Harga Daging Sapi Naik, Pelaku UMKM Dirugikan

Aris Rinaldi Nasution
Selasa, 01 Maret 2022 - 23:14
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional di Kota Medan belakangan ini memang mengalami kenaikan. Kalau dalam 2 tahun terakhir harga daging sapi itu berkisar 115 hingga 125 ribu per kilogram, maka dalam sepekan terakhir harga daging sapi dijual dalam rentang 125 hingga 140 ribu per kilogram. Pemicunya disebabkan dari harga sapi indukan di Australia yang belakangan naik.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin menyoroti, jika sebelumnya harga sapi indukan dari Australia itu dirupiah sekitar 52 ribu hingga 54 ribu per kilograk sapi hidup. Saat ini harga sapi di Australia itu dijual dikisaran harga AUD 5.6 (5.6 Dolar Australia). 


Kalau ditambahkan dengan biaya freight dan asuransi yang sekitar $1.1 per kilo sapi hidup. Maka harga sapi bakalan itu sekitar 62 ribu hingga 64 ribu per kilogramnya sampai di Medan.


"Dari hasil pengamatan saya di lapangan, harga jual sapi setelah digemukan di Indonesia itu harganya tidak terlalu jauh dengan harga sapi saat dibeli. Tetapi perusahaan penggemukan sapi mendapatkan keuntungan itu dari bobot sapi yang bertambah. Jadi kalau dibeli dari Australia bobotnya 150 kiloan, maka setelah digemukan bobotnya menjadi sekitar lebih dari 350 kilo," katanya kepada Mediaapakabar.com di Medan, Selasa (1/3/2022).


Gunawan mengungkapkan, tentunya ada penambahan biaya penggemukan lagi. Jadi jika dihitung harga keekonomian daging sapi, maka hanya daging saja tidak termasuk tulang, kepala, kaki, ekor, kulit, isi perut, darah, dan jeroan. 


Maka berdasarkan harga sapi yang mencapai 62 hingga 64 ribu per kilonya itu bisa menciptakan harga daging sapi sekitar 110 hingga 120 ribuan per kilogram.


Bahkan, jika harga daging sapi di tingkat pedagang pengecer saat ini dijual dalam rentang 125 hingga 140 ribu itu wajar. Tetapi tentunya dikeluhkan oleh para konsumen. Pada dasarnya konsumsi daging sapi belum sepenuhnya pulih dibandingkan dengan masa sebelum pandemi. Sejauh ini, konsumsi daging sapi itu masih sekitar 50 persenan dari rata rata konsumsi sebelum pandemi.


 "Pedagang maupun perusahaan penggemukan sapi itu terbebani. Pertama dari tren konsumsi yang turun dan kedua dari kenaikan harga. Keuntungan menjadi kian tipis, atau bahkan berpeluang merugi jika mengikutkan biaya tenaga kerja, sewa lapak jualan hingga penyusutan. Nah daging sapi ini memang pada umumnya dikonsumsi masyarakat menengah atas," ujarnya.


Lebih lanjut, ada yang beranggapan kita jangan terlalu pusing dengan kenaikan harga tersebut. Anggapan tersebut tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Kita juga harus memikirkan bagaimana nasib pedagang dan pelaku UMKM. Sebab, konsumsi daging sapi di Medan, sekitar 70 persen justru dikonsumsi oleh pedagang bakso atau pelaku UMKM lain.


Sekitar 30 persen lainnya di konsumsi oleh rumah tangga, restoran, rumah makan, hotel maupun acara hajatan masyarakat. Kalau pemerintah mau menyediakan daging sapi lebih terjangkau, alternatifnya adalah mencari sapi indukan yang lebih murah, atau impor daging sapi dari negara lain. Dalam konteks kenaikan harga daging sapi saat ini, saya melihat pelaku usaha atau UMKM yang banyak dirugikan.


"Jika keluhan dari konsumen akan tetap ada, tetapi saya yakin ini biasanya dari kalangan masyarakat mampu. Tetapi saat ini kita tengah mendekati Ramadhan, konsumsi daging sapi berpeluang meningkat di hampir semua lapisan masyarakat," tuturnya. (IK)

Share:
Komentar

Berita Terkini