Aparat Diserukan Antisipasi Potensi Serangan Teror di Bulan Ramadan

Aris Rinaldi Nasution
Rabu, 06 April 2022 - 19:41
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi- Densus 88 Antiteror Polri melakukan penggerebekan di sebuah rumah di Cikarang, Jawa Barat, 29 Maret 2021. (REZAS/AFP)

Mediaapakabar.com
Detasemen Khusus (Densus) 88, Senin (4/4/2022) kembali melakukan penggeledahan di sebuah rumah yang diduga menjadi tempat operasi jaringan teroris yang berafiliasi dengan Negara Islam Indonesia NII.

Penggeledahan ini hanya berselang beberapa hari dari penangkapan 16 terduga teroris di Sumatera Barat dan serangkaian penangkapan di beberapa daerah lain.


Kepala Densus 88 Anti-Teror Irjen. Pol. Marthinus Hukom dalam konferensi pers seusai rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR akhir Maret lalu mengatakan hingga Maret saja sudah 56 teroris ditangkap.


Ia mengakui adanya tren peningkatan. Jika pada tahun 2020 ada 232 teroris yang ditangkap, pada tahun 2021 melonjak menjadi 370 orang, dan pada kuartal pertama 2022 sudah 56 orang ditangkap.


Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan kepada VOA, Selasa (5/4) mengatakan aparat keamanan harus selalu waspada menghadapi kemungkinan peningkatan serangan teror dari kelompok NII, terutama selama bulan Ramadan.


"Biasanya mereka menggunakan momen bulan Ramadan sebagai waktu yang tepat karena mereka meyakini Ramadan itu bulan yang mulia. Jadi kalau melakukan amaliyah teror di bulan itu dianggap lebih utama," kata Ken dikutip dari VOAIndonesia.com, Rabu, 06 April 2022.


Ken Setiawan mengatakan tidak benar jika kegiatan NII selama ini vakum, karena organisasi ini terus beroperasi secara diam-diam dan bisa saja menyerang istana dan pejabat negara, termasuk kantor polisi.


NII Semakin Gencar Rekrut Anggota


Berbeda dengan kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sering menggelar demonstrasi atau bicara secara terang-terangan, lanjut Ken, anggota NII pandai menyembunyikan jati diri, membaur dengan masyarakat lewat organisasi, kegiatan-kegiatan sosial. 


Pihak keluarga pun seringkali terkecoh dan tidak mengetahui jika ada kerabat yang bergabung dengan NII.


Ditambahkannya, NII kini gencar merekrut anggota melalui media sosial dan pertemanan, serta melakukan penggalangan dana. Proses perekrutan yang dilakukan oleh NII antara lain dengan menggelar acara untuk menjaring masyarakat.


Ken mencontohkan bagaimana di Lampung ada komunitas pejuang hijrah untuk mengumpulkan anak-anak muda, dan mereka yang tertarik akan diajak mengikuti kajian lanjutan secara tertutup.


Ideologi NII, ujarnya, seperti virus yang bisa memapar siapa saja. Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center menerima banyak laporan soal kegiatan bawah tanah yang dilakukan NII. Di Garut ada begitu banyak laporan dan hanya satu kecamatan yang diketahui belum dimasuki NII.


Di Lampung, sedikitnya 30 warga terpapar ideologi NII, termasuk seorang mahasiswa program pasca sarjana di sebuah universitas di Lampung yang kini menderita depresi. Ken memperkirakan 30 persen mahasiswi di sebuah universitas di Lampung sudah terjangkit ideologi NII.


Ken juga menceritakan bagaimana informasi tentang 15 orang yang diketahui terpapar ideologi NII di Sumatera Selatan, berujung dengan temuan ribuan kasus. Pekan ini Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center juga mendapat laporan dari seorang laki-laki yang tidak pernah mengetahui bahwa istrinya sudah bergabung NII selama sebelas tahun.


"(Target NII adalah) semua kalangan namun memang diprioritaskan anak muda. karena anak muda ini biasanya sedang mencari jati diri. Anak muda semangatnya sedang membara. Ketika ditawarkan hal baru apalagi bicara perubahan yang positif, banyak anak muda cepat nyangkut, cepat langsung merespon," ujar Ken.


Ken menegaskan NII menghalalkan darah semua orang yang bukan anggota NII karena mereka itu dianggap kafir, termasuk muslim yang belum bergabung dengan kelompok itu. Harta mereka dinilai boleh dicuri atau dirampok, dan bisa dipakai untuk berjihad. Ken menyebut NII adalah pemberontak yang mengatasnamakan agama karena mereka ingin mendirikan negara di dalam negara.


Densus Gerak Cepat


Densus 88 beberapa waktu lalu telah menangkap 21 tersangka teroris, di mana lima orang tekait jaringan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) dan 16 lainnya adalah bagian dari jaringan Negara Islam Indonesia (NII).


Dari operasi penggeledahan sebuah rumah yang diduga tempat operasi jaringan teroris NII di Perum Banjar Wijaya, Tangerang, Minggu (34), polisi menemukan beberapa notebook, laptop, senjata tajam, buku konsep revolusioner dan buku-buku sistem pertahanan non militer.


Kepala Biro Penerangan Masyarakat Kepolisian Republik Indonesia (Polri) Komisaris Besar Ahmad Ramadhan menjelaskan dirinya belum mendapat informasi lebih rinci terkait penggeledahan itu dari Densus 88.


“Saya belum dapat informasi nanti kalo ada akan saya sampaikan,” kata Ramadan.


Namun ia menggarisbawahi Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri akan melakukan pendalaman terhadap mereka yang telah ditangkap untuk mengungkap lebih jauh jaringan teror di Indonesia. (VIC/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini