Jelang Ramadan, Harga Minyak Goreng Tak Terkendali

Aris Rinaldi Nasution
Senin, 21 Maret 2022 - 19:56
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Menjelang puasa di bulan Ramadan, harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat masih bertahan mahal. Dari sejumlah komoditas sembako yang diperdagangkan hari ini, daging ayam dan cabai merah terpantau mengalami penurunan. 

Adapun hasil pantauan di pasar tradisional di Kota Medan, harga cabai merah turun di kisaran harga Rp47.000 hingga Rp50.000 per kilogram (pantuan PIHPS). Sedangkan harga daging ayam turun dan dijual dikisaran harga Rp30.000 hingga Rp32.000 per kilogram.


Namun, harga minyak goreng justru mengalami peningkatan harga yang cukup signifikan. Harga minyak goreng curah dijual dikisaran harga Rp18.000 per kilogram dan harga minyak goreng kemasan dijual di atas Rp20.000 per liternya. Harga minyak goreng seakan tak terkendali setelah pemerintah mencabut HET untuk minyak goreng.


Terkait hal tersebut, Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, saat ini harganya terus melambung, bahkan harga minyak goreng curah yang ditetapkan pemerintah di harga 14 ribu per kilogram belum terlihat sejauh ini. Minyak goreng sampai hari ini masih menjadi polemik. Dan seakan belum berkesudahan sekalipun presiden sudah menetapkan harga eceran minyak goreng curah.


"Harga minyak goreng seakan kembali lagi sebelum pemerintah khususnya kementerian perdagangan memberlakukan HET baru untuk meredam gejolak harga. Harga minyak goreng saat ini tak ubahnya seperti harga saat awal januari yang bergerak di kisaran Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribuan per liternya," katanya di Medan, Senin (21/3/2022).


Gunawan menuturkan, lagi-lagi masyarakat miskin yang akan dirugikan dengan kenaikan harga minyak goreng tersebut. Dia meminta agar pemerintah segera merealisasikan kebijakan baru terkait minyak goreng 14 ribu per kilogram.  Jika harga saat ini berlanjut terus dan masyarakat tetap mengantri untuk mendapatkannya. Maka pada dasarnya kerugian yang ditimbulkan akibat kenaikan harga tersebut bukan hanya dari sisi nominal saja.


"Tetapi masyarakat juga kehabisan waktu serta energi yang harus terbuang percuma. Dalam bahasa ekonomi opportunity cost nya terlalu besar untuk membeli minyak goreng. Jika harga minyak goreng yang mahal saat ini juga dibarengi dengan kelangkaan, derita masyarakat kian berat. Dan sejak pemerintah menawarkan solusi belum juga mampu menuntaskan polemik minyak goreng hingga saat ini," ujarnya. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini