Platform Jual Beli Mobil Baru dan Bekas

Platform Jual Beli Mobil Baru dan Bekas

Ekspor Sawit Dilarang, Harga TBS Anjlok

Aris Rinaldi Nasution
Rabu, 27 April 2022 - 13:25
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Kabar mengejutkan datang dari sejumlah petani di wilayah Sumut yang mengeluhkan turunnya harga TBS di tingkat petani. Pada dasarnya, jika menjelang libur panjang, harga TBS kerap mengalami penurunan. Tetapi penurunan harga TBS saat ini sangat signifikan. Petani mengeluhkan harga TBS yang anjlok hingga mencapai 50 persen.

Menurut Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, dari beberapa informasi sejumlah petani, mereka mengeluhkan harga TBS turun dari kisaran 3200 per Kg menjadi 1800 per Kg saat ini di wilayah deli serdang. 


Sejumlah petani di langkat menjual sawitnya sebesar 1500 per kilogram dari kisaran harga 3000 per kilogram. Penurunan tersebut jelas bukan penurunan biasa yang terjadi saat menjelang libur panjang. Penurunan harga TBS ini lebih dikarenakan oleh kebijakan pemerintah khususnya dari Presiden Jokowi yang melarang ekspor CPO dan produk turunannya.


"Jadi pelaku pasar mengkuatirkan jika larangan tersebut nantinya benar-benar direalisasikan dalam bentuk produk aturan baru. Dan arahan Presiden tersebut mulai berlaku pada tanggal 28 April mendatang. Jadi penurunan harga TBS ini banyak dipengaruhi oleh ekspektasi dari wacana yang disampaikan oleh pemerintah sebelumnya," katanya di Medan, Selasa (26/4/2022).


Gunawan menjelaskan, untuk harga CPO sejauh ini masih bertahan mahal di kisaran 6.200 ringgit per ton. Artinya tidak mengalami penurunan layaknya penurunan harga TBS di Indonesia. 


Kalau larangan ini diskenariokan sebagai kondisi yang terburuk adalah bahwa benar-benar terjadi larangan ekspor 100 persen, maka harga CPO CPO akan naik dan harga TBS di tanah air akan terpuruk dalam.


"Petani tidak akan menikmati kenaikan harag CPO dunia, dan justru mereka mendapatkan kerugian dari penurunan harga CPO di tanah air. Tetapi saya tetap berkeyakinan bahwa pemerintah tidak akan semudah itu menutup ekspor CPO sepenuhnya. Saya yakin akan ada produk aturan baru yang lebih mengakomodatif kepentingan dunia usaha sawit," jelasnya.


Lebih lanjut, Gunawan menuturkan, karena pemerintah melarang ekspor CPO 100 persen itu akan “membunuh” industri sawit dari hulu hingga ke hilir. Saat ini tren harga komoditas dunia tengah dalam tren naik. Dan harga CPO juga naik. Di Tengah ancaman kenaikan harga energi yang memicu kenaikan biaya operasional dan produksi. Ia yakin pemerintah tidak akan bertindak gegabah.


Saat ini telah terjadi kenaikan harga pupuk, pestisida, bahan baku, hingga bahan bakar akibat perang Rusia – Ukraina. Kenaikan biaya tersebut tentunya membuat pengeluaran petani hingga pelaku usaha sawit meningkat. Seharusnya bisa dikompensasi dengan kenaikan harga CPO dunia.  


"Jadi saya berharap pemerintah bisa bersikap arif dalam memberlakukan pelarangan tersebut," ujarnya.


Gunawan yakin petani sawit saat ini panik. Bahkan, bukan hanya petani sawit saja yang panik, pelaku usaha olahan sawit juga sama. 


"Saya memaklumi kepanikan tersebut, tetapi jangan terlalu berlebihan menyikapi rencana pemerintah dengan kepanikan yang besar. Kita tunggu saja aturan teknis yang akan dikeluarkan oleh Menteri Perdagangan," tambahnya. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini