IHSG - Rupiah Ambruk, Emas Tembus 1 Juta per Gram

Aris Rinaldi Nasution
Senin, 07 Maret 2022 - 20:01
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini ditutup melemah. IHSG turun 0.86 persen di level 6.869,06. Bahkan, kinerja IHSG memburuk seiring dengan pelemahan mayoritas bursa di Asia. 

Pelemahan ini masih dipicu oleh kekuatiran dari memburuknya perang Rusia-Ukraina. Pelaku pasar terus mengkuatirkan dampak buruk yang bisa dirasakan ekonomi global dari perang tersebut.


Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, sejauh ini dampak ekonomi yang telah dirasakan adalah kenaikan harga minyak mentah dunia yang telah menyentuh 122 dolar per barel. 


Kenaikan harga energi tersebut menjadi ancaman inflasi yang menakutkan yang bisa berujung pada resesi.  Pelaku ekonomi saat ini sangat mengkhawatirkan kemungkinan buruk lain yang bisa saja terjadi pada perekonomian global akibat perang yang berkelanjutan.


"Senada dengan IHSG, kinerja mata uang Rupiah juga mengalami pelemahan pada perdagangan hari ini. Melemah sejak dibuka, Rupiah pada perdagangan sore ini di kisaran level 14.415 per US Dollar. Secara keseluruhan kinerja pasar keuangan di awal pekan dalam tekanan hebat. Meski demikian pasar keuangan domestik masih bernasib lebih baik dari kebanyakan bursa maupun mata uang di negara asia lainnya," katanya di Medan, Senin (7/3/2022).


Gunawan menjelaskan, untuk harga emas dunia sempat tembus $2.000 per ons troynya. Saat ini harga emas bertahan di kisaran $1.999 per ons troy. Kalau di rupiahkan harga emas murni dijual di kisaran 930 rupiah per gramnya. Ini adalah harga emas saat konsumen menjual emas ke butik atau toko.


Namun, jika membeli di butik atau toko emas, harga emas sudah diatas 1 juta rupiah per gramnya dan secara teknikal harga emas masih akan kesulitan untuk melewati $2.000 per ons troy. 


Butuh sentimen baru yang bisa mendongkrak harga melewati angka psikologis tersebut. Tetapi bukan tidak mungkin harga emas nantinya menembus level tersebut mengingat kondisi ekonomi yang terguncang akibat perang belakangan ini. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini