Manajemen PTPN III Kebun Sei Silau Terkesan Tidak Profesional dalam Perawatan Serta Penggalian Produksi TBS

Aris Rinaldi Nasution
Kamis, 17 Februari 2022 - 15:46
kali dibaca
Ket Foto : Ilustrasi.

Mediaapakabar.com
Sesuai pantauan beberapa awak Media di lokasi areal milik PTPN III Kebun Sei Silau, pada hari Rabu (16/02/2022), didapati beberapa titik daerah yang kuat dugaan jika Manajemen PTPN III Kebun Sei Silau tidak bekerja secara optimal dalam hal perawatan TM (Tanaman Menghasilkan) dan penggalian produksi.

Terbukti saat tim awak Media berada di areal afdeling II Kebun Sei silau, persisnya pada TM 2015 blok 271, tim awak Media menemukan beberapa pohon Kelapa Sawit (KS) yang tidak sesuai tata cara pengerjaannya.


Dimana ditemukan beberapa pokok Kelapa Sawit yang ditanam susulan (sisipan) yang tidak dirawat dengan benar, karena terlihat di areal rendahan tersebut tanaman sisipan (susulan) yang seharusnya sudah bisa diambil produksinya namun sangat disayangkan, Perusahaan membiarkan Tandan Buah Segar (TBS) sampai membusuk di pokok.


Selanjutnya tim juga menjumpai areal yang daerahnya rendahan yang dipenuhi dengan tukulan anak sawit pada gawangan beserta pelepah yang bersengklehan menandakan jika TM kelapa sawitnya tidak dilakukan penunasan, serta jarak tanam yang tidak sesuai aturan jarak tanamnya.


Berikutnya tim awak Media beralih ke areal tanah ratanya, di daerah ini tim awak Media melihat tidak jauh keadaannya dari 2 bulan sebelumnya saat beberapa rekan awak Media pernah menaikkan permasalahan tanaman kelapa sawit (sisipan) yang gagal berproduksi akibat tanamannya rusak berat akibat serangan hama.


Ternyata memang PTPN III Kebun Sei silau sangat tidak peka terhadap kritikan dari awak Media dengan pemberitaan, terbukti areal tanaman kelapa sawit yang di sisip itu tetap tidak mendapat perawatan khusus sehingga supaya bisa lebih bangkit pertumbuhannya, mungkin PTPN III Kebun Sei Silau lupa jika tanaman kelapa sawit yang disisip telah memakai biaya yang dianggarkan dari perusahaan, baik pembelian bibitnya juga biaya pupuk nya.


Merasa sudah cukup untuk melakukan investasi ke lapangan, tim awak Media berniat untuk ke kantor Afdeling II untuk konfirmasi ke Asistennya, namun seperti sudah diatur ternyata Asisten Afdeling II bersama timnya sebanyak 5 orang sudah menunggu di sepeda motor para awak media.


Kepada para awak Media Asisten berdalih jika tukulan anak sawit karena daerahnya adalah rendahan, sehingga sulit untuk membersihkannya, padahal areal rendahan tersebut walaupun berada di rendahan namun daerah itu tidak tergenang oleh air, dan ketika disinggung tentang tanaman sisipan yang buahnya sampai membusuk dipokok, asistennya juga berdalih dengan alasan tanaman direndahkan itu sejarahnya dulunya ditanami oleh warga yang diambil alih oleh perusahaan jadi jarak tanam dan jarak tahun tanamnya tidak sama.


Dan mengenai TBS yang dijumpai masih tercecer di TPH asistennya juga masih berdalih jika nanti diangkut, tentunya jawaban asisten sangat aneh, mengingat terhadap temuan para awak Media tidak satupun yang diakuinya sebagai kesalahan kerja, bahkan terhadap pemberitaan awak Media 2 bulan yang lalu pun asistennya masih berdalih dengan mengatakan jika buah busuk-busuk yang ditemukan dan diberitakan itu bukan milik Afdeling II tapi milik Afdeling VII kebun Sei silau.


"Buah busuk di pokok yang orang Abang temukan dan Abang beritakan itu bukan punya kami bang, tapi milik Afdeling VII bang, perengennya memang punya kami namun rendah nya punya afdeling VII," ucap Asisten Afdeling II.


Yang jelas banyaknya temuan di areal PTPN III Kebun Sei silau adalah dikarenakan perlakuan dan pengerjaan yang tidak serius dalam menanganinya, mengingat pokok kelapa sawit pada tanaman sisipan dari 2 bulan yang lalu sudah ditegur oleh wartawan tetap saja dibiarkan seperti itu, yang dibanggakan cuma beberapa pokok rusak yang di pagar yang di pinggir jalan saja yang jumlahnya baru 0.01 % dari ratusan pokok sisipan yang rusak hingga gagal panen.


Diharapkan kepada pihak Direksi PTPN III agar mengambil langkah untuk bertindak dan berbuat, jangan  ikut diam dan membiarkan BUMN mengalami angka kerugiannya. (HEN)

Share:
Komentar

Berita Terkini