bersama, dan ada kebiasaan kuno berlangsung di sana. Maka dia dilaksanakan di Gereja. Jemaat tetap bersukacita dalam Kebaktian Subuh ini, sesudah menjalani 40 hari Masa Passion. (DTC/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini