Ahli Beberkan 39 Tokoh Bahas Logo Halal Baru hingga Heboh di Medsos

Aris Rinaldi Nasution
Rabu, 16 Maret 2022 - 10:39
kali dibaca
Ket Foto : Logo halal baru yang ditetapkan. (Foto: www.kemenag.go.id)

Mediaapakabar.com
Kehadiran logo halal baru menuai pro kontra netizen di jagat Twitter. Di antara riuh tersebut ada 39 orang tokoh yang turut terlibat dalam percakapan tersebut, namun hanya 7 orang yang mendukung logo baru ini.

Sebelumnya Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan label halal yang berlaku secara nasional.


Surat Keputusan ditetapkan di Jakarta pada 10 Februari 2022, ditandatangani oleh Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham dan berlaku efektif sejak 1 Maret 2022.


Penetapan logo baru tersebut baru-baru ini membuat jagat maya ramai. Pembicaraan yang berlangsung sejak Jumat (11/3) hingga Senin (14/3) berisi pro kontra pada logo yang tampak seperti gulungan wayang tersebut.


Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi dalam unggahannya menjelaskan puncak perbincangan terjadi pada Minggu (13/3) yang mencapai 18.888 mention.


Perbincangan mengenai logo halal baru ini disebut Ismail turut melibatkan sejumlah tokoh. Total terdapat 39 tokoh yang terlibat dalam perbincangan tersebut, namun hanya 7 orang aatau 28 persen yang menyatakan dukungan, sementara sisanya menyatakan tidak mendukung.


"Setidaknya ada 39 tokoh yang membicarakan logo halal baru yang dikeluarkan oleh Kemenag. Dari 39 tokoh tersebut, 72 persen di antaranya, justru suarakan penolakan," tutur Ismail dalam cuitannya, dikutip dari CNNIdonesia.com, Selasa (15/3).


"Ada yang suarakan fatwa MUI tetap berjalan walaupun menggunakan logo baru dari Pemerintah," imbuhnya.


Lebih lanjut, Ismail menjelaskan secara umum ada 4 klaster netizen yang terlibat dalam percakapan ini, yakni pro pemerintah, pro Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pro oposisi, media massa, dan desain logo.


Klaster pertama pro pemerintah berisi ujaran seputar Kemenag tetapkan logo baru, sindir MUI tak punya logo halal, dan sindir MUI tak punya pemasukan.


Sedangkan klaster kedua pro MUI dan pro oposisi melontarkan cuitan seputar sindiran desain yang mirip wayang, sindiran tentang adanya etnosentris, serta menyebut desain terlalu dipaksakan.


Klaster media massa berisi ujaran seputar narasi logo halal baru, sejarah logo halal, hingga memuat pro kontra desain logo.


Kemudian pada klaster terakhir yakni klaster desain logo, cuitan berisi ujaran seputar desain ulang logo halal dan kontes pembuatan logo. (CNNI/MC)

Share:
Komentar

Berita Terkini