Israel Bingung Ambil Sikap Terhadap Puluhan Orang Rusia Berpengaruh

Aris Rinaldi Nasution
Selasa, 15 Maret 2022 - 00:27
kali dibaca
Ket Foto : Bendera Israel di Kedutaan Besar Israel di Moskow, Rusia, 18 September 2018. (AFP / Vasily MAXIMOV)

Mediaapakabar.com
Israel kebingungan mengambil sikap terhadap puluhan orang Rusia Yahudi berpengaruh menyusul keputusan negara-negara Barat untuk meningkatkan sanksi-sanksi terhadap para pengusaha yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pemerintah telah membentuk komite tingkat tinggi untuk mempertimbangkan bagaimana negara itu dapat mempertahankan statusnya sebagai surga bagi setiap orang Yahudi tanpa melanggar sanksi-sanksi menggigit yang menarget lingkaran orang dalam Putin.


Puluhan taipan Yahudi dari Rusia diyakini telah mengambil kewarganegaraan, atau status penduduk tetap, Israel dalam beberapa tahun terakhir. 


Banyak di antara mereka memiliki hubungan baik dengan Kremlin, dan setidaknya empat orang pemilik Chelsea FC Roman Abramovich, Mikhail Fridman, Petr Aven dan Viktor Vekselberg, telah dikenai sanksi internasional karena hubungan mereka dengan Putin.


Israel belum bergabung dengan sanksi-sanksi yang dijatuhkan oleh AS, Inggris, Uni Eropa, dan lainnya. Tetapi ketika perang di Ukraina berlarut-larut, dan semakin banyak negara masuk daftar pemberi sanksi, tekanan semakin meningkat terhadap Israel.


Dalam sebuah wawancara dengan stasiun TV Israel Channel 12 pada akhir pekan, wakil menteri luar negeri AS untuk urusan politik, Victoria Nuland, meminta Israel bergabung dengan kelompok negara-negara yang telah memberikan sanksi kepada Rusia.


"Apa yang kami minta antara lain adalah agar setiap negara di seluruh dunia bergabung dengan kami menjatuhkan sanksi-sanksi keuangan dan ekspor terhadap Putin. Anda tentunya tidak ingin menjadi surga terakhir bagi uang kotor yang mendanai perangnya Putin," ujarnya dikutip dari Voaindonesia.com, Senin, 14 Maret 2022.


Aaron David Miller, mantan diplomat AS, mengatakan di Twitter bahwa komentar Nuland adalah pernyataan paling keras terhadap kebijakan Israel sejak krisis dimulai atau kebijakan apa pun dalam waktu yang sangat lama.


Israel, yang menjadi surga bagi orang Yahudi setelah holokos, memberi status kewarganegaraan otomatis kepada siapapun keturunan Yahudi. Sejak bubarnya Uni Soviet 30 tahun lalu, diperkirakan 1 juta orang Yahudi dari Rusia dan bekas republik Soviet lainnya telah pindah ke Israel. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak taipan dari negara-negara bekas Uni Soviet bergabung dengan mereka.


Beberapa taipan, seperti pengusaha minyak Leonid Nevzlin, pindah ke Israel setelah berselisih dengan Putin. Beberapa lainnya mengambil kewarganegaraan, atau status penduduk tetap, Israel sebagai usaha untuk melindungi harta mereka jika mereka terbentur masalah di luar negeri. (VIC/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini